breaking news New

Akibat Bencana, Duka Lara Semakin Mendera Keluarga Miskin Papa Ini

Lusia Indut (50) pemilik rumah berpose di samping rumahnya yang telah dihantam batu besar.

RUTENG, Kabarnusantara.net – Rumah reot sederhana berukuran 6×7 m itu sepi penghuni. Rumah yang terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu dan ruang keluarga itu berlantaikan tanah, berdinding papan dan bambu serta beratapkan seng yang tampak sudah karatan. Tampak pula sebuah lampu neon menerangi rumah yang sebagian besar kostruksinya telah ambruk itu.

Penghuninya telah meninggalkan rumah itu setelah dihantam bencana alam 22 Desember 2016 lalu, tepatnya pukul 03.00 WITA. Batu bulat berukuran besar telah memporak-porandakan rumah berdindingkan papan tua yang beralamat di Kampung Welu, Desa Welu, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai itu.

Kronologis kejadian

Lusia Indut (50), pemilik rumah itu pun berkisah kepada penulis, Jumat, 12/5/2017, sembari mengekspresikan kesedihannya yang teramat dalam. Saat para penghuni rumah tengah terlelap, tiba-tiba sebuah batu besar menghantam rumah mereka. Batu berukuran besar dan berbentuk bulat, mengantam ruang tamu dari bangunan sederhana itu.

“Kami sedang tertidur lelap. Tiba-tiba sebuah batu besar menghantam rumah kami. Kami semua lari ke rumah tetangga terdekat untuk menyelamatkan diri. Hanya suami saya yang ketinggalan di rumah. Karena kaget, ia terjatuh ke belakang hingga luka pada bagian punggung sampai kaki”, demikian Lusia Indut mengisahkan kembali kejadian itu.

Sejak kejadian itu, rumah ini ditinggalkan para penghuninya. Mereka tinggal di salah satu rumah penduduk setempat. Sampai dengan saat ini, rumah yang ambruk itu belum diperbaiki. Batu besar berbentuk bulat masih berdiri kokoh di ruangan tamu itu. Pada sebagian batu masih dililit kain kelambu.

Prihatin dengan kondisi saat ini, penulis mencoba mewawancarai Lusia, sang pemilik rumah tinggal itu. Ia pun kembali mengisahkan.

“Kami meninggalkan rumah ini setelah kejadian mengerikan itu. Untunglah ada keluarga yang bisa menerima kami. Saat ini kami nebeng di rumah mereka, entah sampai kapan,” kata Lusia berkaca-kaca.

Kerugian yang Dialami

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun, suami Lusia, Hendrikus Ipo (52) mengalami luka serius di sekujur tubunya karena terjatuh saat bencana itu terjadi. Adapun beberapa kerugian yang dialami keluarga miskin itu antara lain: dinding rumah bagian Barat ambruk; sebuah tempat tidur berukuran kecil yang ada di ruang tamu juga rusak berat. Selain itu terdapat sebuah kasur, dua buah bantal, satu buah sprei, dua buah kelambu, dua buah kain selimut dan kain Songke Manggarai.

“Saat kejadian di sini gelap gulita. Sehingga suami saya mengambil senter dan sambil berteriak memohon agar kami berlari keluar menyelematkan diri. Sambil mengarahkan senter ke batu besar itu, dia lari membelakangi. Namun sayang dia lupa bahwa di belakangnya ada jurang. Ia pun terjatuh. Di bagian belakangnya dan samping kanan ada luka-luka,” kisah Lusia mengenang kejadian yang mengerikan itu.

Bantuan yang telah diterima
Soal bantuan yang diterima pihaknya, Lusia menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyerahkan sebuah box yang berisi 1 unit lampu isi ulang, terpal, 1 buah selimut, 2 buah sarung, 2 handuk, sabun, sikat gigi, dan pasta gigi. Namun ada juga bantuan berupa pakaian bayi, walaupun keluarga ini tidak memiliki bayi.

Dari Wahana Visi Indonesia (WVI), ujar Lusia, pihaknya telah menerima bantuan berupa: tikar, terpal, dua buah handuk, lampu isi ulang. Ada pula kebutuhan mandi seperti sabun, odol, shampoo dan sikat gigi. Selain itu WVI juga membantu makanan ringan seperti super mie dan biscuit.

Sedangkan sumbangan dari desa sendiri berupa 500 kg beras.

Polemik tentang Instalasi Listrik dari PLN

Terkait dengan bantuan pemasangan instalasi listrik dan Meteran PLN, tutur Lusia, ada sedikit perbedaan pendapat antara pihaknya dengan pihak PLN.

Sebelum bencana, beberapa keluarga termasuk keluarga korban, telah mendapat layanan dari PLN berupa pemasangan instalasi listrik secara gratis. Namun polemik terjadi, ketika pihak PLN bersih keras untuk tetap memasang meteran listrik dalam rumah yang sebagian besar rusak berat dan tak layak huni itu.

Pihaknya memohon agar instalasinya dicopot dan meterannya juga. Namun pihak PLN tetap saja memasang meteran di rumah yang sudah rusak itu dengan alasan pihak PLN, ini pemasangan gratis.

Dan jaringan listrik itu pun tetap di pasang walau tidak akan digunakan. Sementara pihak keluarga Lusia berdalih bencana seperti ini tidak diundang pun datang.

“Tidak ada gunanya Anda (PLN) memasang meteran di situ karena akan mubazir,” ujar Lusia kembali mengulangi ucapannya ketika itu.

Terkait itu, Lusia mengaku telah menghadap Bupati Manggarai, namun hingga kini belum ada respon.

Keluarga Korban Butuh Bantuan

Mengingat kondisi ekonomi keluarga ini yang terbilang miskin dan sederhana, mereka membutuhkan bantuan dari pihak lain untuk kembali membangun tempat tinggal mereka yang rusak akibat bencana.

Tampak rumah itu dalam keadaan rusak parah dan sudah tidak layak lagi untuk dihuni. Selain rusak akibat bencana, tampak juga sebagian besar material bangunan sudah lapuk termakan usia dan rentan terhadap bencana.

“Kami sangat membutuhkan uluran tangan pak. Tolong bantu kami yang miskin papa ini,” ucap Lusia dengan mata menerawang penuh harap.

Siapa pun yang terketuk hatinya untuk membantu, dapat menghubungi penulis atau pun langsung menghubung redaksi media ini. Atas bantuan saudara/saudari, sebelumnya pihak keluarga korban bencana alam menyampaikan limpah terimakasih.
(Siprianus Guntur/Alfan Manah/KBN)

Biodata Penulis

Nama​​​: Siprianus Guntur
Peduli​​​: Sosial-Politik dan Budaya
Alamat​​​: Leda-Ruteng, Kabupaten Manggarai

Email : [email protected]
Telp/WA/Telegram : 0852 4455 3279

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password