breaking news New

Aksi Teror ISIS dan Wajah Islam yang Damai

Reginaldus Erson, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Gerakan penangkal radikalisme amatlah urgen dibutuhkan dan diberikan kepada semua pihak.

Oleh: Reginaldus Erson. 

Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) merupakan sebuah nama kelompok ekstrim yang aktif sejak 2004 di Irak. Sepak terjang kelompok ini langsung menarik perhatian dunia internasional. Aksi teror yang dilakukan sangat sadis dan tak berperikemanusiaan. Pelbagai aksi teror kerap kali dilakukan dengan ISIS sebagai dalang utama. Misalnya aksi teroris di ibukota Prancis, Paris. Di Indonesia masih teringat jelas dalam memori kita aksi teror Sarina-Thmarin yang menelen korban 7 orang. Dan masih banyak aksi teror sadistis yang dilakukan oleh ISIS.

Melihat aksi teroris yang terjadi, semua kita tentu mengutuk perilaku tak manusiawi ini. Aksi teroris ini telah meruntuhkan ekosistem perdamaian yang dibentuk selama ini. Selain itu telah melenyapkan nyawa manusia tak berdosa. Sehingga sungguh kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Maka dalam tulisan ini, penulis coba mengangkat fenomena ISIS yang membawa nama agama islam dengan tindakan teror yang tak manusiawi.

Dalam tulisan ini, saya coba menganalisa tindakan ISIS sebagai aksi teror dan bagaimana ajaran Islam yang sesungguhnya tentang perdamaian. Hipotesis awal yang ditekankan oleh penulis bahwa tidak ada ajaran agama yang mengajarkan kekerasan dan semua pelaku teror tidak memahami ajaran agama secara komprehensif. Kemudian langkah solutif yang dianjurkan agar kita bisa menangkal setiap gerakan radikalisme di semua bidang kehidupan bernegara.

Gerakan penangkal radikalisme amatlah urgen dibutuhkan dan diberikan kepada semua pihak. Hal ini perlu karena pelbagai media massa memberitakan tentang aktivitas ISIS yang merekrut anak muda di Indonesia untuk dijadikan pejuang di Irak dan Suriah. Tentu fenomena ini sangat berbahaya dan merusak masa depan anak muda di Indonesia.

Aksi Teror ISIS Merusak Wajah Islam

Menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, kata teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan, khususnya tujuan politik. Sedangkan terorisme adalah penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan politik. Caranya menyebarkan rasa takut dan tindakan kriminal, termasuk pemboman. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, terorisme merupakan kekerasan atau ancaman yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptakan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional dan internasional.

Berdasarkan fakta sejarah, para ahli memperkirakan bahwa teroris telah tejadi dalam kurun waktu 200 tahun terakhir. RAND Cooperation, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan di Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa tindakan kaum teroris adalah tindakan kriminal dan sasaran utamanya adalah kaum sipil.

Reno Muhammad dalam bukunya yang berjudul ISIS. Mengungkap fakta Teroris Berlabel Islam, mengurai ISIS berarti menyebut nama Al-qaeda Irak, Tauhid wal Jihad, Jaisy Ath-Thaifah Al-Manshurah, Saraya Anshar Tauhid, Seraya Jihad Islam. Mereka bergabung membentuk sebuah wadah perjuangan bersama melawan Amerika Serikat.

Pimpinan Tauhid wal Jihad, Abu Musbah Al-Zarqawi dari Yordania. Pada tahun 2006, pimpinan Zarqawi diambil alih oleh Al-Muhajir dan Abu Umar Al-Baghdadi. Abu Umar Al-Baghdadi menasionalisasi gerakan. Empat tahun kemudian, ISI terus menyulut perang sektetarian dan kontra AS di bawah Abu Umar Al-Bagdadi, sampai ia terbunuh pada tahun 2010. Kepemimpinan digantikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi. Dia memiliki taktik perang yang jitu.

Pada tahun 2012, Al-Baghdadi mengalihkan perhatian ISI guna memperluas operasi ke suriah. Tepat pada 17 April 2013, ISI menyatakan tidak lagi menjadi bagian dari Al-Qaedsa fi al-Iraq. Al-Baghdadi kemudian menambahkan Levant dan Syria ke dalam nama meraka. Dunia kini mengenal mereka ISIS (Islamic State in Iraq and Syria). Pada januari 2014, ISIS mengalihkan gerakan ke Irak. Serangan ISIS makin matang dan terorganisir. Sejak itu, sejumlah kota seperti Falujjah, Anbar, Ramadi, dan Mosul jatuh di bawah kendali mereka. Dari keberhasilan ini, ISIS akhirnya mendeklarasikan berdirinya Negara Islam pada Ahad, 29 juni 2014. Abu Bakar Al-Bagdadi pun dipercaya sebagai pemimpin bagi umat muslim sedunia.

