breaking news New

DIY Siap Berlakukan Sekolah Lima Hari

Yogyakarta, Kabarnusantara.net-Sri Sultan Hamengkubowno X mengatakan Daerah Istimea Yogyakarta (DIY) siap melaksanakan sekolah lima hari jika didukung dengan sarana prasarana sekolah yang memadai. Hal ini diungkapkannya untuk merespon rencana sekolah lima hari yang ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada bulan Juli nanti.

“Saya mempersilahkan sekolah untuk mengikuti sistem ini jika fasilitas dan murid sudah siap. Kalau sudah ada (sekolah) yang siap ya silahkan diterapkan. Kalo belum ya jangan”, katanya saat dijumpai sejumlah awak media di Kantor Gubernur DIY pada Senin, 19 Juni 2017.

Selain itu, Sultan menilai sistem lima hari sekolah ini bertujuan untuk membentuk pendidikan karakter anak dan pencegahan tindak kekerasan antara anak.

Lebih lanjut, Sultan menegaskan adanya pembentukan karakter anak yang bisa ditumbuhkan di lingkungan masyarakat. Anak sendiri diminta untuk diberi kemudahan sosialisasi di masyarakat sehingga harapannya anak mendapatkan keseimbangan pendidikan karakter antara di masyarakat dan di Sekolah.

“Kalau seseorang tidak pernah sosialiasasi maka bagaimana dia bisa mengembangkan karakter dan wawasannya, keseimbangan itu penting dan dibangun saat di sekolah dan di masyarakat”, kata Gubenur DIY tersebut.

Sultan juga mengatakan pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan di sekolah agar anak dapat mandiri tidak hanya mengikuti kebiasaan ikut-ikutan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIY, Arif Noorhartanto mengatakan setuju jika sistem masuk sekolah lima hari sepekan bertujuan untuk menangani permasalahan kekerasan pada murid. Namun ia tidak setuju jika selama satu hari penuh pembelajaran berlangsung di dalam kelas.

“Namun, ini juga menjadi tuntutan bagi guru untuk menciptakan pola kreativitas guru di kelas, saya juga tidak setuju jika 8 jam belajar di ruangan, proses pembelajaran harus lebih detilkan lagi khususnya pembelajaran masyarakat.

Meski demikian, dirinya menekankan penerapan sekolah lima hari ini juga perlu ada pertimbangan geografis juga. Khususnya sekolah Yogyakarta di daerah pinggiran tidak bisa serta-merta mengikuti sistem sekolah yang ada di kota.

“Nanti bakal ada varian dan solusinya, karena ini kaitannya dengan kebutuhan kita untuk mendesain pendidikan karakter bagi peserta didik yang lebih baik”, ujarnya. (AT/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password