breaking news New

Ribuan Mahasiswa Asal Empat Perguruan Tinggi di Ruteng Serukan Aksi Bela NKRI

RUTENG, Kabarnusantara.net – Ribuan Mahasiswa asal empat perguruan tinggi di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, Kamis, 11/5/2017 menggelar aksi yang bertajuk bela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari paham radikalisme.

Pantauan Kabarnusantara.net, sejak pukul 08:00 WITA, ribuan mahasiswa asal STKIP Santu Paulus Ruteng meneriakan yel-yel “merdeka”, “hidup Indonesia”, “hidup NKRI”, “bela NKRI”, dan “pertahankan NKRI”.

Teriakan lantang para mahasiswa itu menggema di seluruh sudut kota Ruteng.

Massa aksi menolak sikap kelompok yang merongrong keutuhan NKRI.

Demikian pun halnya Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Santu Sirilus Ruteng, Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Santu Paulus Ruteng, dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng.

Massa aksi Mahasiswa dari empat kampus itu pun bertemu di alun-alun kota Ruteng, yang dikenal dengan sebutan Lapangan Motang Rua.

Selain secara bergantian berorasi, tampak massa aksi melakukan aksi simbolik dengan membakar lilin, berpuisi dan berdoa bagi keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI.

Ketua STKIP Santu Paulus Ruteng, DR. Jhon Boylon dalam orasi kebangsaannya mengatakan bangsa ini merindukan para pemimpin yang adil, tegas dan jujur. Bangsa ini juga merindukan pemimpin yang berjuang untuk rakyat dan tidak bermain-main dengan kekuasaan.

“Aksi kita hari ini adalah aksi bela Negara melawan setiap ancaman paham radikalisme. Aksi kita hari ini juga aksi bela Ahok yang jujur, bersih dan profesional.

Aksi kebangsaan ini sebagai wujud solidaritas nyata membela Ahok. Hari ini seluruh mahasiswa, dosen dan pegawai di seluruh perguruan tinggi di Provinsi NTT melakukan aksi yang sama sebagai wujud penolakan terhadap masuknya paham radikalisme di NTT dan aksi bela Ahok,” ujarnya.

Dikatakan Boylon, lagu-lagu kebangsaan terus dinyanyikan karena kita cinta Indonesia, Cinta Pancasila, Cinta NKRI, cinta Bhineka Tunggal Ika dan memegang teguh UUD 1945. Puisi-puisi pun dilantunkan dengan indah karena kita mencintai toleransi, mencintai perdamaian, mendambakan persatuan, dan merindukan bertumbuhnya demokrasi yang berkeadilan.

“Kita melakukan orasi-orasi kebangsaan karena kita merindukan pemimpin yang jujur, tulus, adil, dan tegas. Kita juga merindukan pemimpin yang berjuang untuk rakyat dan tidak mau bermain-main dengan kekuasaan”.

Kita merindukan aparat penegak hukum yang adil, jujur, tidak takut dan tidak cuci tangan dalam menghadapi persoalan kebangsaan.

“Hari ini, kita menyatakan sikap kita bahwa NKRI Harga mati. Dengan membela NKRI, kita telah mencatat sejarah kebangkitan kita. Sejarah untuk tetap tegaknya empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal dan NKRI,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, kita akan membakar lilin sebagai simbol matinya rasionalitas dalam berdemokrasi yang sehat dan dalam penegakkan hukum yang benar. Kita membakar lilin karena kita juga mau berdoa untuk para korban ketidakadilan.

Salah satu spanduk menyerukan supremasi hukum.

Sementara itu, di spanduk pernyataan sikap, jelas bahwa seluruh civitas akademika perguruan tinggi di Manggarai NTT dengan tegas menolak kehadiran Ormas radikal di NTT.

“Jaga NKRI dan bubarkan semua ormas yang anti Pancasila, UU 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Tolak tirani mayoritas dan menuntut tegaknya supremasi hukum. Tolak perlakuan intoleransi, radikalisme, anti pluralisme dan tolak pemecah bangsa.

Aksi damai itu berakhir pada pukul 11:00 WITA dan berlangsung dengan tertib. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password