breaking news New

Aksi Mahasiswa Manggarai Tuntut Kenaikan Upah Buruh Diwarnai Kericuhan

Aksi Demonstrasi Peringati Hari Buruh Diwarnai Kericuhan, Tampak sejumlah Aparat menunjukkan jarinya kepada para demonstran yang sempat diamankan intel TNI.

RUTENG, Kabarnusantara.net – Aksi demonstrasi sejumlah elemen mahasiswa di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, dalam memperingati Hari Buruh Internasional, Senin, 1 Mei 2017 diwarnai kericuhan.

Aksi dengan tema “Hari Buruh Internasional: Tolak Upah Murah” itu awalnya berlangsung damai.

Tampak para mahasiswa yang tergabung dalam GMNI Manggarai, PMKRI Ruteng, Senat Mahasiswa STKIP St. Paulus Ruteng dan Presiden Mahasiswa STIE Karya Ruteng mengisi demonstrasi dengan aksi teaterikal yang sangat menarik.

Tampak salah seorang mahasiswa memainkan peran sebagai sang majikan pemilik perusahaan. Mahasiwa lainnya berperan sebagai buruh pikul beban.

Sang majikan tampak sesuka hati memberi upah kepada buruh pikul beban di perusahaannya. Ada yang dibayar Rp 20.000 per hari dan ada yang dibayar Rp 10.000 per hari.

Sang narator Servas Jumorang yang juga Presidium Germas PMKRI Ruteng mengisahkan inilah fakta betapa buruh diperlakukan semena-mena oleh sang majikan. Upah mereka dibayar sangat murah.

“Bahkan berdasarkan data yang kami kumpulkan, ada buruh Toko di Ruteng yang gajinya dibayar Rp 250.000 per bulan,” ungkapnya bernarasi.

Pantauan Kabarnusantara.net, saat aksi teaterikal berlangsung di jalan depan Kantor Bupati Manggarai itu, aparat Polisi yang sedang berjaga-jaga tampak lengah dan menarik pasukannya dari barisan aksi mahasiswa itu.

Sesaat setelah aksi teaterikal selesai, Ketua GMNI Manggarai, Martinus Abar berorasi dan menuntut pemerintah Kabupaten Manggarai agar tanggap terhadap tuntutan mereka.

Pagar Kantor Bupati Manggarai tampak roboh.

Sementara sejumlah anggota aksi mendorong gerbang kantor Bupati Manggarai hingga roboh. Aparat kepolisian yang mengkawal aksi dari jauh tampak kecolongan. Saat pagar roboh sejumlah aparat kepolisian merangsek masuk ke barisan mahasiswa. Sejumlah aparat Polres Manggarai itu tampak berhasil mendorong dan memukul mundur para demonstran yang berjumlah puluhan itu.

Aparat Polres Manggarai tampak mendorong, menendang dan memukul demonstran.

Aksi perang mulut pun tak terhindarkan, bahkan tampak Wakapolres Manggarai, Tri Joko Biantoro yang memimpin langsung pengamanan aksi itu ikut terpancing marah. Melihat pimpinan mereka terlibat aksi perang mulut dengan sejumlah demonstran, anggota Polres Manggarai itu tersulut kemarahan, tendangan dan pukulan pun mendarat di kaki dan tubuh para demonstran.

Keributan itu sedikit mereda saat sejumlah awak media merangsek masuk dengan kamera dalam keadaan hidup merekam semua proses itu.

Orasi pun semakin gencar dilakukan, bahkan Presidium Germas PMKRI Ruteng, Servas Jumorang menyebut Bupati Manggarai tuli dan buta dengan persoalan upah buruh yang sangat murah di Manggarai.

Di dalam pernyataan sikap, para mahasiswa menyatakan sikapnya secara tegas menolak upah murah, mendesak pemerintah Kabupaten Manggarai menerbitkan SK tentang upah buruh minimum Kabupaten Manggarai dan mengawasi perusahaan-perusahaan nakal yang membayar upah buruh jauh di bawah standar Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar Rp 1.525.000 per bulan.

Mereka juga mendesak pemerintah membuat Perda Tentang Buruh dan memperbanyak balai latihan kerja yang didukung penuh pemerintah daerah dalam bentuk anggaran. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password