breaking news New

Penuhi Rasa Keadilan Rakyat, Polri Disesak Keluarkan Red Notice Terhadap Rizieq

Jakarta, Kabarnusantara.net – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus menilai tuntutan masyarakat agar Polri segera melakukan upaya paksa terhadap Rizieq Shihab di luar negeri, sangat beralasan.

Hal itu menurutnya karena setelah cukup lama penyelidikan sejumlah kasus terhenti karena berbagai dinamika politik pilkada DKI Jakarta serta persidangan kasus pidana penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok, yang menyita waktu dan tenaga Polri untuk mengamankan Pilkada Jakarta dan persidangan kasus Ahok.

Namun demikian, menurut Petrus, pasca pilkada DKI Jakarta dan pasca persidangan kasus Ahok, publik mulai mengarahkan perhatian dan dukungannya kepada Polri agar segera menuntut pertanggungjawaban pidana terhadap Rizieq Shihab, melalui sebuah proses hukum yang akuntable dan transparan.

“Sebagai seorang ulama, langkah Rizieq Shihab meninggalkan Indonesia sonder permisi di saat Polri sedang membuka kembali penyelidikan dan Penyidikan atas sejumlah kasus yang dilaporkan masyarakat, sungguh-sungguh sangat memalukan, terlebih-lebih karena Rizieq Shihab dikenal sebagai seorang ulama yang sering menggunakan kekuatan massa untuk menyuarakan penegakan hukum dan keadilan atas sejumlah kasus,” kata Petrus kepada Kabarnusantara.net.

Petrus menambahkan, langkah Rizieq Shihab justru menjadi kontraproduktif bahkan mencederai nama besarnya sebagai seorang ulama yang akhir-akhir ini mulai pudar.

“Apalagi saat ini tidak kurang dari dua belasan laporan polisi antara lain (penodaan lambang negara, penodaan agama kristen, ancaman pembunuhan terhadap Pendeta, rekaman video porno dll.) yang sudah antri menanti Rizieq Shihab untuk mempertanggungjawabkan satu-persatu laporan masyarakat dimaksud,” ujar Petrus.

“Jika Rizieq Shihab nyata-nyata menghindar diri dari upaya penyelidikan dan penyidikan atas belasan Laporan Polisi dari masyarakat korban tindak pidana, dengan bungkusan menjalankan Ibadah Umrah atau sedang memenuhi undangan Radja Salman atau atas alasan keperluan lain di luar negeri, maka Bareskrim Mabes Polri harus segera menetapkan Rizieq Shihab dalam Daftar Pencarian Orang/DPO dan selanjutnya mengeluarkan “Red Notice” yang ditujukan kepada Interpol di seluruh dunia untuk dilakukan pencarian sebagai bagian dari “tindakan polisional” menangkap Rizieq Shihab, dibawa ke Jakarta untuk mempertanggungjawaban berbagai dugaan tindak pidana yang dipersangkakan kepadanya,” lanjutnya.

Ia menambahkan, meskipun Rizieq Shihab sudah dua kali dipanggil Penyidik Polda Metro Jaya dalam kasus rekaman video percakapan yang bermuatan pornografi, namun dalam surat panggilan Penyidik Polda Metro Jaya beberapa waktu yang lalu baik Rizieq Shihab, Istrinya maupun firza Huzein sama-sama tidak ada seorang-pun yang memenuhi panggilan Penyidik, mereka malahan meminta Polri menjadwal ulang panggilan dengan alasan ada halangan yang tidak bisa dielakan.

Untuk itu, kata Petrus, Polri telah memanggilnya kembali untuk datang pada tanggal 10 Mei 2017 yang lalu akan tetapi Rizieq Shihab, tetap tidak memenuhi panggilan itu karena sedang berada di luar negeri.

Koordinator TPDI itu mendukung upaya paksa terhadap Rizieq untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

“TPDI mendukung langkah Polri melakukan upaya paksa terhadap Rizieq Shihab, karena sudah dua kali panggilan Penyidik yang dilakukan secara patut dan dua kali panggilan itu Rizieq Shihab tidak memenuhinya secara tidak patut, maka langkah selanjutnya adalah Polri segera keluarkan “Surat Perintah Tangkap” melalui mekanisme DPO dan Red Notice kepada Interpol untuk menjemput paksa dimanapun Rizieq berada guna dibawa ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan berbagai laporan masyarakat di Kepolisian RI,” tutupnya. (HWL/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password