breaking news New

ETMC 2017 dan Solidaritas Sosial


Oleh : Epifanius Solanta (Alumni Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Tinggal di Jakarta)


Event sepak bola terbesar yang bertajuk Eltari Memorial Cup (ETMC) di Propinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu hiburan menarik bagi masyarakat. ETMC 2017 yang diadakan di Stadion Marilonga-Kabupaten Ende kini memasuki tahap puncak. Dua tim raksasa yaitu PSN Ngada dan PERSE Ende akan berduel dalam perebutan juara ETMC 2017. Penulis di sini tidak sedang mengulas siapa yang akan menjadi the winner dalam turnamen ETMC kali ini. Tetapi fokus penulis bagaimana membidik sisi lain dari event ini dalam hubungannya dengan nilai solidaritas sosial.

Pemain, Ruang dan Penonton

Ketika mendiskusikan tentang sepak bola sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang perlu kita cermati yaitu pemain, arena (lapangan) dan penonton. Ketiganya saling bersatu padu. Pemain adalah aktor yang paling banyak mendapatkan sorotan ketika mereka berkreasi dalam mengolah si kulit bundar di lapangan. Tidak jarang para pemain akan mendapatkan pujian sekaligus makian dari penonton. Komentar yang bernada positif dan negatif akan mengusik wilayah arena (lapangan). Sedangkan arena (lapangan) akan menjadi saksi bisu bagi para pemain dan juga penonton. Arena (lapangan) menjadi wilayah atau ruang untuk bergerak bebas, bertarung kekuatan otot sekaligus otak. Sementara itu penonton yang menyaksikan langsung dari tribun sangat identik dengan teriakan-teriakan yang histeris. Mereka banyak membuat yel-yel dengan bernyanyi sambil bergoyang sebagai bentuk dukungan terhadap para pemain.

Tetapi sebenarnya ada satu aktor lagi yang tidak bisa luput dari pertandingan sepak bola yaitu wasit. Wasit adalah aktor kunci dan sangat penting terutama dalam mengatur pertandingan. Menjadi seorang wasit baik dalam skala lokal hingga internasional harus bermental berani. Wasit biasanya selalu mendapatkan sorotan publik baik yang positif maupun negatif. Tidak jarang banyak wasit yang dipukul oleh pemain dan juga dicaci maki oleh penonton. Sementara itu, ketika seorang wasit tidak ada maka situasi yang terjadi adalah chaos. Situasi yang chaos menurut Weber dalam konteks tatanan kehidupan masyarakat adalah situasi tanpa aturan.

Letak Solidaritas Sosial

Sosiolog Prancis Emile Durkheim mendefinisikan solidaritas sosial sebagai suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Setidaknya kata kuncinya terletak pada kata perasaan moral dan pengalaman emosional. Uraian yang sangat jelas dari Durkheim kemudian saya pakai untuk membaca dalam hubungannya dengan turnamen sepak bola bertajuk ETMC 2017 di Ende.

Dalam analisa saya, sekurang-kurangnya ada tiga aktor sekaligus wilayah dimana solidaritas sosial itu nampak ditampilkan kepada publik. Pertama solidaritas sosial antar pemain. Mereka adalah kelompok yang sangat rentan. Biasanya kekompakan dan semangat kolektifitas menjadi harga mati dalam sebuah tim. Solidaritas sosial dalam sepak bola bisa dinamakan kerja sama. Setiap pemain selalu berusaha untuk membantu satu dengan yang lain. Dalam dunia sepak bola sering diistilahkan dengan saling mengisi posisi. Kedua para suporter. Bentuk solidaritas sosial para suporter sangat mudah untuk dibaca. Mereka menggunakan jersey dengan warna tertentu. Misalnya suporter PSN Ngada menggunakan warna orange sebagai identitas. Atau tim dari PERSE Ende menggunakan jersey dan atribut lain yang berwarna merah. Simbol-simbol seperti ini merupakan salah satu karakteristik dari nilai solidaritas sosial. Ketiga solidaritas sosial yang diperankan oleh pemerintah. Menjadi suatu kewajiban bagi seorang pemimpin untuk berjuang bersama putra dan putri daerahnya dalam berbagai event apa pun. Solidaritas sosial dari seorang pemimpin nampak dalam keberpihakan. Misalnya seorang pemimpin selalu memprioritaskan kebutuhan pengembangan karakter putra putri daerahnya daripada untuk kepentingan yang lain. Atau juga dengan ikut berpartisipasi secara aktif menyaksikan secara langsung tim kesayangan ketika berlaga. Terkait hal ini, NTT bisa belajar dari Bupati Ngada dan Malaka.

Di akhir tulisan ini, penulis menyampaikan suatu statemen yang mungkin penting bagi kita terutama dalam membaca fenomena sosial. Bahwa pertandingan sepak bola seperti ETMC 2017 bukan semata-mata mengadu kekuatan otot dan otak dari para pemain. Tetapi lebih dari pada itu, event ETMC 2017 hendak menceritakan sejauh mana tingkat solidaritas sosial kita terhadap sesama. Solidaritas antar pemain dan juga dengan penonton. (****)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password