breaking news New

Kota Komba-Yogyakarta, Tuntut Pemkab Matim Usut Tuntas Kasus Prekrutan Tenaga Kerja Ilegal di Kecamatan Kota Komba

Foto: Logo Paguyuban Kota Komba-Yogyakarta

Yogyakarta, Kabarnusantara.net- Seperti yang dilansir media floreseditorial.com pada pada Rabu, 07 Juni 2017, sejumlah 18 warga asal Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT menjadi korban perekrutan tenaga kerja ilegal yang diduga akan diberangkatkan ke Kalimantan, kini diterlantarkan di Maumere, Kabupaten Sika, Flores, NTT.

Kejadian tersebut menuai kecaman serius dari warga Paguyuban Kota Komba- Yogyakarta.

Kecaman pertama datang dari salah satu tokoh senior Kota Komba di Yogyakarta, Gode Afridus Bombang.

Gode mengaku kesal dengan kejadian tersebut. Baginya ini telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Sehingga ia menyarankan agar hal awal yang harus dilakukan adalah menyelamatkan korban yang diterlantarkan di Maumere tersebut.

“Saya sangat kesal atas kejadian ini. Namun, saya menyarakan agar pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan korban. Legal ato ilegal mereka harus diselamatkan. Ini soal HAM warga negara”, ungkap Gode saat ditemui Kabarnusantara.net pada Rabu, 07 Juni 2017 di kediamanya.

Lebih lanjut, dirinya berharap kepada Pemerintah Pusat hingga Pemda Manggarai Timur untuk siap bertanggujawab atas kasus tersebut.

“Untuk menyelamatkan ini, Pemda Matim harus bertanggungjawab, demikian Pemda NTT bahkan Pemerintah Pusat. Masing-masing sesuai wewenangnya”, papar Gode.

Selain itu, Gode melihat Pemda Matim dalam kasus ini telah gagal dalam memberikan kesejahteraan bagi warganya.

“Ini menunjukkan Pemda Matim dan NTT gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga rakyatnya harus merantau. Sejauh ini saya juga melihat Pemda Matim dan NTT belum punya mekanisme kerja yang bisa menekan human trafikking ini”, jelas Gode.

Hal senada juga disampaikan Ketua Paguyuban Kota Komba-Yogyakarta, Astra Tandang. Astra melihat kasus ini adalah bentuk dari ketidakseriusan Pemda Matim dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

“Ini fakta bahwa Pemda Matim tidak serius untuk mengurus kesejahteraan masyarakatnya. Mereka merantau bukan tanpa alasan. Itu karena faktor ekomi mereka yang lemah. Anehnya, Pemda Matim pun jarang menyediakan lapangan pekerjaan buat mereka, sehingga mereka terpaksa harus cari hidup di luar walaupun pergi secara ilegal”, ungkap Astra.

Astra berharap dalam waktu dekat Pemkab Matim bisa menyelsaikan masalah ini. Kepada masyarakat, ia pun berharap untuk bersama pemerintah mengusut tuntas kasus teresebut.

“Saya berharap Pemda Matim untuk segera menyelsaikan kasus ini dan diharapkan untuk tidak terjadi lagi. Masyarakat juga harus bekerjasama dengan Pemda Matim. Jika ada agen-agen prekrutan ilegal yang masyarakat tahu, masyarakat harus segera melaporkan ke pihak yang berwewenang”, tutup Astra.

Selain itu, media floreseditorial.com merilis, sejumlah delapan belas tenaga kerja itu terdiri dari 14 orang pria dan 4 orang wanita, dua orang diantaranya masih berusia dibawah umur. (Hendrik Ales/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password