breaking news New

Bupati Manggarai : Soal Tudingan OMS Desa Gulung, Tidak Ada Pengalihan Proyek

Aksi OMS Desa Gulung di Jalan depan Kantor Bupati Manggarai.

RUTENG, Kabarnusantara.net – Menjawab tuntutan Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) Desa Gulung, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, dalam aksinya di Kantor Bupati Manggarai di Ruteng, Selasa, 15 Agustus 2017, Bupati Manggarai, DR. Deno Kamelus,SH,MH menegaskan tidak ada pengalihan proyek.

“Sama sekali tidak ada pengalihan proyek, karena kewenangan untuk menentukan proyek itu bukan pada Bupati Manggarai. Itu kewenangan Kementerian PDT (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia, red.). Yang Bupati buat hanya SK saja untuk melengkapi proposal OMS ke sana,” tegasnya dalam dialog dengan perwakilan peserta aksi.

Menjawab tudingan kelompok masyarakat soal ada proyek senilai Rp 2 miliar di kampung halamannya, Bupati Deno lalu menekankan tidak ada sama sekali proyek senilai Rp 2 miliar di kampung Bupati Manggarai di Rakas seperti yang diberitakan di berbagai media dan media online.

“Saya mau tegaskan ke kesa Vinsen (Ketua OMS Desa Gulung, red.), jadi tidak ada proyek Rp 2 miliar di Rakas, di Wae Wunut itu tidak ada,” ujarnya tegas.

Proyek di Wae Wunut itu, terang Deno, adalah bagian dari Wae Lega dan Wae Wunut yang nilainya Rp 285.372.000.

“Jadi kalau dibagi dua proyek ini hanya Rp 142 juta lebih. Sehingga tidak seperti yang diberitakan oleh teman-teman di media, di online. Waduh, saya senang juga kalau memang ada proyek senilai Rp 2 miliar,” tambahnya.

Dikatakan Deno, ada SK 281, 282, 283 yang ditandatanganinya, tetapi juga ada SK 241 dan 242, tentu dari situ nanti akan mengalir hubungannya dengan proyek.

“Karena proyek-proyek ini juga tidak ditenderkan di sini. Proyek ini ditenderkan di Kementerian PDT. Jadi saya hanya membantu saja untuk melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan sesuai permintaan kementerian PDT. Misalnya, Kementerian PDT bilang begini, ‘kami bisa tindak lanjut kamu punya proposal jika disertai dengan SK Bupati’. Antara lain SK lokasi, SK yang berkaitan dengan Pokmas – Kelompok Masyarakat, dan SK SK lain. Lalu kemudian tentu SK-SK itu diminta ke sini,” terangnya.

Menurut Deno, sebagai Bupati dirinya mendukung ketika ada kepala desa atau kelompok masyarakat yang mau mengusulkan proposal kepada kementerian, dirinya pasti mendukung.

“Ada kelompok masyarakat di bidang pendidikan, misalnya PAUD, sekolah-sekolah. Ketika datang ke Bupati, pasti saya support karena sumber pembiayaannya dari Pemerintah Pusat. Dalam hal ini dari Kementerian PDT,” ujarnya.

Oleh karena itu, tugas saya sebagai Bupati bagaimana memfasilitasi, mendukung dan membantu melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan oleh kementerian.

Menurutnya, proyek itu ditenderkan di Kementerian PDT, bukan ditenderkan di Kabupaten Manggarai. Karena itu, dirinya pun tidak tahu, siapa yang menang tender di Kementerian PDT untuk proyek yang senilai Rp 959.000.000.

“Itu kewenangan kementerian. Saya tidak tahu. Jadi saya mau tegaskan tidak ada pengalihan proyek. Kita hanya mendapat saja lokasinya di sini. Dan nilainya, bukan Rp 2 miliar, itu hanya Rp. 959.000.000. Dan itu dibagi di tiga tempat yaitu Wae Racang dan Wae Dangkung Rp 339 juta, dua lokasi. Wae Lega dan Wae Wunut 285 juta, dua lokasi,” ujar Deno.

“Jadi, tidak ada proyek Rp 2 miliar di kampung Bupati Manggarai di Rakas. Ada Wae Wunut di sana. Dan itu irigasi pedesaan. Bukan irigasi teknis. Wae Redong dan Wae Woi Rp 335 juta. Jadi tidak ada proyek Rp 2 miliar di Wae Wunut,” ujarnya lagi.

Dari sisi mekanisme, ujarnya, usulan ke Kementerian PDT untuk dapat proyek, itu datang dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah, red.) yang berbeda-beda sesuai dengan Menu yang disiapkan oleh Kementerian PDT. Misalnya, kalau Menu itu dari sana untuk Perbaikan Saluran Irigasi Pedesaan, maka Menu itu, usulan proposalnya dari Dinas Pertanian. Kalau Menunya dari sana untuk Irigasi Teknis seperti Bendungan besar, yang kemudian dia punya jaringan primer dan luas arealnya di atas 2.000 hektare, itu menjadi urusannya PU. Tetapi kalau berkaitan dengan trasportasi, itu urusannya Dinas Perhubungan.

