breaking news New
Foto: Ilustrasi

[Puisi]: Negeri Para Perampas

Ayah…

Panggilku tentangmu bapak pendiri bangsaku

Ayah..
Panggilku tentangmu juga tentang benciku pada mereka yang telah merampas tuntas tanah kita
Tanah dari darah pengorbanan dan perjuangan

Ayah..
Sungguh, kini batinku disiksa pilu
Getaran nadi menguncang deras
Remuk, seakan diriku tak berharga di hadapan mereka
Tersungkur pada penampilan menawan tuan-tuan yang berdiri tegak di atas tanah kita.

Sawah dan ladang milik kita, kini tumbuh subur dengan gedung-gedung bertingkat, menyumbangkan polusi dengan asap hitam
Menghisap habis air kita juga tetangga
Namun, mereka hanya diam saja dan menulurkan budaya baru yang sungguh baru ku kenal

Kini, diatas tanahmu, dia duduk manis berpangku tangan sambil mengepulkan asap rokok kelabu
Seperti tungku-tungku yang menjengkelkan
Menebar senyum, lalu menebarkan janji
Layaknya dewa pemilik segalanya

Anak-anakmu kini berdiri di pinggiran jalanan, minta-minta mohon belas kasihan dari tuan-tuan
Di kolong jembatan, depan rumah-rumah mewah tuan-tuan adalah rumah bahagia anak-anakmu merajut hidup
Ayah, betapa mengerikan negeri kita ini
Negeri yang dulu menjadi surga bagi rakyat kecil kini menjadi neraka yang tidak bisa dihuni

Ayah…
Aku tak ingin kesusahan terus menerus menyelimuti negeri ini
Aku tak ingin jeritan hati rakyat kecil ini terdengar hingga langit ketujuh
Aku akan terus melawan

Jangan pernah kau remehkan jeritan hati rakyat kecil dan jangan kau jadikan jeritan hati rakyat sebagai hiburan dikala tidur mu

Karena jeritan hati ini akan berubah menjadi teriakan yang akan membawa perubahan

***

*Oleh: Maria Florida Da SilvaMahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password