breaking news New

Sosialisasi Empat Pilar MPR, Langkah Hadapi Tantangan Penggerusan Nilai Pancasila

Kupang, Kabarnusantara.net – Anggota MPR RI yang berasal dari unsur DPD RI Syafrudin Atasoge, MPd bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Integral MA Hidayatullah Kupang menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR. Sosialisasi yang diikuti sekitar 150 peserta dari Guru dan Siswa MA Hidayatullah Kupang yang berlangsung di Aula Lembaga Pendidikan Integral MA Hidayatullah Kupang, Kamis (13/4).

Dalam sambutannya Syaf menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia harus bangga memiliki Pancasila sebagai ideologi yang bisa mengikat bangsa Indonesia yang demikian besar dan majemuk. Pancasila adalah konsensus nasional yang dapat diterima semua paham, golongan, dan kelompok masyarakat di Indonesia. Pancasila adalah dasar negara yang mempersatukan bangsa sekaligus bintang penuntun (leitstar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa dalam mencapai tujuannya. Dalam posisinya seperti itu, Pancasila merupakan sumber jati diri, kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa.

Juga, pengaruh globalisasi menyebab nilai-nilai yang ada di masyarakat menjadi luntur. Dulu budaya gotong royong mewarnai masyarakat Indonesia, karena pengaruh budaya luar berubah menjadi individualis. Akibat globalisasi, semua dianggap modern, padahal kadang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Kehidupan bangsa Indonesia akan semakin kukuh, apabila segenap komponen bangsa di samping memahami dan melaksanakan Pancasila, juga secara konsekuen menjaga sendi- sendi utama lainnya, yakni Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

“Buktinya, kita masih utuh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau gagal menghadapi ujian itu maka kita sudah bercerai berai,” kata Syaf sapaan akrap Syafrudin Atasoge, MPd.

MPR melaksanakan sosialisasi empat pilar sebagai langkah antisipasi terhadap tantangan kebangsaan yang dihadapi sekarang. Tantangan kebangsaan itu baik internal maupun ekternal. Secara internal misalnya, kuatnya rasa kesukuan, kedaerahan, fanatisme, pemahaman agama yang keliru. Sehingga menimbulkan radikalisme, penegakan hukum yang dianggap tidak optimal atau tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

“Kalau masalah itu terus terjadi maka persatuan kita terancam. Oleh karena itulah MPR melaksanakan sosialisasi agar rakyat Indonesia betul-betul mencintai bangsanya, betul-betul memahami ideologi negaranya. Sehingga persatuan dan kesatuan tak tergoyahkan walaupun diganggu oleh negara-negara asing,” demikian Kata Syaf. (HWL/KbN)

2 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password