breaking news New

Bupati Sikka Harus Bertanggung Jawab Atas Batalnya Proyek Jalan Senilai 50 Miliar

Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokad PERADI

Oleh: Petrus Selestinus

Kabarnusantara.net-Pembangunan Proyek Jalan Lingkar Luar Maumere, nyaris jadi kubangan sapi akibat diterlantarkan pembangunannya oleh Bupati Sikka, Josef Ansar Rera selama bertahun-tahun sejak Bupati Sosimus Mitang mengakhiri jabatannya tahun 2013.

Sebelumnya, Proyek Jalan Lingkar Luar ini dirintis pembebasan lahannya dan dibangun oleh Bupati Sikka Aleks Longinus dan kemudian dilanjutkan oleh Bupati Sosimus Mitang hingga tahun 2013. Namun, sejak 2013 hingga sekarang pekerjaannya diterlantarkan dan baru pada tanggal 21 September 2016, Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera mengajukan Permohonan Revisi DAK Penugasan Tahun 2017 kepada Menteri Keuangan RI, Cq. Dirjen Perimbangan Keuangan di Jakarta untuk dilanjutkan pekerjaannya.

Proposal Bupati Sikka, Yosef Ansar Rera tersebut dibawa oleh Boy Satrio, Plt. Kepala Dinas PU Kabupaten Sikka kepada Ketua Komisi XI DPR RI, Melchias M. Mekeng dengan harapan agar Usulan Revisi DAK Penugasan 2017 dibantu atau diperjuangkan, namun oleh Melchias M. Mekeng setelah mempelajari proposal usulan menyatakan hanya akan memperjuangkan usulan proyek yang tertera pada point 3 (tiga) Proposal Daftar Usulan Rencana Kegiatan Kabupaten Sikka 2017 yang disusun oleh Bupati Sikka Yosef Ansar Rera, yaitu Pembangunan Jalan pada Lingkar Luar Paket 1 sebesar Rp. 25 miliar dan Lingkar Luar Paket 2 sebesar Rp. 25 miliar atau total Rp. 50 miliar.

Politik Ijonisasi Dalam Kekuasaan di Sikka

Melchias M. Mekeng akhirnya berhasil mendapatkan persetujuan dari Kementerian Keuangan RI dan dinas-dinas terkait seperti Binamarga dan Bapenas tentang bantuan anggaran Rp.50 miliar untuk pengerjaan Proyek Jalan Lingkar Luar Maumere Paket 1 sebesar Rp. 25 miliar dan Lingkar Luar Paket 2 sebesar Rp. 25 miliar, guna melanjutkan pembangunan yang sudah mangkrak 5 (lima) tahun lebih tanpa ada yang bertanggung jawab. Namun, yang mengejutkan adalah belum sempat anggaran Rp. 50 miliar cair, ternyata dalam pembahasan bersama DPRD di Sikka terjadi persekongkolan jahat yang mengubah peruntukan anggaran Rp. 50 miliar untuk Jalan Lingkar Luar Maumere dengan cara dialihkan dan dipecah menjadi dua proyek yaitu untuk pekerjaan lain di luar Jalan Lingkar Luar Maumere.

Publik lantas curiga, karena daerah yang menjadi target pembelokan proyek Lingkar Luar Maumere adalah lokasi dimana secara geopolitik sangat terkait dengan keuntungan politik dalam pilkada Sikka Bupati Sikka Josef Ansar Rera dan Ketua DPRD Sikka Rafael Raga, yang dalam pilkada 2018 yang akan datang, disebut-sebut akan berpasangan sebagai Cabub dan Cawabub Sikka. Karena itu, kita patut menduga bahwa pembelokan pekerjaan proyek Jalan Lingkar Luar Maumere adalah bermotif korupsi politik pencitraan dan dapat dikualifikasi sebagai percobaan melakukan kejahatan korupsi demi suksesnya paket Josef Ansar Rera-Rafael Raga di pilkada Sikka 2018.

