breaking news New
Istimewa

Syafrudin Atasoge: Pancasila adalah Pemersatu

Lembata, Kabarnusantara.net- Pancasila kembali dibicarakan di berbagai tempat, termasuk oleh anggota MPR RI dari Unsur DPD RI Syafrudin Atasoge yang sedang mensosialisasikan Pancasila dan konstitusi Indonesia bersama Pemerintah dan Masyarakat Desa Dulitukan, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT. Minggu (11/6).

Dalam diskusi ini tersiratkan ada kerinduan sekaligus paradoks terhadap Pancasila. Kerinduan, karena Pancasila masih memberikan ruang hidup bersama, tetapi sudah tidak banyak dibicarakan lagi, dilupakan. Di titik ini harapan tentang Pancasila menyiratkan perluanya pengembangan dan revitalisasi, senyinyir dan sepesimis apa pun ketika disebut “Pancasila yang hidup”.

Dalam memaparkan Materinya, Syaf (Sapaan akrab Syafrudin Atasoge) mengutip apa yang disebut Bung Karno: “Dasar negara yang kita butuhkan ialah pertama, bisa mempersatukan; kedua, satu dasar yang bisa memberikan arah bagi perikehidupan negara kita itu. Katakanlah dasar statis di atas mana kita bisa hidup bersatu; dan dinamis kemana kita harus bisa berjalan, juga sebagai negara”.

Syaf Juga Berkata “dalam sejarah kita sebagai bangsa, peran penting Pancasila adalah bisa “mempersatukan” dan ini tidak mungkin diabaikan, meskipun di sana-sini ada anomali yang tidak bisa ditutupi. Sila-sila dalam Pancasila adalah meja statis dari segi jumlah dan bunyi hurufnya yang bisa diterima oleh kebanyakan kelompok, dan karenanya ia bukan keranjang yang apa saja bisa dimasukkan. Meski begitu Pancasila juga mengandung arti dinamis, karena bisa memayungi berbagai orientasi dan kecenderungan semua anak bangsa menghadapi perkembangan zaman.

Aspek pemersatu dalam Pancasila, pada kenyataannya, dibuktikan setelah setengah abad lebih, bangsa Indonesia masih mempertahankan kebersatuan bersama sebagai bangsa. Meskipun disadari terjadi degradasi yang tidak kecil karena bangsa ini tidak kunjung bisa mewujudkan kemanusaian yang beradab dan keadilan sosial, dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembukaan UUD 45. Degradasi ini tidak menyurutkan arti penting munculanya kesadaran dari banyak kalangan bahwa kita sebagai bangsa betul-betul majemuk yang saat ini masih ingin bersatu dalam sebuah bangsa.

Gagasan ini mengharuskan aspek lain, yaitu penempatan peran negara pada tempat semestinya; dan mendorong artikulasi antar kepentingan dalam saluran demokrasi yang beradab. Peran negara di sini perlu menjamin keselamatan dan hak masing-masing kelompok dan individu untuk bisa bersuara; sekaligus menjadi polisi antarkelompok yang adil, diperlukan bagi kelangsungan bangsa di jangka panjang.

Sementara saluran demokrasi yang beradab, akan memberikan jaminan keselamatan kepada mereka yang takut terhadap pandangan lain; dan dengan saluran-saluran demokrasi itu pula akan ada kontrol publik. Masalahnya, kalau negara tidak memerankan sebagai polisi antarkelompok; justru menjadi otoritas penafsir faham tertentu; memberi konsesi berlebihan terhadap kelompok tertentu; tidak berhasil mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan mengalihkan problem internalnya ke isu ke percekcokan publik; dan kalau negara dengan dasar Pancasila justru tidak lagi merasa perlu terhadap aspek adiluhung nilai-nilai Pancasila; dan lain-lain, maka upaya menjadi “Pancasila hidup justru terkunci” oleh para elit tutup Syaf. (Wirawan/KbN) 

<

17 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password