breaking news New

Periksa Tato, Siswa Ditelanjangi saat Mendaftar di SMKN Jembrana-Bali

Foto Ilustrasi Tato

BALI, Kabarnusantara.net-Salah seorang guru pria dan guru wanita di SMKN Jembrana, Bali saat berdialog dengan Komisi A DPRD Jembrana mengungkapkan praktik penelanjangan bagi calon peserta didik baru di SMKN Jembrana.

Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah calon peserta didik baru dalam tubuhnya bertato atau tidak. Mengingat terkadang ada yang bertato di tempat-tempat tersembunyi yang tidak terlihat secara kasat mata.

“Ya memang kami menyuruh mereka (calon peserta didik baru) untuk membuka baju dan membuka celana. Dua printah itu kami sampaikan sekaligus. Tapi bukan menyuruh mereka bugil,” ungkap salah seorang guru pria yang enggan menyebutkan namanya dan merupakan salah satu petugas yang melakukan tes fisik seperti yang dirilis media merdeka.com pada Selasa, 27 Juni 2017.

Praktik penelanjangan ini dilakukan sebagai realisasi dari peraturan khusus dalam PPDB yang dibuat pihak sekolah yang dijabarkan dari Permendikbud nomor 17 tahun 2017 tetang PPDB yang kemudian dijadikan dasar hukum oleh pihak sekolah Jembrana.

Meski demikian, salah satu anggota Komisi A DPRD Jembrana, Putu Duita menilai pihak sekolah kebablasan dalam membuat persyaratan khusus untuk penerimaan siswa baru 2017 tersebut.

Baginya, berdasarkan penjelasan Kepala SMK Negeri 5 Negara Gusti Ngurah Sudarma dalam Permendikbud tersebut ada salah satu pasal yang menyatakan untuk SMK atau sekolah kejuruan bisa membuat atau menambahkan persyaratan khusus dalam penerimaan peserta didik baru.

“Karena itulah sekolah kemudian membuat persyaratan khusus disesuaikan dengan kebutuhan dunia pariwisata,” terang Duita usai pertemuan dengan pihak sekolah pada Senin, 26 Juni 2017.

Persyaratan khusus yang dibuat oleh pihak sekolah mulai dari tinggi badan minimal 150 cm, daun telinga tidak bertindik dan tidak bertato. Menurutnya, aturan khusus yang dibuat pihak sekolah tersebut sudah kebablasan dan dianggap tidak relevan dan cenderung merugikan serta merampas hak seseorang untuk mengenyam pendidikan yang layak.

“Sudah pasti orang-orang yang pendek tidak punya kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah tersebut. Termasuk masalah tato,” ungkapnya.

Dia mengatakan, di dunia kerja perhotelan, yang tidak diterima adalah tato yang terlihat dengan kasat mata, bukan tato yang letaknya tersembunyi.

“Masak orang mau bekerja di hotel harus diperiksa dulu sampai telanjang agar ketahuan ada tato atau tidak. Setahu kami yang diperiksa hanya tato yang terlihat secara kasat mata,” tegasnya.

Lagi pula, aturan sekolah melakukan pemeriksaan fisik calon peserta didik baru untuk mengetahui apakah ada tato atau tidak, didasari karena orientasi siswa/siswi akan sebagai buruh pekerja pariwisata, bukan sebagai pengusaha pariwisata.

Karena itu komisi A menyimpulkan pihak sekolah kebablasan dalam mengimpletasikan Permendikbud nomor 17 tahun 2017 tentang PPDB, terutama dalam pasal yang memberikan kebebasan sekolah kejuruan membuat atau menambahkan aturan khusus.

Hal tersebut menuai respon berbeda dari Kepala SMKN Jembrana. Dalam pertemuan  dengan Komisi A, Kepala sekolah Gusti Ngurah Sudarma membantah pihak sekolah memeriksa fisik calon peserta didik baru dengan cara menyuruh peserta untuk telanjang. Menurutnya, pemeriksaan hanya dilakukan dengan cara menyingkapkan baju pada bagian punggung dan lengan. (AT/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password