Oleh karena itu, atas dasar pertimbangan menyelamatkan uang negara (akuntabilitas dan kehati-hatian), Melchias M. Mekeng langsung meminta Kementerian Keuangan RI untuk membatalkan bantuan dana Rp.50 miliar yang sudah disetujui itu, karena dikhawatirkan dana tersebut akan dipergunakan untuk kepentingan korupsi politik pencitraan memoles wajah-wajah bopeng dan tambal sulam pembangunan Sikka yang selama ini tidak fokus pada tujuan utama untuk kesejahteraan rakyat Sikka. Selain itu, terendus informasi bahwa sebelum anggaran proyek disetujui oleh Kementerian Keuangan RI, Bupati Ansar Rera sudah mengijonkan proyek Lingkar Luar Maumere kepada Kontraktor-kontraktor lokal di Sikka.

Secara hukum pidana, pembelokan pekerjaan proyek yang menggunakan APBN/APBD di luar tujuan pemberian bantuan dapat dikualifikasi sebagai sebuah percobaan kejahatan korupsi dimana Bupati Sikka Josef Ansar Rera dan Ketua DPRD Sikka Rafael Raga dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana, mengingat Anggaran Pembangunan Jalan Lingkar Luar yang sudah disetujui sebesar Rp. 50 miliar itu adalah dana APBN, namun secara diam-diam peruntukannya mau dibelokan untuk tujuan lain di luar tujuan untuk kesejahteraan rakyat banyak yaitu melanjutkan Pembangunan Jalan Lingkar Luar Maumere yang mangkrak selama bertahun-tahun dengan total anggaran sebesar Rp. 50 miliar.

Pola Mempertahankan Kekuasaan di Atas Korupsi

Peristiwa ini sungguh-sungguh “memalukan”, dan menunjukan betapa rendahnya moralitas dan integritas pemimpin di SIKKA. Dari segi Etika, ini merupakan pengkhianatan terhadap komitmen dengan Ketua Komisi XI DPR RI, Menkeu, Bapenas, Binamarga Masyarakat Sikka sedangkan dari segi hukum, tindakan ini bisa dikualifikasi sebagai Tindak Pidana Percobaan Melakukan Korupsi, terlebih-lebih terbetik informasi bahwa proyek yang terkait dengan dana bantuan Rp.50 miliar itu sudah diijonkan kepada kontraktor-kontraktor lokal”. Padahal pekerjaan menggolkan bantuan sebesar Rp. 50 milar bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pekerjaan yang mau dilaksanakan adalah melanjutkan proyek yang sudah mangkrak bertahun-tahun dan dilakukan menjelang pilkada 2018, sehingga potensial untuk dikorupsi.

Akibatnya, pimpinan Komisi XI DPR RI Melchias M. Mekeng langsung meminta Kementerian Keuangan RI menghentilan bantuan dana Rp.50 miliar tersebut sebagai langkah penyelamatan, setelah mendapatkan laporan dari masyarakat yang terkonfirmasi, bahwa Anggaran Pembangunan Proyek Lingkar Luar Maumere sebesar Rp. 50 miliar dimaksud, diam-diam sudah dibelokkan peruntukannya untuk pekerjaan proyek di tempat lain, bahkan pekerjaan proyek itu sudah diijonkan kepada kontraktor-kontraktor lokal di Sikka dengan target akan digunakan untuk korupsi politik demi mengisi pundi-pundi dalam membiayai politik pilkada 2018.

Ini sebuah agresifitas Yosef Ansar bagaimana memoles dan mengemas citra wajah-wajah bopeng kepemimpinan di Sikka agar terkesan sebagai pemimpin Sikka yang hebat bahkan fenomenal untuk mendulang elektoral di pilkada 2018, melalui usaha membangun infrastruktur jalan dll. demi kemakmuran masyarakat Sikka. Padahal masyarakat Sikka justru mencibir karena tahu bahwa ini adalah politicking, sebuah agresifitas memoles citra untuk mendulang elektoral dalam pilkada Sikka 2018, dimana Josef Ansar Rera dan Rafael Raga secara berpasangan akan maju dalam Pilkada Sikka 2018.

Koordinator TPDI & Advokad PERADI

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password