breaking news New

Analisis Pilkada NTT 2018

Pilkada NTT secara langsung akan digelar pada tahun 2018. Banyak calon yang sudah mulai melakukan konsolidasi politik. Baik konsolidasi ke akar rumput melalui road show ke kabupaten-kabupaten maupun pendekatan ke elit politik (struktur partai).

Bagaimana peta politik Pilkada NTT?

Ini merupakan pertanyaan penting sehingga bisa melihat bagaimana seharusnya konfigurasi politik dalam Pilkada NTT 2018.

Menurut saya, Pilkada NTT tidak bisa melupakan hal-hal yang sangat strategis. Hal tersebut diantaranya adalah soal representasi wilayah dan geopolitik NTT.

Artinya bahwa, konfigurasi calon gubernur NTT tidak bisa menegasikan konfigurasi wilayah. Misalnya, konfigurasi calon antara Flores dan Timor. Konfigurasi ini tentu sangat strategis karena kedua daerah ini memberikan elektoral yang sangat signifikan. Misalnya saja, Flores dan Lembata menyumbang 40 persen suara, sedangkan Timor dan Alor menyumbangkan 45 persen suara. Artinya bahwa kedua daerah ini mempunyai memiliki 85 persen suara.
Dengan demikian sangat startegis jika kedua wilayah tersebut mempunyai pasangan yang bisa dipadukan.

Akan tetapi, tidak hanya soal konfigurasi wilayah. Ada hal lain yang perlu dipertimbangkan, yakni soal konfigurasi agama. Kita ketahui bersama bahwa secara statistik, pemeluk Katolik terdapat 55,19 persen, pemeluk protestan 35,29 persen. Sedangkan sisanya adalah Islam, Hindu dan Budha. Artinya bahwa konstestan yang beragama Katolik mempunyai peluang untuk berada pada posisi Calon Gubernur dan Protestan berpeluang untuk posisi calon wakil gubernur.

Ini adalah fakta empiris politik NTT sejak pemilihan Gubenur dan wakil gubernur secara langsung pada tahun 2008 dan 2013.

Pendekatan geopolitik dan keterwakilan identitas menjadi pertimbangan yang tidak bisa dianggap remeh dalam menentukan komposisi pasangan calon gubernur NTT 2018.

Hal tersebut juga untuk mengkonfirmasi budaya politik NTT yang masih jatuh dalam budaya politik Parokial. Artinya masih banyak pemilih yang tidak aktif berpolitik dan cendrung menentukan pilihan berdasarkan gerakan kelompok elit dan kelompok kepentingan yang lainnya atau interest group. 

Namun demikian, bukan berarti bahwa konfigurasi lain tidak mempunyai peluang. Misalnya, bisa saja ada konfigurasi antara Flores dan Sumba, atau calon Gubernurnya beragama Protestan dan wakilnya beragama Katolik. Namun demikian, tentunya butuh kerja keras untuk mematahkan fenomena yang sudah terjadi selama dua kali pilkada secara lansgung.
Oleh: Wempy Hadir
Penulis adalah Peneliti INDOPOLLING NETWORK Jakarta. (Sedang menyelesaikan Magister Ilmu Politik di Jakarta)

<

3 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password