breaking news New

Syafrudin Atasoge: Sekolah Berperan Penting Redam Radikalisme

KUPANG, Kabarnusantara.net – Pendidikan dalam jenjang sekolah harus berperan penting dalam membendung radikalisme di Indonesia. Sekolah harus melakukan pembedahan terhadap buku-buku yang di dalamnya terdapat sisipan-sisipan paham radikal.

“Mencegah jelas lebih baik untuk menanggulangi terorisme, dibandingkan harus menyembuhkan. Guru kemudian biasa memfilter dan mengusulkan untuk menarik buku tersebut. Maka dari itu sekolah memainkan peran penting dalam menekan angka radikalime memalui konten pendidikan dan para staf pengajarnya.” ungkap anggota MPRRI dari unsur DPDRI Syafrudin Atasoge, MPd pada Sosialisasi 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yang di selenggarakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Kupang, Kamis (20/7/2017).

Syafrudin Atasoge, MPd juga berpesan “Pada akhirnya semua eleman bangsa dari keluarga sebagai basis pendidikan awal sampai dengan tokoh agama dan pemerintah memilki peran sentral dalam menekan tumbuh suburnya paham radikal di Indonesia. Perlu adanya tindakan yang terkoordinasi dan berkesinambungan dalam proses pencegahan penyemaian benih radikalisme ini. Sehingga aksi-aksi teror yang banyak dilatarbelakangi oleh para penganut paham radikalis dapat dicegah.”

Kepala sekolah SMA Negeri 8 Kupang, Drs. Haris Akbar dalam kesempatan sosialisasi ini mengingatkan siswa-siswanya agar mencegah Perdebatan dan diskusi terbuka dengan para penggiat radikalisme dan terorisme juga harus dihindari. Biasanya para penggiat radikalisme dan terorisme memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menjebak namun logis untuk diterima. Maka dari itu tidak heran jika beberapa orang awam akan bingun menghadapi perdebatan-perdebatan ini. Dan pada akirnya akan menerima pandangan sang radikalis karena kalah berdebat. Hal ini menjadi pintu awal bagi masuknya paham radikal dalam kebanyakan kasus doktrinisasi radikalisme.

Berawal dari pemahaman agama yang sedikit dan minimnya kecerdikan dalam berdebat dan berdiskusi, paham radikal akan mudah diterima. Maka dari itu penting nampaknya menghindari diskusi ataupun perdebatan yang mengarah pada dokrinisasi paham radikal. Sebaiknya bagi kita yang tidak mampu mengimbangi pembicaraan, lebih baik menghindari diskusi dan menanyakan kembali prihal pertayaan-pertanyaan jebakan tersebut kepada orang-orang terdekat ataupun para ahli, dalam hal ini tokoh agama, akademisi, dan cendikiawan. (Yos/KbN) 

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password