breaking news New

Resensi Buku: Revolusi Mental (Memberantas Mafia Pendidikan)

Dalam Buku yang berjudul Revolusi Mental : Memberantas Mafia Pendidikan lebih banyak mengkaji mengenai Problem yang terjadi yakni dalam pola kerja serta mekanisme yang kotor terjadi dari dulu hingga saat ini. Anehnya pola kerja serta mekanisme yang terjadi lagi-lagi didalam pendidikan.

Padahal sudah jelas tujuan pendidikan seperti dalam UU nomor 2 pasal 4 tahun 1989 yakni, tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia oindonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jansmani dan rohani, berkepribadian yang mantab dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Fakta yang diungkap dalam buku ini seperti halnya penilaian akreditasi sekolah, sertifikasi guru, sertifikat menjadi syarat anak mengikuti ujian akhir SD/MI yang beragama islam mengikuti dan memahami pendidikan membaca al-qur’an dll sudah termasuki oleh mafia-mafia yang bejat serta oknum yang tidak bertanggungjawab.

Nyatanya dalam penilaian akreditasi sekolah, lembaga pemerintah mengenai kegiatan menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang hanya dipercayakan kepada Badan Akreditasi Nasional Sekolah/ Madrasah (BAN) dan tidak ada lagi badan yang menilai kelayakan selain itu. Dalam bab ini menjelaskan titik sama antara lembaga survey quick count dengan BAN yakni terletak pada bagaimana Asessor menilai sebuah Madrasah/ Sekolah tersebut. Kelemahan dari cara ini Kredibel atau abal-abal ditentukan oleh integritas pelakunya. Bukan untuk menerbitkan harapan serta pencerahan suatu pendidikan kedepan tapi, harapan itu kini sudah mulai memudar akibat kerja srampangan tersebut.

Begitu pula dengan proses pendidikan yang ada dinegeri ini sangat miris. Semakin banyak Sarjana Strata satu dan semakin banyak orang akademisi namun, yang membuat hati ini miris yakni dengan angka buta huruf yang semakin hari semakin banyak.

Kemudian bagaimana dengan program pemerintah mengenai memberantas penyandang buta huruf dengan metode yang selama ini diterapkan seperti memberikan BLT dan raskin untuk mengentas penduduk miskin. Tapi pada faktanya hal ini tidak malah menurunkan angka buta huruf dan kemiskinan. Faktanya hal ini justru menambah angka angka tersebut, sehingga dapat menghambat siklus perekonomian. Seharusnya yang pemerintah lakukan yakni dengan mengembangkan program ekonomi yang memberi ruang ekonomi rakyat kecil tumbuh dan berkembang bukan bantuan yang instan dan rentang dikorup.

Fungsionalisme pendidikan dimana sebuah lembaga atau instansi ingin mengadakan UAS Mandiri, dengan harapan dapat mengerjakan UAS dengan semaksimal mungkin. Faktanya selama ini soal UAS disuplay oleh KKM alias tidak membuat sendiri. Ketika kita berfikir rasional maka yang ada dibenak kita adalah mungkinkah soal tersebut dibuat dengan melibatkan madrasah keseluruhan dengan prosentase baik madrasah Negeri maupun Swasta.

Katanya, Soal tersebut melibatkan madrasah swasta, tapi pasti tidak keseluruhan karena terlalu banyak jumlah madrasah swasta.
Faktanya seorang guru yang mengabdi dengan ikhlas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekarang dipertanyakan? Karena, sampai saat ini masih banyak guru yang terus berjuang untuk mendapatkan sertifikat sertifikasi. Asumsinya bahwa guru ibarat orang punya SIM tapi tidak tangkas dalam mengemudi, belum mengerti rambu-rambu lalu lintas, dijalan mana yang harus dilalui pun masih bingung. Meski begitu merrka tidak pernah galau asal bantuan sertifikasinya masuk kantong. Profesionalitas guru sangat diragukan dalam memberikan pengajaran. Tidak berhenti di masalah sertifikat sertifikasi saja namun, kualitas pengajar kembali dipertanyakan pada hal membaca.

Kualitas guru kembali dipertanyakan bahkan guru selalu menyuruh siswa-siswinya untuk membaca tapi, faktanya seorang guru sendiri tidak pernah membaca. Asumsinya kita menyuruh orang lain untuk melakukan orang lain untuk melakukan atau mengerjakan kebaikan, Namun kita sendiri malah tidak mengerjakannya. Dalam Al – Qur’an sudah jelas dikatakan bahwa “mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat?, sangat besar kebencian disisi Alloh kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Sudah jelas dan tidak ada lagi alasan untuk bisa meluangkan waktu untuk membaca. Bukan tidak mampu lagi seorang guru untuk membeli satu buah buku. Karena tunjangan yang diberikan sebagian masih sangat cukup untuk dibelikan buku. Kredit motor aja mampu masak iya beli buku tidak mampu. Hari gini gitu?.

Dalam Struktur kehidupan makhluk hidup, jantung berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh untuk menghidupkannya. Apabila jantung tidak berfungsi maka berhentilah kehidupan ini. Begitu pula lembaga pendidikan yang tidak mempunyai perpustakaan sama dengan tidak berjantung. Karena, kalau perpustakaan itu asal ada maka, pendidikan ditempat itu asal juga. Untuk bisa hidup harus diberi nafas bantuan, seperti kunci jawaban kalau ujian, raport yang dikarang sehingga tidak memberi gambaran yang benar tentang anak didik. (Lailatul Chodriyah)

Judul : Revolusi Mental (Memberantas Mafia Pendidikan)
Pengarang : Firdaus,S.Pd
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun terbit beserta cetakannya : Cetakan Pertama, Januari 2015
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tebal : 121 halaman

 

<

3 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password