breaking news New

Kota Komba-Yogyakarta Pertanyakan Kucuran Dana TdF 2017 Kabupaten Matim

TdF Tahap I

Yogyakarta, Kabarnusantara.net- DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menyepakati anggaran promosi pariwisata tahun 2017 sebesar Rp.
1.049.363.000.

Sayangnya, sejumlah Rp. 958.063.000 dari anggaran promosi wisata Mangarai Timur tersebut, dikucurkan untuk menyukseskan Tour de Flores (TdF) tahun 2017, seperti yang dirilis media indonesiakoran.com pada (25/6) lalu.

Pemberitaan tersebut menuai tanggapan serius dari Paguyuban Kota Komba Yogyakarta.

Seperti yang disampaikan Aldus Wae, salah satu angggota Paguyuban Kota Komba Yogyakarta yang juga merupakan mahasiswa Hukum UAJY. Aldus mengaku pesimis dengan dana yang dikucurkan Kabupaten Matim untuk menyukseskan TdF tahap dua demi meningkatakan pembangunan pariwisata Kabupaten Matim.

“Ajang TdF kali lalu saja tidak nampak hasil yang bisa meningkatkan potensi wisata di Kabupaten Matim, kok sekarang masih berani mengeluarkan dana yang sebesar itu. Sebagai orang Manggarai Timur saya sangat pesimis dengan agenda TdF 2017 ini”, ungkap Aldus saat diwawancarai Kabarnusantara.net pada Minggu, 28 Juni 2017.

Lebih lanjut, Aldus menuntut transparansi dari Pemkab Matim soal kucuran dana untuk TdF tahap dua tersebut.

“Alokasi dan untuk belanja, pegawai sebesar Rp 91.300.000, belanja barang dan jasa sebesar Rp 958.063.000, dan belanja monitoring, evaluasi, dan pelaporan sebesar Rp 20.000.000 harus bisa taransparan dan dilaporkan ke masyarakat. Pasalnya, anggaran tersebut berasal dari APBD yang adalah uang rakyat”, beber Aldus.

Ia pun menilai keterlibatan Pemkab Matim dalam suksesi Tdf 2017 hanya sebatas euforia belaka.

“Harus diakui, infrastruktur penunjang pariwisita di Manggarai Timur belumlah beres. Lihat saja, jalan menuju beberapa tempat wisata masih banyak yang rusak, listrik belum ada, dan masih banyak yang lainnya. Karena itu, Pemda Matim perhatikan dulu itu. Jagan sampai ini hanya sebatas euforia yang menghabiskan uang rakyat, smentara masih banyak daerah terpencil dan tertinggal di Matim yang butuh dibangun “, jelas Aldus.

Menapik realitas pembangunan Pariwisata di Matim, Giovany, salah satu anggota Paguyuban Kota Komba yang juga adalah Presiden BEM Univesitas Janabdra, Yogyakarta, menilai belum ada perubahan yang baik selama ini.

“Hemat saya, sampai sekarang ini pembangunan pariwisata di Matim belum ada perubahan sama sekali, infrastruktur dibangun malah jadi mubazir di beberapa tempat yang digadang akan jadi destinasi wisata. Masyarakat juga mengujungi tempat wisata hanya bersifat musiman dan mereka mengujungi tempat pariwisata bukan karena pemerintah berhasil mempromosikan tempat pariwisata tersebut, papar Giovany.

Selain itu, ia juga menilai Pemkab Matim belum bisa memfokuskan diri dengan apa yang mau diunggulkan dari pariwisata Manggarai Timur. Baginya, hal yang terlebih dahulu dilakukan Pemkab Matim adalah mendisain konsep yang matang terkait pembangunan pariwisata Kabupaten Matim dan itu mesti diketahui masyarakat umum baru diplotkan anggaran.

Berhubungan dengan APBD dan kebijakan Pemkab Matim untuk kegiatan promosi wisata, Wakil Ketua Kota Komba, Etlan Muhyadin mengatakan perlu adanya sosialisasi terlebih dahulu agar tidak terkesan kebijakan dikeluarkan karena adanya kepentingan pribadi atau golongan.

Lebih lanjut, ia mengharapkan rencana pembagunan pariwisata harus sesuai dengan kearifan lokal masyarakat, agar tidak terjadi sama seperti yang dialami masyarakat Manggarai Barat dalam permasalahan Pantai Pede. (Hendrikus Ales/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password