Menilik aksi kekerasan yang dilakukan oleh ISIS selama ini dikategorikan sebagai tindakan teror. Aksi teroris merupakan merupakan kejahatan kemanusian dan korbanya adalah masyarakat sipil. Kita menyaksikan mayat-mayat manusia tak berdosa bergelimpangan, luka-luka dan ada trauma psikologis yang sangat mendalam. Aksi melawan hak hidup manusia dan penghilangan secara sengaja ini, sungguh melawan hakikat hidup manusia itu sendiri. Bukan hanya itu, aksi teroris ini telah melenyapkan suatu kehidupan dalam perdamaian, dan memaksa orang menghidupi kekerasan. Dengan itu kehidupan manusia digiring kepada kekerasan dan penderitaan.

Aksi terorisme yang dilakukan oleh ISIS sangat mencedrai nilai perdamaian dalam agama islam. Perdamaian dalam Islam sangatlah dijunjung tinggi dan selalu mengajarkan untuk membuat kebajikan. Permusuhan terhadap umat beragama lain tidak dikehendaki oleh Nabi Muhammad. Bahkan dalam sejarah islam diceritakan tentang persekusi yang dilakukan oleh kaum Quraysh terhadap nabi Muhammad.

Maka Nabi menganjurkan agar para pengikutnya bermigrasi ke Habshi tahun 615 melewati laut Merah. Sekelompok kecil orang dibawah pimpinan sepupu Nabi Muhammad bernama Abu al-Ashi bertolak ke sana. Di sana mereka memperoleh perlindungan dari seorang raja Kristen dari Gereja Koptik.

Terorisme yang dilakukan oleh ISIS merusak wajah islam yang menjunjung tinggi hidup manusia. Dalam islam mengajarkan semua umat islam untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. Ayat al-Qur’an sebagai dikutip oleh Philipus Tule yakni:
sekiranya Allah menghendaki, Niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihan itu (bdk. Q.2, 148).”

Menilik ajaran di atas maka aksi teror yang dilakukan ISIS yang membunuh hak hidup manusia lahir dari medium kekerasan bukan suatu kebajikan hidup. Setiap bentuk kekerasan, membawa dalam dirinya benih-benih teror, kemudian ada terorisme. Terorisme sebagai buah kekerasan sudah mendarah daging dalam pelaku teror.

Bagi pelaku kekerasan merupakan suatu hal yang banal. Di mana realitas kekerasan dianggap biasa, bahkan bukan lagi kekerasan, tetapi dianggap sebagai kebaikan versi teroris. Fenomena ISIS yang mengklaim sebagai pelaku tindakan teror, sangat sarat dengan suasana kekerasan. Dalam paradigma ISIS kekerasan dan pembunuhan merupakan hal yang biasa. Malahan orang dikatakan nabi, jika berhasil membunuh orang. Kesesatan berpikir ini diindoktrinasi menjadi pola hidup yang harus dipraktikan. Pada akhirnya tindakan teror dilegitimasi sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Di sini tindakan teror diafirmasi sebagai keharusan. Inilah realitas terorisme yang memporak-porandakan nilai kemanusiaan.

Melihat sejarah dan ajaran dalam Islam tentang perdamain maka aksi teror yang dilakukan oleh ISIS tidak mengatasnamakan ajaran Islam. Hal ini juga ditegaskan oleh K. H. Ali Musthofa, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang mengatakan bahwa Gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bukanlah organisasi yang lahir dari tubuh umat islam, melainkan dari luar islam yang ingin membuat perpecahan dalam islam di dunia. Hal itulah yang mendasari tindakan-tindakan ISIS melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran islam yang sesungguhnya.

Dalam ajaran islam juga sangat menjungjung tinggi nilai kemanusiaan. Manusia dilihat sebagai insan yang dicintai Allah. Oleh karena itu aksi teror yang dilakukan ISIS dengan pelbagi rencana yang disusun secara rapi dan melibatkan banyak orang untuk membunuh telah merusakan wajah islam dalam hubungan dengan kemanusiaan. Dalam aksi teror ada rencana untuk melenyapkan nyawa orang secara sengaja. Tentu tindakan ini, meniadakan ruang dialog dengan para korban. Bahkan para korban tidak mengetahui, bahwa mereklah tujuan yang dimaksud. Inilah kejahatan tanpa ampun dan tak peri kemanuisaan, di mana para korban yang lemah tak berdaya dibunuh secara sengaja.

Aksi teror ISIS sungguh mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Seyogyanya nilai kemanusiaan merupakan nilai tertinggi dan harus dihormati, termasuk hak untuk damai dan hidup. Dan aksi terorisme meniadakan suasana ini. Kita bisa melihat suasana di Paris, Mosul, Suriah dan tempat lainnya, dimana para korban dicabut hak hidupnya dan semua orang hidup dalam suasana ketakutan.

Dalam suasana ini tentu yang ada hanya kecemasan dan keterancaman. Pada titik kulminasi ini, aksi teror secara sengaja meniadakan kemanusiaan manusia. Aksi terorisme yang terjadi di pelbagi negara berpresenden buruk terhadap perjuangan perdamaian dan hak asasi manusia di seluruh dunia. Aksi ini telah merusak suasana kehidupan sebagimana biasanya. Terlepas dari motif dibalik tindakan terorisme, kita tentu mengutuk prilaku kejahatan terhadap kemanusiaan universal ini yang dilakukan oleh ISIS.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere. 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password