“Jadi, masing-masing OPD ini, dia mempunyai usulan-usulan proposal yang berbeda terkait dengan Menu yang disiapkan oleh kementerian. Jadi itu dulu. Jangan sampai dicampuradukan. Wae Wakat itu belum ada. Kalau jadi, itu masuk kategori irigasi besar. Jadi dengan uang yang Rp 1 miliar tidak cukup,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, waktu itu ia sudah perintahkan Kepala Dinas Pertanian, Vinsen Marung, bahwa jika dari Kementerian PDT tidak ada, yah, Dinas Pertanian harus turun survey.

“Kalau memang bisa dialokasikan dari DAU (Dana Alokasi Umum, red), yah kita alokasikan dari DAU. Dan Vinsen sudah langsung turun survey. Tidak begini, ketika kamu tidak dapat dari kementerian, saya diam. Saya suruh pa Vinsen untuk turun Survei. Kalau tidak ada dari Menteri, kan masih ada Bupati yang setiap saat siap urus rakyatnya. Sakit hati saya ini. Bahkan kalau memungkinkan dari APBD II, kenapa tidak,” ujarnya.

Kemudian yang kedua, ujarnya lagi, usulan yang ada di pak Vinsen (maksudnya, Vinsen Marung, red), itu dari Dinas Pertanian. Sedangkan usulan Wae Wakat dan Jalan-Jalan itu dari Kepala Desa Gulung dan Niko, yah Niko. Maunya ada si Niko (Nikolaus Sampur, red.) itu.

Jadi usulan yang pak Vinsen punya itu dari Dinas Pertanian. Tetapi kemudian, dalam rangka usulan itu, Kementerian PDT kemudian meminta, heh saudara tolong mana SK OMS nya, mana koordinatnya sesuai dengan Menu kami untuk irigasi pedesaan.

“Lahirlah SK 241 dan 242. Maka dikirimlah 6 lokasi yaitu, Wae Racang – Wae Dangkung Rp 339 juta, Wae Lega – Wae Wunut 285 juta, dan Wae Redong – Wae Woi Rp 335 juta. Lahirlah SK 241 dan 242. Jadi usulannya berbeda, yang pa Vinsen punya itu dari Dinas Pertanian. Yang Wae Wakat dan Jalan, itu dari Kepala Desa dan konsultasi dengan Dinas PU. Makanya SKnya diparaf oleh Kepala Dinas PU sebelum diproses di Bagian Hukum. Dan tidak ada hubungannya. Beda-beda ini,” ujarnya.

Bupati Deno juga mengatakan SK proposal Desa Gulung, ia tanda tangan pada hari yang sama yaitu pada Tanggal 27 Juni 2016.

“Karena itu desakan dari Niko, berdasarkan komunikasi antara Niko, Kepala Desa Gulung dengan orang Kementerian PDT. Jadi saya support. Bupati Support. Apa saja yang kamu mau, Bupati lakukan. Kirim dokumen itu ke kementerian. Syukur kalau uang itu datang dari kementerian. Karena kita ini kurang uang,” terangnya.

Jadi, kata Deno, proposal itu datang dari dua institusi yang berbeda, ada dari Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai dan ada dari OMS Desa Gulung.

“Bupati dalam hal ini sangat mendukung usulan-usulan proposal dari masyarakat. Mudah-mudahan saja dengan tanda tangan Bupati, ada SK Bupati, itu kemudian dimudahkan semua urusannya di sana. Apalagi tanda tangan Bupati tidak dibeli dengan uang. Proposal yang ditandatangani itu untuk melengkapi usulan dalam rangka untuk mendapatkan uang. Uangnya belum didapat, belum. Lalu keputusan apakah dapat atau tidak uangnya itu ada pada Kementerian PDT, bukan pada Bupati Manggarai, tidak. Saya tidak punya kewenangan untuk menyetujui proposal ini. Itu kewenangan Kementerian PDT. Kalau minta dana APBD II seperti Bansos, itu baru kewenangan Bupati,” ujarnya.

Lalu, ujarnya, jika ada pertanyaan, kenapa Kementerian PDT tidak meloloskan usulan-usulan Kepala Desa Gulung yang miliar-miliar ini.

“Itu yang saya tidak tahu, karena mereka juga punya Menu untuk menjawab usulan-usulan. Mereka juga punya criteria untuk program-program di sana,” pungkasnya.

Sebelum dialog berlangsung, Bupati Deno berharap semua peserta aksi bisa mendengar langsung penjelasannya di Kantor Bupati. Tetapi karena sebagian peserta aksi tidak mau menemuinya di dalam ruangan, ia pun tak berkeberatan.

Menurut Deno, ia tak dapat meladeni permintaan peserta aksi untuk berdialog di jalan raya depan Kantor Bupati Manggarai.

“Saya sangat menjunjung tinggi adat istiadat Manggarai yaitu tidak baik menerima tamu di jalan. Karena itu saya memutuskan menemui perwakilan peserta aksi,” ujarnya di hadapan Koordinator Aksi, Adrianus Antur dan Ketua OMS Desa Gulung, Vinsensius Runding. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password