breaking news New

TPDI Kritisi Rencana Tour de Flores (TdF) Kedua

Jakarta, Kabarnusantara.net – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mengkritisi rencana Tour de Flores (TdF) kedua yang akan digelar Juli tahun ini. Pelaksanaan TdF kedua, menurut Petrus, menyisakan polemik serius.

“Sukses yang digembar gemborkan dalam Tour de Flores (TdF) 2016 yang lalu masih menyisakan polemik soal beban biaya yang harus dipikul oleh Pemerintah Daerah dan polemik itu muncul kembali dalam penyelenggaraan TdF 2017 ini, yaitu persoalan biaya yang wajib dikeluarkan Pemerintah Daerah melalaui APBD oleh Kabupaten yang menjadi daerah tuan rumah star, daerah etape dan daerah final di Labuan Bajo, yang akan diselenggarakan pada tanggal 24-29 Juli 2017 yang tinggal satu bulan lebih,” disampaikannya melalui siaran pers yang diterima kabarnusantara.net.

Menurut Petrus, semua pihak mengklaim diri telah berhasil menyiapkan perhelatan Tour de Flores (TdF) 2017, tetapi suara masyarakat sebagai salah satu elemen penting dalam Kepariwisataan nyaris tak terdengar.

“Kesiapan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten patut kita apresiasi, karena hal ini membuktikan bahwa Pemerintah berupaya keras untuk menjadikan TdF 2017 sebagai upaya mempromosikan Pariwisata Flores yang diisi dengan kegiatan Balap Sepeda Internasional dengan wisata olahraga lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Petrus, kalau klaim keberhasilan persiapan TdF 2017 dari sisi Pemerintah dan Panitia Penyelenggara sudah diketahui oleh publik, lalu bagaimana dengan suara masyarakat sebagai salah satu pihak sebagai pelaku kegiatan pariwisata khususnya dalam TdF 2017 ini.

“Masyarakat Flores seharusnya menjadi pelaku utama dalam kegiatan TdF 2017 ini, sementara Pemerintah Daerah cukup menjadi fasilitator sekaligus membimbing masyarakat dalam karya Kepariwisataan ini. Namun yang terjadi sebaliknya dan masyarakat justru menjadi penonton pasif yang tidak tahu dan tidak dapat apa-apa,” ujarnya lagi.

Apalagi, beberapa Kepala Daerah dan Masyarakat keberatan dengan pembebanan biaya setiap Kabupaten daerah etape, karena harus memikul beban biaya Rp.1 miliar bahkan lebih.

Menurut advokat peradi itu, biaya itu sangat membebani dan mengganggu cash flow Pemerintah Daerah.

“Sejumlah Bupati secara kritis mempertanyakan urgensi pembebanan biaya melalui APBD masing-masing Kabupaten, belum lagi dari suara masyarakat yaitu “kami dapat apa” dari perlehatan TdF 2017 ini,” ungkapnya.

Ia pun mempertanyakan peran Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan para Bupati se-daratan Flores, NTT.

“Mampukah mereka menterjemahkan dan mewujudkan tujuan paling hakiki dari TdF 2016 dan TdF 2017 ini. Kemampuan menterjemahkan dan mewujudkan tujuan paling hakiki dari TdF 2017 ini sangat relevan untuk digugat, karena semua pihak sudah mengklaim diri telah berhasil mempersiapkan perhelatan TdF 2017, akan tetapi suara masyarakat Flores dalam hingar bingar sukses persiapan ini, nyaris tak terdengar bunyinya sepertihalnya dalam TdF 2016,” ucap dia.

Ia melanjutkan, pertanyaan ini penting untuk dijawab, mengingat karakter birokrat kita di daerah sangat minim dalam melakukan inovasi dan miskin kreasi, padahal di dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah, masalah “Inovasi Daerah” dan “Kreatif Daerah” sudah diamanatkan untuk dijadikan sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi masyarakat di daerah dalam rangka meningkatkan daya saing daerah.

“Birokrat kita lebih suka melayani kepentingan orang-orang pusat, ketimbang mencari terobosan untuk menciptakan hal-hal baru yang lebih inovatif dan kreatif untuk memberdayakan masyarakat kita agar mampu berinovasi dan berkreasi guna meningkatkan daya saing diri, keluarga, masyarakat dan sekaligus daya saing daerahnya,” tegasnya.

“Karakter birokrat kita pada umunya hanya mau mengabdi ke atas, menyikut ke samping dan menginjak ke bawah ( politik gaya kodok), terlebih-lebih ketika menghadapi event-event berskala nasional bahkan internasional,” lanjutnya.

Menurutnya, inilah yang menyebabkan birokrat di NTT minim inovasi dan miskin kreatif, karena lebih senang mengabdi kepada atasannya ketimbang kepada masyarakat yang harus mereka layani.

Karena itu, lanjutnya, sulit diharapkan multiplier effect dan trickle down effect sampai ke sasaran yaitu Masyarakat Flores dalam event TdF 2017 sebagai dampak ekonomi dari event TdF 2016 yang lalu.

“Seperti pepatah kita menyatakan efek ekonomi semakin jauh panggang dari api. Mengapa, selain karena rendahnya partisipasi masyarakat, masyarakat kurang dipersiapkan, juga pemerintah daerah kurang melibatkan masyarakat untuk berperan serta dalam event internasional ini, sebagai bagian dari hak masyarakat untuk berperan serta sebagai salah satu elemen dalam usaha kepariwisataan kita. Pemerintah masih hanya sebatas menghimbau masyarakat untuk berpartisipasi, namun Pemerintah tidak pernah secara sungguh-sungguh melakukan pemberdayaan sosial bagi masyarakat untuk siap secara mental dan ekonomi menjadi pelaku bisnis dalam TdF 2016 dan TdF 2017 sebagai persoalan pokok yang berada pada bagian hulunya,” jelasnya.

Padahal, Undang-Undang No. 10 Tahun 2009, Tentang Kepariwisataan telah memberi batasan yang tegas bahwa “Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dengan masyarakat setempat, serta sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.

“Dari batasan yang disebutkan oleh UU Kepariwisataan tersebut ada 4 (empat) unsur yang akan berinteraksi dalam penyelenggaraan Kepariwisataan yaitu unsur masyarakat, unsur wisatawan, unsur pengusaha dan unsur pemerintah. Namun dari ke 4 (empat) unsur ini, unsur masyarakat merupakan elemen yang paling sial, karena dalam kegiatan penyelenggaraan TdF 2016 dan TdF 2017 ini masyarakat tidak dilibatkan atau dilibatkan tetapi dalam skala yang sangat terbatas serta tidak punya posisi tawar yang memadai terutama dalam hal-hal untuk ikut menentukan hak-hak masyarakat secara layak dan proporsional dalam event TdF 2017 ini,” tutupnya. (Wirawan/KbN)

<

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password