breaking news New

Tanggapi Isu Trafficking, Ledalero Gelar Seminar Nasional

MAUMERE, Kabarnusantara.net – Menanggapi isu trafficking yang semakin ramai dibicarakan belakangan ini, khususnya di Provinsi NTT, STFK Ledalero menggelar Seminar Nasional bertempat di Aula St. Thomas Aquinas Ledalero pada Sabtu (6/05).

Acara yang pandu oleh Pater Juan Orong ini nampaknya cukup seru dengan menghadirkan dua pembicara utama yakni Sri Pallupi dan Pater Aleks Jebadu. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para dosen, pimpinan biara, para tokoh agama, wakil pemerintah, masyarakat dan ratusan mahasiswa.

Trafficking Butuh Solidaritas

Sri Pallupi dalam penjelasannya mengatakan bahwa kasus perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia khususnya di NTT sebenarnya terjadi karena banyak faktor.

Selain karena kemiskinan, pendidikan, lemahnya penegak hukum dan banyak lainnya, kasus perdagangan manusia ini juga sebenarnya terjadi karena masih banyak orang yang kurang peduli atau bersolider dan menganggapnya sebagai suatu persoalan yang perlu diatasi. Karena itu, ia mengajak para peserta seminar dan masyarakat NTT untuk mau bersolider dengan persoalan ini.

“Perdagangan manusia adalah persoalan kemanusiaan yang kompleks dan timbul karena banyak faktor. Selain kemiskinan, pendidikan, lemahnya penegak hukum dan lainnya. Masalah ini juga timbul karena kurangnya sikap solider. Karena itu saya mengajak kita semua untuk bersolider dengan para korban yang jadi korban traffiicking. Ingat, NTT butuh tangan yang tela untuk bersolider dan berkorban untuk lindungi kaum perempuan dari trafficking”, kata Sri Pallupi.

Trafficking Sebagai Kejahatan Internasional

Sementara itu, Pater Aleks Jebadu selaku pembicara dua dalam seminar tersebut mengatakan bahwa human trafficking yang terjadi saat ini sejatinya adalah persoalan global karena terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, khususnya juga di NTT.

“Masalah trafficking di seluruh dunia, termasuk di Indonesia khusunya juga di NTT, sejatinya termasuk dalam kejahatan internasional. Kejahat ini memang bertumbuh subur seiring dengan migrasi publik yang meningkat”, kata Aleks Jebadu.

Lebih lanjut ia manegaskan bahwa masalah trafficking ini bisa diatasi dengan pendidika dan sosialisasi, baik di tingkat pemerintahan maupun juga pada sokolah tinggi.

“Trafficking adalah persoalan kita bersama. Karena itu persoalan ini pun bisa diatasi dengan melakukan sosialisasi dan mengedepankan pendidikan”, lanjutnya.

Dimanakah Peran Negara?

Berbeda dengan sebelumnya, Yuni, salah satu peserta dalam seminar tersebut mengatakan bahwa yang bergerak selama ini di kabupaten Sikka hanya Truk-F saja. Sementara peran negara kurang nampak. Karena itu, ia menyatakan psimisnya dengan kinerja pemerintah dalam penanganan kasus ini.

“Sejauh yang saya lihat selama ini bahwa yang bekerja dalam penanganan trafficking di kabupaten Sikka hanya Truk-F saja. Namun peran negara kurang terlihat. Karena itu saya mau tahu dimana kah peran negara?”, kata Yuni.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya bisa buatkan Perda khusus penanganan trafficking ini dan mengimplementasikannya.

Dalam penanganan trafficking seharusnya pemerintah alokasikan dana dan buat Perda untuk penanganan trafficking” tandasnya. (Jivansi Helmut/Alfan)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password