breaking news New

Puisi – Puisi Karl Marx, Lelaki Melankolis

Kabarnusantara.net – Di mata sebagian besar aktivis Kiri adalah ini: Marx adalah penyair yang paling tidak Marxis. Puisi-puisi dan naskah drama Marx yang bisa kita temui saat ini tidak dihiasi dengan kata “perlawanan”, “revolusi”, “komunisme”, ataupun “penghisapan kapitalisme”. Barangkali rumusan puitis Marx yang paling revolusioner adalah ungkapan “ada hantu bergentayangan di Eropa, hantu komunisme”; itu pun penggalan dari traktat filosofisnya, bukan sastra per se. 

Tentu kita menjelaskan hal ini dengan menunjuk bahwa puisi/drama/novel Marx dikarang pada tahun-tahun awal kariernya—ia masih berumur 19 tahun ketika itu—dan dalam periode ini—dikenal sebagai periode “Marx muda”—banyak komentator menganggap Marx masih “bau kencur”, masih humanis-romantik, masih apolitis.

Kata-kata—dusta, bayang hampa, tak lebih,Sesakkan hidup dari tiap sudut! Padamu, letih dan mati, haruskah kutuangkan Jiwa yang padaku bergelora?

Namun Dewa-Dewa bumi pencemburu Mengintai api manusia dengan mesra; Dan selamanya manusia melarat

Menemani cahaya hatinya dalam sunyi. Karena, gelora yang menyentak nyalang Dalam helaian Jiwa cemerlang

Akan mendekap duniamu, Akan meruntuhkanmu, akan merendahkanmu,

Akan menabuhkan tarian purba, Dunia mekar lalu bersemi dan mati. 

(Untuk Jeni)

Diksi-diksi liris dalam puisi-puisi Marx berasal dari mitos dan cerita rakyat—suatu langkah yang banyak diambil penyair romantik—dan kadang terkesan melankolis, penuh dengan metafor-metafor genit: “cahaya” yang kerap disandingkan dengan “Jiwa”, “api”, “samudera”, “bulan”, dan seterusnya. Beberapa—kalau tidak mau bilang “banyak”—puisi Marx bahkan picisan, yang terbaik di antaranya tertuju pada satu nama: Jenny.

Kata “jiwa” yang dalam syair romantik serta abad pertengahan digunakan untuk merujuk pada sesuatu yang suci, baik, ilahiah, dipakai oleh Marx sebagai sesuatu yang “akan meruntuhkanmu, akan merendahkanmu/[a]kan menabuhkan tarian purba/[d]unia mekar lalu bersemi dan mati”. Pembalikan ini menunjuk posisi antagonisnya dengan “Dewa-Dewa bumi pencemburu/mengintai api manusia dengan mesra” yang membuat “selamanya manusia melarat/[m]enemani cahaya hatinya dalam sunyi”.

Tiga titik cahaya berpijar sunyi, Binarnya kerling mata jeli, Biar angin dan badai mengembus hantam,

Tiga titik cahaya tak pernah padam. Satu cahaya meronta tinggi, Bergetar ia di garis lazuardi, kerlip mata teduh dan wibawa,

Mungkin nampak padanya Bapa-Segala. Yang lain menatap rongga-rongga bumi, Dan mendengar pekik kemenangan sejati,

Mendongak ia pada saudarinya di angkasa, Nubuat sunyi diam-diam bertahta. Yang terakhir berkobar dengan api emas,

Baranya menyengat, segala genggam lepas, Hatinya berpusar hebat dan—lihat!— Ia berbunga jadi pepohonan lebat.

Lalu tiga titik cahaya berpijar sunyi, Binarnya kerling mata jeli, Biar angin dan badai menghembus hantam,

Dua jiwa menyatu bersanding tenteram.

(Tiga Titik Cahaya)

Romantika ini mengalun dengan manis dalam “Tiga Titik Cahaya”. Kita bisa membaca tiga titik cahaya yang ditulis Marx sebagai perlambangan tiga konfigurasi berpikir yang berbeda: pertama religiusitas Kristiani, kedua kemenangan borjuasi, dan ketiga api proletariat. Dalam pertikaian kelas-kelas historis yang nampaknya tak pernah padam tersebut, kita bisa membayangkan sepasang kekasih berdekapan mesra, tangan saling terpaut dan bibir terpagut, seolah-olah dalam pijar asmara, “[d]ua jiwa menyatu bersanding tenteram”, sekalipun “angin dan badai mengembus hantam”.

Air menderu serupa hantu, Bulir ombak berpendar laju, Tak ada perih rasa lebam,

Ketika ia pecah dan karam, Hati kelu, akal beku,

Deru, deru sepanjang waktu, Di balik ombak, di perut samudera

Duduk lelaki tua, pucat dengan usia. Menari ia ketika bulan tiba, Lintang mengguyah kabut sia-sia.

Serupa hantu ia hinggap dan melesat, Mereguk sungai laut sampai kesat.

Ombak, tiap bulirnya adalah pembunuh, Menggerus belulang kecilnya yang rapuh,

Riak air berderai resah, Mengoyak tubuhnya bagai anak panah; Lelaki kecil meringis perih dan pasi,

Tari bulan dicuri mentari Lalu air menderu serupa hantu, Bulir ombak berpendar laju,

Tak ada perih rasa lebam, Ketika  ia jatuh dan karam, Hati kelu, akal beku, Deru, deru, sepanjang waktu.

(Lelaki Tua dan Samudera) sebuah balada

Lebih lanjut lagi, puisi-puisinya yang lain justru sangat romantik: dalam “Lelaki Tua dan Samudera” ia menggambarkan lelaki tua yang tinggal di dasar samudera; ombak menahannya di sana—suatu kuasa adidaya yang tak bisa ia lawan—dan pada akhirnya ia menerima—ia harus menerima—serta menikmati keterasingannya. 

Marx menggambarkan betapapun lihainya sang lelaki bersembunyi, ombak itu akan menemukannya juga, lalu “[m]enggerus belulang kecilnya yang rapuh/…/[m]engoyak tubuhnya bagai anak panah”. Keterasingan manusia, dalam puisi ini, serupa takdir, suatu kodrat ilahiah yang sudah selalu ada di sana, menunggu manusia-manusia untuk terlempar di dalamnya, dan sepandai apapun manusia untuk menghindar, kedatangannya adalah sepasti kematian yang dingin dan manjur. 

Yang menarik dari puisi-puisi ini adalah Marx kerap mengambil ungkapan-ungkapan romantik/abad pertengahan kemudian membalik konfigurasinya sebagai sebuah kritik (mungkin kita ingat buku Proudhon Filsafat Kemiskinan yang dibalik oleh Marx menjadi Kemiskinan Filsafat). 

Metode penyajian argumentasi Marx dalam beberapa bagian tulisan-tulisan filosofis/ekopolnya yang renyah itu adalah tempaan pada masa-masa kepenyairan ini (tentu, ada juga bagian-bagian tulisannya yang lain yang sedemikian rumit dan sulit untuk dimengerti). (RR/KbN)
Catatan :

– Yovantra Arief, Anggota Redaksi Jurnal Problem Filsafat dan Mahasiswa STF Driyarkara Jakarta, ditulis 5 Februari 2013

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password