breaking news New

Tour de Flores Harus Jadi Momentum Membangun Budaya Eksotik Flores

Pemerintah selalu ingin jalan sendiri dan memperlakukan masyarakat sebagai obyek bukan sebagai subyek

Secara keseluruhan persoalan keadilan dan kesejahtraan sosial di NTT merupakan masalah akut yang belum tersentuh secara bijaksana oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Masyarakat NTT pada umumnya belum tahu bahkan tidak mengerti tentang segala hal yang dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.

Hal ini terjadi, karena pemerintah selalu ingin jalan sendiri dan memperlakukan masyarakat sebagai obyek bukan sebagai para pihak/subyek. Apalagi untuk diberi peran sebagai wujud peran serta masyarakat dalam pembangunan, wujud peran serta masyarakat untuk ikut serta dalam menentukan perencanaan APBD dan wujud peran serta masyarakat dalam menentukan hal-hal yang terkait dengan kebijakan publik, termasuk di dalamnya ikut menentukan event Tdf 2016 dan TdF 2017.

Padahal, TdF 2016 dan TdF 2017 merupakan ajang promosi pariwisata Flores yang multidimensi. Seharusnya masyarakat disiapkan dengan berbagai macam keterampilan melalui program pemberdayaan sosial masyarakat lalu diberi peran utama. Sehingga, dengan demikian sebagian kebutuhan wisatawan bisa dilayani oleh masyarakat Flores yang terlatih, entah itu di bidang perhotelan, transportasi, restoran, kuliner, souvenier, pertunjukan hiburan dll.

Namun, kenyataannya untuk sekadar hanya sebagai relawan pemandu wisatapun sejumlah Kabupaten di NTT belum memilikinya, sehingga ini memerlukan keterlibatan banyak pihak dengan multidisiplin Ilmu Pengetahuan yang memadai.

Baca juga: TPDI Kritisi Rencana Tour de Flores (TdF) Kedua

Ini akan menjadi problem besar, problem yang multidimensi dalam Kepariwisataan Flores karena TdF 2016 dan TdF 2017, bisa saja mampu mendatangkan wisatawan dalam jumlah jutaan orang, akan tetapi kemampuan Sumber Daya Manusia kita nihil. Sehingga kemampuan memfilter diri sangat jauh dari kelayakan, karena pemerintah selama ini mengabaikan persoalan pemberdayaan sosial masyarakat. Akibatnya, putra putri Flores, NTT hanya menjadi manusia-manusia yang minim terampil, pekerja malas yang tidak berwawasan, minim kreatif dan inovatif dengan daya saing yang sangat rendah dan lama kelamaan menjadi beban daerah dan negara.

Dengan demikan, pertanyaan yang muncul adalah siapa yang bakal menikmati dana yang disedot dari wisatawan dalam 3 (tiga) tahun mendatang yang dalam penyelenggaraan TdF 2016 yang lalu diprediksi tidak kurang dari 1,6 juta wisatawan mancanegara yang akan datang ke Flores dengan total pengeluaran sebesar Rp. 20,4 triliun. Pada tahun 2016 pasca TdF 2016 diharapkan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Flores sekitar 500.000 (lima ratus ribu) wisatawan, dengan total pengeluaran 1 miliar dollar atau setara dengan nilai Rp. 14 triliun.

Siapa yang menikmati dana dengan jumlah puluhan triliun yang disedot dari wisatawan mancanegara. Apakah Masyarakat lokal, Pengusaha luarkah atau oknum-oknum Pejabat melalui kroni-kroninya dari luar Flores?

Pemerintah pusat sudah menciptakan iklim ekonomi yang bisa memberi ruang kepada masyarakat daerah di Flores agar masyarakat bisa bangun dari tidurnya, bisa bangkit dari ketertinggalannya dan bisa mandiri agar mampu melepaskan diri dari persoalan sosial berupa kemiskinan yang melilitnya secara struktural dan kultural, semata-mata karena pemerintah daerah mengabaikan, menelantarkan dan tidak segera memberdayakan masyarakatnya.

Ada semacam faktor kesengajaan yang tersembunyi dari aparat pemerintah kita agar masyarakat dibiarkan tetap statis dan apatis, sebagai akibat gaya kepemimpinan pejabat kita yang merasa dirinyalah yang paling benar sendiri. Untuk apa melibatkan masyarakat, toh masyarakat tidak mengerti TdF, tidak mengerti balap sepeda dan tidak paham pariwisata atau tourism.

Kondisi riil masyarakat di setiap Kabupaten yang menjadi daerah etape TdF 2016 yang lalu dan sekarang TdF 2017, sangat menyedihkan sementara dampak ekonomi yang ditimbulkan sangat besar bagi masyarakat tetapi tidak kena ke sasaran yang dituju. Jika masyarakat Flores jauh-jauh hari sudah disiapkan keterampilan, kemampuan berwirausaha, kemampuan untuk tetap kuat mempertahankan jati diri sebagai masyarakat yang berbudaya dan beradab.

Lalu bagaimana dengan kesiapan Pemda masing-masing Kabupaten, menyangkut kemampuan menggerakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong masyarakat agar event TdF 2017 menjadi milik masyarakat. Ini yang belum nampak, karena yang nampak adalah bagaimana mereka megabdi ke atas, menyikut ke samping dan menendang ke bawah.

Potret 9 (sembilan) kota Kabupaten atau 5 (lima) daerah etape, masih menyedihkan, karena secara umum masih menggambarkan bahwa selama bertahun-tahun tergolong daerah tertinggal. Terlebih-lebih para Bupati yang lahir dari pilkada ke pilkada belum ada satupun Bupati hasil pilkada yang memiliki kemampuan managerial yang baik dan secara sungguh-sungguh ingin menata dan mengurus kota dan masyarakatnya dengan memadukan antara peradaban dengan budaya dan eksotikanya dalam satu bingkai wajah kota yang eksotik dan humanis yang tersebar di setiap Kabupaten di Flores.

Budaya dan peradaban di Flores telah dikacaukan oleh sistim tata kelola pemerintahaan yang lebih mengutamakan persoalan politik pencitraan diri atau tebar pesona, sementara persoalan budaya dan peradaban yang seharusnya menjadi potret Kota di Flores diabaikan. Kebersihan, keindahan dan keteraturan diabaikan, sehingga memberi kesan Kota-kota Kabupaten di Flores tidak dikelola oleh sebuah pemerintahaan yang mengedepankan potret kota yang menyatukan budaya dan peradaban dalam satu tata kelola yang baik.

Jika kita mau jujur maka di NTT sebenarnya semua Kabupaten berada dalam kriteria sebagai daerah tertinggal. Hasil survey yang diumumkan pemerintah belum lama ini dimana NTT termasuk 5 Provinsi yang 17 (tujuh belas) dari 22 Kabupaten/Kotanya tergolong daerah tertinggal setelah Papua 25 (dua puluh lima) Kabupaten.

Oleh: PETRUS SELESTINUS, KOORDINATOR TPDI, ADVOKAT PERADI

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password