breaking news New

TPDI Minta Kepolisian Konsisten dan Tidak Kooperatif Dalam Mengungkap Kasus Rizieq

Jakarta, Kabarnusantara.net – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, menilai penetapan DPO dan Red Notice terhadap Rizieq Shibab merupakan bagian dari upaya paksa yang menjadi kewenangan polisional penyidik polri untuk keadilan.

Petrus juga menyampaikan agar Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya harus menunjukan konsistensinya untuk sungguh-sungguh mengungkap dugaan keterlibatan Rizieq Shihab dalam sejumlah tindak pidana yang saat ini sudah dan sedang ditangani oleh pihak Kepolisian, baik di Polda Jawa Barat, Polda Metro Jaya maupun oleh Bareskrim Polri.

“Tertunda-tundanya pemeriksaan terhadap Rizieq Shihab baik atas alasan kesehatan maupun karena kesibukan keagamaan telah menimbulkan kesan di mata publik bahwa aparat penyidik Polri terlalu kooperatif dan mengakomodir sikap Rizieq Shihab yang sering menunda-nunda memenuhi panggilan Polisi, sehingga terkesan Polri berubah fungsi menjadi lembaga Akomodatif dengan mengabaikan fungsi utamanya sebagai lembaga yang memiliki wewenang Polisional,” ujar petrus.

Petrus menambahkan, Polri telah sering mengeluarkan statemen untuk bersikap tegas, tetapi implementasinya malah bersikap kooperatif terhadap perilaku tidak kooperatif dari Rizieq Shihab.

“Sehingga yang terjadi adalah wibawa Hukum dan Penegak Hukum dipertaruhkan bahkan bisa menjadi bahan olok-olokan Rizieq Shihab dkk., sementara kepentingan masyarakat korban yang melapor tidak mendapatkan pelayanan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Menurutnya, jika Rizieq Shihab benar-benar menghindarkan diri dari upaya penyelidikan dan penyidikan atas 15 (lima belas) Laporan Polisi dari masyarakat korban dugaan tindak pidana yang diduga dilakukan Rizieq Shihab, dengan bungkusan menjalankan Ibadah Umroh atau sedang memenuhi undangan Radja Salman, maka sepanjang kepergiannya itu tidak ada koordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri atau Polda Metro Jaya, maka Bareskrim Mabes Polri atau Polda Metro Jaya harus segera menetapkan Rizieq Shihab dalam Daftar Pencarian Orang/DPO dan selanjutnya mengeluarkan Red Notice sebagai sebuah upaya paksa yang ditujukan kepada Interpol untuk dilakukan pencarian sebagai bagian dari “tindakan polisional” untuk segera membawa Rizieq Shihab ke Jakarta dalam rangka menyelesaikan perganggungjawaban pidana atas kasus-kasus yang dipersangkakan kepadanya.

“Rizieq Shihab sudah dua kali dipanggil Penyidik Polda Metro Jaya dalam kasus rekaman video percakapan Rizieq Shihab dan Firza Husein yang berbau pornografi. Dalam surat panggilan Penyidik Polda Metro Jaya beberapa waktu yang lalu baik Rizieq Shihab maupun Istrinya dan juga firza Huzein sama-sama tidak memenuhi panggilan Penyidik dan meminta dijadwal ulang karena ada halangan yang tidak bisa dielakan,” ungkapnya.

Dengan demikian, kata dia, maka Penyidik akan memanggilnya kembali dan bila tidak datang juga maka Penyidik akan melakukan upaya paksa berupa penjemputan secara paksa untuk dibawa ke Pilkada Metro Jaya guna diperiksa.

“Terkait dengan keberadaannya di luar negeri, sekiranya benar dalam rangka menjalankan ibadah agama atau memenuhi undangan Raja Salman, maka hal itu tidak cukup hanya dibuktikan, karena Rizieq Shihab seharusnya tetap koordinasi dengan Penyidik hal-hal terkait aktivitas keagamaan dan/atau undangan ke luar negeri itu, agar tidak timbul kesan mengada ada atau menghindar dari pertanggungjawaban pidana, karena Penyidik tengah fokus untuk mengungkap berbagai laporan masyarakat,” tutup Advokat Peradi tersebut. (Hipatios/KbN)

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password