breaking news New
Foto : Hendardi, Ketua SETARA Institute

SETARA Institute Kecam Serangan Bom Bunuh Diri di Jakarta

Jakarta, Kabarnusantara.net– Ledakan yang terjadi di Terminal Bus Kampung Melayu, Jakarta, Rabu (24/5/2017) sekitar pukul 21.00 WIB, menewaskan lima (5) orang dan sepuluh (10) orang luka-luka.

Kadiv Humas Polri Setya Wasisto menyampaikan dua lokasi ledakan dengan dua pelaku bom bunuh diri (belum diketahui identitas pelaku) itu menewaskan tiga anggota Polri. Sementara itu, korban luka-luka tercatat 10 orang. Lima (5) diantaranya anggota Polri dan lima (5) korban lainnya merupakan warga sipil.

Ledakan tersebut terjadi di toilet halte transjakarta Terminal Bus Kampung Melayu. Ledakan diduga terjadi dua kali di dua lokasi terpisah pada pukul 21.00 WIB dan 21.05 WIB.

Menanggapi peristiwa tersebut, ketua SETARA Institute, Hendardi menilai serangan bom bunuh diri merupakan teror keji yang harus menjadi penghimpun energi dan pemupuk semangat setiap elemen bangsa untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dan immunitas generasi bangsa dari virus ekstremisme yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan.

“Teror tersebut secara nyata menyasar anggota Polri yang sedang bertugas, yang oleh kelompok teroris dianggap sebagai target utama karena kegigihan Polri dalam memberantas terorisme dan jejaring gerakannya,” Hendardi menambahkan.

Selain itu, SETARA Institute menyampaikan duka cita atas meninggalnya beberapa anggota Polri dan berbela sungkawa bagi korban luka-luka.

Ia juga menyampaikan meskipun sasaran utama adalah Polri, aksi teror selalu ditujukan untuk menebarkan ketakutan pada semua orang. Karena itu setiap elemen bangsa harus menunjukkan bahwa kita “tidak” takut dengan teror, dan percaya aparat keamanan akan mampu mengatasi bersama elemen bangsa lainnya.

Lebih lanjut, Ia menambahkan paralel dengan penegakan hukum pidana terorisme, perlawanan terhadap aksi terorisme, harus dimulai dari elemen-elemen yang paling kecil seperti keluarga, lingkungan, sekolah, dan lain-lain dengan meningkatkan ketahanan keluarga, ketahanan sekolah, dan ketahanan sosial sehingga kita memiki kepekaan atas segala potensi aksi-aksi destruktif yang keji itu.

Menurutnya, terorisme adalah puncak dari intoleransi yang bermula dari pikiran-pikiran intoleran dan bertransformasi menjadi tindakan intoleran-radikal dan berujung pada tindakan teror. Oleh karena itu tindak pidana terorisme harus diatasi secara komprehensif dari hulu ke hilir.

“Karena hulu terorisme adalah intoleransi, maka aneka tindak pidana yang kontributif mempercepat transformasi intoleransi menuju terorisme merupakan bagian penindakan yang juga harus memperoleh prioritas penegak hukum,” pungkasnya. (KbN/Redaksi)

<

2 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password