breaking news New

Abusus Non Tollit Usum Menuju The Common Good

Foto dok. Astra Tandang

(Logika Klasik dalam Pembangunan NTT)

Oleh: Gerry Tojong

Kabarnusantara.net-Berbicara mengenai pembangunan memang bukanlah suatu hal yang dianggap klasik ataupun jarang didengar. Hal tersebut merujuk pada beberapa aspek penting yaitu: infrastrukrur, moral dan juga etika. Bertolak dari berbagai realita yang terjadi di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dapat dikatakan bahwa Nusa Tenggarara Timur sangatlah mimim pembangunan. Tidak ada kata “maju” yang dapat dilihat dalam setiap irama perkembangan daerah NTT. Berbagai label disematkan untuk menggambarkan situasi keterisolasian dareah NTT. Seperti misalanya Nanti Tuhan Tolong dan lain sebagainya, sebenarnya hanya ingin mempertanyakan kemana aspek pambangunan kedaerahannya? Bahkan ironisnya, ungkapan – ungkapan tersebut sudah mainstream di daerah luar NTT bahkan diseluruh pelosok Nusantara. Mungkin bisa dikatakan demikan, bahwasannya kepopuleran NTT bukan karena aspek pariwisata dan hal lainnya tetapi kepopuleran NTT lebih kepada ketertinggalan di aspek pembangunan khususnya dalam bidang infrastruktur. 

Kasus keterisolasian jalan di kecamatan Elar Selatan kabupaten Manggarai Timur, NTT bisa dijadikan fakta penegas akan ketertinggalan ini. Jika ditinjau dari segi moral ataupun etika yang nota bene sudah mendarah daging, bisa dikatakan bahwa masyarakat NTT memiliki moral yang kuat dan etika yang baik namun demikian kemiskinan pembangunan merupakan situasi real yang dirasakan oleh masyarakat NTT dari dulu. Hemat penulis, kemiskinan pembangunan adalah suatu faktor penyebab mengapa masyarakat NTT memiliki presentase penduduk miskin yang sangat beragam.

Keinginan menuju sebuah perubahan sangat besar namun demikian kemauan-kemauan tersebut kebanyakan tidak tersalurkan yang kemudian membuat masyarakat tidak mempunyai semangat lebih menuju sebuah perubahan. Pada era orde baru hingga sekarang, mungkin derajat NTT dinaikan sedikit di kanca nasional dan bahkan internasional, lewat media sosial misalnya, tayangan televisi yang membeberkan kekayaan alam yang berlimpah tiada duanya. Namun demikian, berbagai kemungkinan memecah belahkan kekayaaan-kekayaan tersebut. Begitu banyak kemungkinan yang bisa diambil. Salah satu dari sekian kemungkinan tersebut melahirkan pertanyaan klasik demikian; apakah daerah NTT benar- benar telah makmur dengan kekayaan sumberdaya yang dimiliki? Ataukah hal tersebut hanya merupakan sebuah tameng hitam pelindung catatan kebobrokan pemerintah dalam kepemerintahan? Mengapa kekayaan alam lebih popular dari pada kekayaan korupsi, kolusi dan nepotisme?

Semuanya kembali pada konsep pembangunan. Hubungan sebab akibat dari setiap problematika tersebut mengarah kepada eksistensi pembangunan dan aktor utama dari pembangunan itu sendiri. Jika ingin dibedah, hal yang paling dirasa penting adalah soal eksistensi dan kinerja.

Oleh Karena itu, alangkah baiknya jika kita juga perlu mengkaji dan juga memahami bagaimana itu pemimpin masyarakat (pemerintah) yang sejak dahulu memiliki kepincangan dalam memimpin. Memimpin dalam konteks ini lebih merujuk kepada konsep melayani bukan memimpin dalam konteks memerintah. Karena hakikat dari seorang pemimpin adalah untuk melayani masyarakatnya bukan malah memerintah, walaupun memiliki otoritas yang tinggi dalam strata perpolitikan. Urusan tata cara memilih sudah sering dibedah dan kriteria pemimpin yang baik juga telah banyak diurai. Jika tujuan bernegara-berbangsa adalah ‘kebaikan bersama (the common good) dan demokrasi adalah metodenya, maka pemilu sebagai metode kunci demokrasi perlu menghasilkan para legislator-eksekutor yang siang-malam melibati teknologi untuk mencapai kebaikan bersama. Dalam pemahaman umum, kata teknologi sudah tidak asing. Teknologi sering dikaitkan dengan makna kemajuan atau pun dengan perbandingan- perbandingan seperti perbandingan antara gadget yang adalah bagian dari teknologi itus endiri. Atas dasar itulah maka penulis mengambil makna teknologi sebagai suatu kemajuan yang dalam Bahasa klasik adalah dampak dari pembangunan (development). Pertanyaanya ialah sejauh mana makna kemajuan pembangunan di NTT saat ini?

Pincangnya pembangunan dalam masyarakat dari dulu hingga sekarang sebenarnya memunculkan premis bahwasannya pembangunan selalu berorentasi pada proyek yang menguntungkan pribadi atau oknum tertentu saja. Akhirnyapun kredibilitas masyarakat akan makna pembangunanpun terlihat suram bahkan pada titik tertentu tidak kelihatan. Itulah kecelakaan historis, bukan keniscayaan logis. Kecelakaan tersebut tentunya disebakan oleh kurangnya pemahaman pemerintah maupun masyarakat akan sebuah konsep pembangunan. Permasalahan tersebut bukan tidak mungkin akan bertitik tolak pada penyalahgunaan wewenang ataupun kekuasaan yang notabene menguntungkan pribadi atau golongan tertentu saja.

