breaking news New

“Hobinya Pesta, Gayanya Parlente, Itulah Chairil Anwar”

Kabarnusantara.net – “Apa yang pertama kali dilakukan Chairil saat tiba di Batavia?”

Kita mengenal Chairil sebagai pujangga yang berkepribadian kusut dan tak pernah punya pilihan hidup. Apakah benar demikian?

Chairil mulai merantau dari Medan ke Batavia pada akhir 1941, Saat itu usia Chairil sudah 19 tahun. Dia  melanjutkan sekolah ke MULO di kawasan Pasar Baru. “Dia tidak tamat, tetapi dia bisa berbahasa Belanda, berbahasa Inggris, dan Prancis.”

Chairil Anwar 1822 – 1949/ Foto: Doc



Kita mungkin selama ini membayangkan Chairil sebagai seorang pemuda yang tak punya pilihan. Bayangan itu tampaknya salah. Chairil adalah pemuda yang memiliki banyak pilihan. Ayahnya, yang bernama Toeloes bin Haji Manan, menjabat sebagai Controleur—setingkat bupati pada zaman sekarang. Dia mengemban tugas sebagai inspektur penghubung pemerintah Hindia Belanda dengan para penguasa lokal. “Orang yang senyaman itu hidupnya, pendidikannya apa saja bisa, tetapi memilih menjadi penyair dengan segala risiko.”

Potongan Puisi Chairil Pada Sebuah Mural, “Mampus Kau Dikoyak- koyak Sepi” (Sia- sia, 1943) / Foto: Doc


Sebagai seorang anak lelaki satu-satunya, Chairil sejatinya punya banyak jalan hidup. Apalagi pada zaman itu, orang-orang Sumatra banyak yang melanjutkan pendidikan ke Belanda, termasuk Sutan Sjahrir—pamannya sendiri. “Jepang masuk pada awal 1942.” Sejak saat itu komunikasi Jawa dan Sumatra putus. Perkara surat-menyurat hingga urusan kiriman uang pun ikut pupus. Seluruh pelajar Sumatra yang berada di Jawa dipulangkan oleh Jepang dengan angkutan dua kapal besar. Asrul Sani dan Sitor Situmorang, kelak keduanya sohor sebagai sastrawan, turut pulang. Namun, Chairil tidak pulang.

“Kenapa Chairil tidak pulang?”

 “Sepertinya itu naluri.”

Tampaknya semesta telah menelikungnya. Dia ditakdirkan memang harus hidup di Batavia. Dia ditakdirkan menyintas suatu kehidupan yang tidak nyaman. Dia ditakdirkan menerima risiko bahwa tidak ada lagi uang kiriman dari ayahnya. Dan, dia juga ditakdirkan tak berumur panjang.  Lengkaplah segala penderitaan Chairil.

Salah Satu Puisi Chairil ISA “Kepada Nasrani Sedjati”, 1943 / Foto: Doc


“Chairil sejatinya seorang yang perlente”. Bukan seorang yang berkepribadian kuyu dan kusut. Pada akhirnya, dia terpaksa kuyu dan kusut lantaran sang ayah tidak bisa mengirimkan uang kepadanya.  “Akhirnya dia menjadi bohemian, mencuri sepeda, jaket, sprei, ditangkap kempetai, dipukulin, dimasukin penjara, lalu ke luar lagi—tetap saja begitu.”

Lalu, apa yang pertama kali dilakukan pemuda itu setibanya di Batavia, jelang Hindia Belanda tamat?

“Bikin jas!”

Betapa hebatnya Chairil karena memesan jas di Pendjahit Djumala, salah satu penjahit tersohor di Batavia yang juga membuat jas pesanan Sukarno. Boleh dikata, dalam perkara busana, Charil memang seorang anak sekolah yang flamboyan. Kawan semasanya mengenangnya sebagai seorang pemuda yang kerap mentraktir dan mengencani gadis-gadis papan atas sembari nonton film atau menyaksikan pentas sandiwara kota.

“Hobinya memang pesta, Itulah Chairil.” (RR/KbN/ Sumber: Nationalgeographic.ac.id)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password