breaking news New

Senator NTT Minta Pancasila Kembali Masuk Kurikulum

Jakarta, Kabarnusantara.net – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Adrianus Garu mendukung penuh pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). Lembaga itu diharapkan bisa merevitalisasi dalam pengamalan dan penghayatan Pancasila.

“Pembentukan lembaga itu sangat bagus. Saya dukung penuh keberadaannya,” kata Andre, sapaan akrab Adrianus dalam Sosialisasi Empat Pilar di‎ SMK Stella Maris, Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, NTT, Jumat (9/6).

Ia menjelaskan dalam situasi saat ini, di mana banyak orang sudah mulai lupa dengan Pancasila maka kehadiran lembaga itu sangat relevan.‎ Padahal Pancasila adalah dasar negara ini dan sebagai pedoman berbangsa dan bernegara.

“Mau jadi apa negara ini, kalau anak-cucu kita sudah enggak kenal Pancasila. Nanti paham radikalisme dan terorisme yang menjamur jika Pancasila tidak dibumikan lagi,” ujar melalui rillis yang diterima kabarnusantara.net, Jumat malam.

Senator yang kini duduk di Komite IV bidang Perbankan, APBN dan hubungan keuangan pusat serta daerah ini mengusulkan agar Pancasila kembali masuk dalm kurikulum dan dipelajari sejak TK hingga perguruan Tinggi. Butir-Butir Pancasila yang pernah ada di zaman lalu, harus dihidupkan lagi. Tujuannya agar masyarakat bisa memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

“Tidak cukup hanya pendidikan kewarganegaraan seperti sekarang. Harus tetap ada porsi yang lebih besar soal pemahanan akan Pancasila supaya masyarakat kuat pemahaman ideologinya,” ungkap politisi Partai Hanura ini.

Meski demikian, dia meminta pemerintah saat ini agar tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi pada Orde Baru. Jangan jadikan kampanye Pancasila untuk motif politik dalam menanamkan doktri dari penguasa.

“Jangan bodohi masyarakat dengan topeng Pancasila. Kalau berlaku seperti masa lalu, yang terjadi adalah masyarakat tidak menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Lebih banyak sekedar menghafal ayat-ayat karena dipaksa,” tutupnya. (Wirawan/KbN) 

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password