breaking news New

AJO Jajaki Langkah Hukum Atas Kasus Yang Menimpa Wartawan Flores Editorial

Ruteng, Kabarnusantara.net – Awak media Cyber yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Online (AJO) sedang menjajaki langkah hukum atas fitnah keji yang menimpa wartawan floreseditorial.com di Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi NTT pada Kamis 4 Mei lalu.

Langkah hukum diambil setelah kasus itu dibedah secara saksama dengan mengumpulkan semua bukti rekaman suara wawancara dan video terkait kisruh pemberitaan antara redaksi floreseditorial.com dengan narasumber media itu di Jawang, Kecamatan Borong Manggarai Timur.

AJO pun mengklaim tidak ada yang salah dalam berita tersebut. Berita yang disajikan pun dinilai tidak menyalahi kode etik jurnalistik.

“Kita pegang rekaman wawancara lengkap dengan videonya. Mananya yang salah, semua pernyataan para pihak dimuat dalam satu berita dan ditulis berdasarkan kata nasarasumber,” Ujar Ronal Tarsan Ketua AJO di kantor LBH Ruteng Manggarai, Sabtu malam 6 Mei 2017.

Ronal juga menyayangkan bahwa bukannya menggunakan hak jawab atas pemberitaan, malah narasumber balik mengancam dan memfitnah wartawan Floreseditorial.com, Gund Darung dan Andre Kornasen.

Ronal Tarsan pun mendesak Bupati Manggarai Timur (Matim) Yosep Tote mencopot Theresia Lumu Kepala Sekolah SDK Jawang serta Aleks Nambung Kepala Sekolah SDI Tenda Tuang Kecamatan Borong. Keduanya dinilai semena-mena terhadap wartawan.

“Dua kepala sekolah itu membawa massa ke kantor polisi untuk meneror dan mengintimidasi wartawan. Jurnalis dikatai babi dan dipaksa mengaku salah lalu didenda secara sepihak. Keduanya harus dicopot dari jabatanya,” Kata Ronal di Kantor LBH Manggarai di Ruteng, Jumat malam 5 Mei 2017.

AJO bersama redaksi floreseditorial.com juga tengah menjajaki langkah hukum terhadap sejumlah pemilik akun media sosial Facebook yang menghina profesi jurnalis.

“Kita sedang kumpulkan bukti pidananya, termasuk printout postingan facebook. Kita sudah diskusi dengan kuasa hukum, itu pidana,” sambung Yos Syukur, Sekretaris AJO.

Dikatakan Yos, kuat dugaan, narasumber membawa massa ke kantor polisi untuk mengintimidasi proses mediasi.

“Niatnya untuk meneror wartawan bahkan bisa menjurus pada tindakan kekerasan,” Kata Yos sembari mengaku kecewa dengan polisi yang dinilai membiarkan massa mengintimidasi jurnalis floreseditorial di dalam lingkungan Polsek Borong.

Dalam berita yang diberi judul “Di Matim Kades Polisikan Guru Saat Hardiknas” edisi 3 Mei 2017 disebutkan pihak Theresia mengakui kesalahan dan menerima denda adat dari pihak Kades Marselus berupa uang dan babi.

Namun setelahnya, Theresia Nuhung dan Aleks Nambung menuding wartawan floreseditorial.com menulis hal yang tidak pernah diucapkan dua narasumber itu.

Media online itu pun dipolisikan. Namun pihak Polsek Borong tidak membuatkan laporan kepolisian dan memilih menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.

Dalam acara mediasi yang digelar di Polsek Borong, Kamis 4 Mei 2017 redaksi floreseditorial diposiisikan sebagai pihak yang disalahkan, meskipun pemimpin redaksi media itu menantang narasumber untuk membuktikan bagian mana di berita tersebut yang tidak sesuai fakta.

Di bawah tekanan massa yang terus berteriak dari halaman Polsek, pihak floreseditorial.com pun akhirinya menuruti saja tuntutan pihak Theresia Nuhung dan Aleks Nambung. Dua kepala sekolah itu pun mendenda redaksi floreseditorial.com dengan satu ekor babi dan uang Rp 1 juta rupiah. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password