breaking news New
Fr. Ricky Gabut CICM, Mahasiswa Saint Louis University, Baguio-Filipina.

Agama dan Kekerasan

Sekilas, ada benarnya saat Wilson, seorang novelis sekaligus wartawan asal Inggris yang dalam bukunya Against Religion: Why We Should Try to Live Without It, menulis: “Agama adalah tragedi kemanusiaan… Agama membangkitkan gairah setiap manusia untuk saling menyiksa (1992:1).”

Tuduhan bahwa agama adalah tragedi dari Wilson tentu saja bukan tanpa alasan. Ia telah banyak menyaksikan berbagai kekerasan yang lahir dari superioritas kaum beragama.
Tuduhan yang sama bisa saja muncul setelah kita menyaksikan kejamnya aksi teror ISIS dan sadisnya kelompok Abu Saffay dan Maute menyerang kota Marawi, di Filipina. Tidak bisa disangkal bahwa mereka adalah orang beragama, bahkan paling radikal. Mereka bukan para ateis.

Di Indonesia juga muncul berbagai isu kelompok radikal berbasis agama. Kita pastinya sangat waspada terhadap isu radikalisme agama, karena mereka adalah ancaman paling nyata untuk negara sepluralis Indonesia. Biasanya mereka anti terhadap pluralisme. Namun, tuduhan bahwa agama adalah tragedi perlu dikritisi. Sebuah agama terlalu luas untuk disimpulkan dari satu sisi saja. Sebaliknya, pertanyaan yang harus muncul, apakah kekerasan itu berasal dari agama (ajarannya) atau berasal dari para pemeluknya yang gagal memahami agamanya?

Agama dan pemeluknya merupakan dua hal yang berbeda, tetapi tidak bisa dilepas-pisahkan begitu saja. Agama pada dasarnya mengajarkan hal baik, cinta, kebahagiaan, perdamaian dan makna hidup. Inilah dasar yang kokoh bagi agama untuk bertahan dalam dunia modern.

Lantas, mengapa ada kekerasan dalam agama?

Beberapa Faktor

Ada beberapa faktor mengapa tuduhan kekerasan seringkali dialamatkan kepada agama.

Pertama, mereka yang mengklaim agamanya yang paling benar. Mereka tidak peduli lagi bahwa Tuhan sebenarnya “hanyalah” sebutan bahasa manusia tentang Ke-Segala-Maha-an yang tidak bisa ditangkap oleh kemiskinan bahasa manusia. Celakanya, justru hal itu yang menjadi titik tolak untuk meniadakan pemeluk agama lain dan menyebut mereka “kafir”. Biasanya, mereka mengartikan isi kitab suci agamanya secara harafiah dan tanpa pertimbangan rasional. Semestinya kitab suci dibaca sebagai bahasa iman dan cinta.

Kedua, ketaatan buta terhadap pemimpin agama. Hal itu lahir karena pemimpin agama dianggap mempunyai kekuasaan tanpa batas, bahkan nyaris menyamai Tuhan. Ajaran mereka bertentangan dengan akal sehat, membatasi kebebasan intelek, meniadakan integritas individu para pengikutnya dengan cara menuntut ketaatan buta terhadap pemimpin kharismatik mereka.

Faktor ini yang mendukung gerakan peoples temple pimpinan Jim Jones di Guyana (1970-an), Aum Shinrikyo pimpinan Asahara Shoko di Jepang (1990-an), gerakan David Koresh di Texas (1990-an), dan mungkin kelompok Maute di Filipina yang mengidolakan Maute bersudara, setelah keduanya belajar teologi Islam di Timur Tengah.

Ketiga, merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikannya pada zaman sekarang. Visi religius semacam itu biasanya mendorong para pemeluk agama untuk mendirikan suatu negara agama atau teokratis.

Dalam sejarah telah terbukti adanya bahaya yang sangat fatal jika negara teokratis itu diwujudkan. Misalnya, rezim Taliban di Afghanistan yang kejam terhadap rakyatnya sendiri demi ketaatan terhadap syariat Islam sebagai hukum negara dan ide negara (agama) Yahudi oleh Rabi Mei Kahane yang konsekuensinya harus mengusir warga Arab di daerah Judea dan Samaria.

Jelas bagi kita bahwa ide negara teokratis itu masih terus menjadi hantu yang menakutkan di zaman modern ini. Apalagi jika diwujudkan dalam negara pluralis seperti Indonesia. Ide tersebut tidak hanya berlawanan dengan hak asasi manusia, tetapi juga tidak pernah sukses ketika menjelma menjadi realitas.

Keempat, agama yang membiarkan terjadinya “tujuan yang membenarkan cara”. Hal ini berkaitan dengan penyalahgunaan komponen-komponen dari agama sendiri. Agama tidak mungkin ada tanpa komponen-komponen yang hakiki, seperti ruang dan waktu yang sakral, komunitas dan institusi keagamaan.

Komponen-komponen tersebut hanyalah sarana. Namun, sarana tersebut dijadikan tujuan, dan untuk meraih tujuan itu dipakailah segala cara. Para pemeluk bahkan tidak segan-segan untuk saling meniadakan.

Untuk Kita kaum Beragama

Sekiranya jelas bagi kita bahwa sumber kekerasan itu bukan agama, melainkan kita yang mengaku diri beragama. Agama itu niscaya suci dan sakral, sedangkan manusia adalah berdosa meskipun kadang berbuat baik. Kita suci karena kita beragama.

Agama yang suci dan sakral layak kita jaga dengan cara kita bertingkah. Dengan beragama, semestinya manusia terjangkit virus suci dari agama dan menyebarkannya kepada semua orang. Bukan sebaliknya, kita memproyeksikan kejahatan kita pada agama.

Umat beragama di Indonesia sangat terkenal dengan toleransinya. Toleransi itu hendaknya lahir pada keyakinan bersama bahwa setiap agama mengajarkan kita untuk saling mengasihi sebagai warga negara Indonesia. Semoga ini menjadi kekuatan bersama untuk melawan kelompok radikal yang akhir-akhir ini mulai bermunculan.

Mari kita menjaga kesucian agama kita dan menghormati agama lain. Kita beragama untuk memohon pembelaan dari Tuhan dalam hidup kita, bukan membela Tuhan dengan menyingkirkan orang lain.

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password