Satu sentuhan logika klasik mungkin perlu untuk menjernihkan perkara: abusus non tollitusum (penyalahgunaan tidak menghalangi penggunaan). Artinya, fakta bahwa sesuatu telah disalahgunakan tidaklah berarti sesuatu itu tidak lagi berguna; fakta bahwa pembangunan telah disalahgunakan tidaklah berarti pembangunan tidak lagi berguna. Hal tersebutlah yang kemudian seyogianya bias mengubah mindset masyarakat jika memang segala sesuatu dapat berubah, apapun itu. Sentuhan logika klasik tersebut adalah cerminan semangat pembangunan, semangat perubahan.

Sebagai masyarakat yang ingin berubah maka hal yang harus dilakukan pertama – tama adalah mengubah mindset diri sendiri akan pembangunan. Pandangan buruk tentang pembangunan yang diboncengi proyek tertentu dan sebagainya harus diubah. Hal tersebut dirasa sangat penting karena keberhasilan pembangunan dalam masyarakat sesungguhnya juga ditentukan oleh kontribusi masyarakat itu sendiri. Dengan adannya kontribusi moril ataupun materil dari masyarakat maka secara manusiawi, pemerintah yang adalah pelayan masyarakat dengan sendirinya tergerak untuk melayani masyarakat khusunya dalam hal pembangunan, antara lain yang paling utama adalah dengan membangun infrastruktur terutama pembuatan jalan –jalan penghubung antara desa dan kota. Dengan terbukanya jalan penghubung tersebut maka segala sendi kehidupan masyarakat di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dapat ditingkatkan misalnya terbukanya jalur ekonomi sehingga dapat meningkatknya kegiatan ekonomi pasar/ perdagangan yang semula belum ada.

Bukan hanya bidang ekonomi bidang lainnya pun diperhatikan.Misalanya pelayanan kesehatan yang baik, terbukanya jalur komunikasi, terbukanya jalur pendidikan, terbukanya arus komunikasi, terbukanya arus kemajuan informasi, terbukanya lapangan kerja dan lain sebagainya. Sedikit demi sedikit ketertinggalan dan keterbelakangan daerah yang nota bene korban tunggal dari pembanguan dapat dikurangi dan bahkan dapat ditiadakan.

Semuanya itu sebenarnya telah mendekati sebuah konsep kemajuan masyarakat. Karena pada dasarnya perubahan perubahan tersebut sangat ditentukan dengan membuka jalur penghubung. Jalur penghubung baik adalah tujuan kemajuan. Sebagai pemimpin sekaligus pelayan masyarakat, pemerintah hendaknya menyadari bahwa catatan hitam akan kepemerintahan di NTT merupakan potret buram; mengapa mayarakat bersikap pasrah terhadap kemiskinan pembangunan? Namun demikian permasalahan tentang bagaimana sebuah pembangunan dapat berjalan dengan baik tidak hanya dititipberatkan kepada pemerintah saja.Masyarakat juga dapat berkontribusi dan pro aktif dalam pembangunan (seperti yang telah dijelaskan sebelumnya).Sentuhan logikia klasik tersebut sebenarnya adalah sebuah ungkapan moral atas kenyataan bahwa NTT (dalam konteks ini) sangat miskin pembangunan. Logika klasik tersebut syogianya bisa dipakai oleh masyrakat maupun pemerintah di NTT dalam mengukir semangat pembangunan. Dalam hal ini masyarakat harus lebih selektif dalam memilih pemimpin karena fakta bahwa pembangunan di NTT yang sangat minim tersebut adalah sebuah catatan hitam dari pemimimpin dalam periode kepemimipinan saat ini. Selain itu, logika klasik tersebut sebenarnya memberdayakan masyarakat menjadi sebuah masyarakat yang mandiri. Catatan sejarah pembangunan adalah sebuah pengalaman pahit yang dalam pandangan penulis harus segera diatasi. Karena sebuah kebaikan bersama (the common good) adalah suatu situasi dan kondisi dimana masyarakat telah mengalami kemajuan dalam hal pembangunan.

Dengan demikian sentuhan logika klasik Abusus Non TollitUsum Menuju The Common Gooddi NTT dapat tercapai. Seperti yang telah dipaparkan, The Common Good (kebaikan bersama) merupakan suatu produk yang dihasilkan oleh kemajuan pembangunan yang sangat penting untuk diperjuangkan secara bersama. Mengingat betapa pentingnya sebuah pembangunan dan sejarah dari sebuah pembangunan yang nota bene telah mengubah mindset masyarakat akan makna folosofisnya maka sentuhan logika klasik Abusus Non Tollit Usum dirasa sangat penting dan layak menjadi pintu keluar dari kepincangan pembangunan dan keterisolasian cara berpikir. Dengan kata lain logika klasik Abusus Non Tollit Usum dapat menghadirkan The Common Good dengan basis pembangunan dan pemberdayaan mayarakat.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD”, Yogyakarta

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password