breaking news New

Mendambakan Pemimpin Penerobos Seperti Ahok di NTT


Oleh: Reginaldus Erson


Gema pesta demokrasi di wilayah Nusa Tenggara Timur sudah mulai kedengaran. Selama ini para calon pemimpin sibuk mendeklarasikan paket atau pasangan dan partai pengusung. Tim kampanye sibuk memikirkan dan menerapkan strategi agar calonnnya dikenal di masyarakat umum. Selain itu ada koalisi antara partai untuk memuluskan calon yang diusung. Bahkan para calon rela turun ke daerah terpencil yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Ritual yang dilakukan para calon sebetulnya ingin menarik simpati rakyat kecil. Itulah rutinitas pesta demokrasi yang penuh dengan intrik dan hiruk-pikuk untuk menarik animo masyarakat.

Deklarasi dan sosalisasi yang dilakukan niscaya perlu dilakukan agar tingkat popularitas para calon tinggi. Deklarasi dan sosalisasi yang dilakukan para calon perlu dilakukan tetapi jangan meninggalkan janji palsu kepada masyarakat kecil. Deklarasi dan program yang dicanangkan bertujuan untuk mencari pemimpin diimpikan oleh rakyat.

Pemimpin adalah sosok sentral yang dirindukan oleh masyarakat secara umum. Rakyat menyerahkan mandatnya untuk para pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin harus bisa memenuhi kriteria yang disampaikan oleh rakyat. Kriteria ini sangat sulit dipenuhi oleh para pemimpin. Ketidakmampuan para pemimpin inilah yang menjadi titik persoalan.

Mengamati kontestasi pilkada serentak 2018 yang akan datang, animo masyarakat sebenarnya tertuju pada sosok Gubernur atau bupati yang terpilih, khusunya di NTT.

Menurut penulis masyarakat NTT harus mencari pemimpin penerobos. Pemimpin yang berani mendobrak birokrasi yang penuh dengan praktik KKN. Pemimpin yang berani membongkar kebiasaan lama, mempertahankan staus quo. Pemimpin penerobos harus melakukan hal yang baru yang menggugah masyarakat. Contoh pemimpion penerobos adalah Ahok. Dia berani mendobrak sistem birokrasi yang lamban, memecat pengawai yang tidak becus dan menerapkan e-budgetting.
Seandainya ada calon pemimpin yang berjiwakan penerobos, saya mengajak NTT untuk memilihnya.

Sosok Ahok memang fenomenal. Sejak tampil bersama Jokowi, ia sudah menjadi sorotan.  Caranya berkata-kata, bersikap dan mengambil keputusan, sangat bertolak belakang dengan kebiasaan para pejabat pada umumnya. Ahok adalah sosok representastif dari generasi muda yang sudah jenuh akan kemunafikan yang biasa ditunjukkan para petinggi. Kepribadian Ahok sangat kental dengan ketegasan dan tanpa kompromi dengan situasi yang salah. Sepak terjangnya dalam kepemimpinan disegani banyak orang. Dalam memimpin Ahok dikenal tegas, berani dan bicara ceplas-ceplos. Banyak orang suka akan gaya kepemimpinannya tetapi ada juga yang membencinya. Adakah calon pemimpin di NTT yang siap dibenci bahkan dipenjara demi kepentingan rakyat?

Ahok yang dikenal temparamen dan bicara ceplas-ceplos dan berani menerobos dinding kenyamanan para pejabat. Ahok marah dan gusar pada inti masalah yakni korupsi, bawahan yang malas dan birokrasi yang terbelit-belit. Setidaknya Ahok marah pada persoalan yang mengerogoti Jakarta. Gaya bicara Ahok yang ceplas-ceplos menegaskan kepribadian yang selalu terbuka, transparan, mengatakan apa adanya. Ia tidak suka menyembunyikan sesuatu, apalagi jika hal itu menyangkut masalah tanggung jawab yang diembannya sebagai Gubernur. Jika salah, dikatakan salah, jika benar dikatakan benar.

Gaya kepribadian Ahok yang disebut banyak orang sebagai pemarah dan cerewat bukanlah dorongan naluri semata. Ahok sungguh menyadari bahwa ada saatnya untuk marah dan mengatakan kebenaran walaupun itu menyakitkan. Kebenaran yang dipegang oleh Ahok bukalah versinya melainkan kebenaran masyarakat seluruhnya yang mendambakan pemimpin yang bersih dan tegas. Jadi sangatlah aneh bila mengatakan gaya kepribadian Ahok dikuasai oleh naluri. Naluri alamiah yang ada pada diri Ahok tidak diumbar sembarangan ke publik. Ada ranah privat yang mesti disalurkan. Oleh karena itu, Ahok adalah seorang yang berkepribadian yang stabil dan waras karena bisa menyalurkan nalurinya dengan baik.

Ahok memiliki tekad dan hati nurani yang bersih untuk melayani rakyat dan tidak korupsi. Dalam masa kepemimpinannya skala korupsi di Jakarta menurun. Dia tidak kenal kompromi dengan para penguasa yang mengeruk kesejahteraan masyarakat. Hati dan tekadnya bersih untuk melayani rakyat. Dalam dirinya tidak ada kepalsuaan untuk memimpin. Maka pantaslah Ahok menjadi pemimpin panutan.

Patuh pada hati nurani yang menekankan kebenaran sudah dipraktikannya. Hal ini dapat dilihat dari karir politik Ahok cepat meningkat, tetapi ia memang memulai dari bawah dengan usaha dan tekadnya sendiri. Bantuan dan dukungan dari pihak lain adalah pelengkap. Karena itu dia tahu arti kata jatuh. Ahok tahu resikonya bermain di politik dengan melawan arus.

Jadi ia juga tidak sungkan mempertaruhkan jabatan selama ia merasa berada di jalur yang benar.
Jika ada calon pemimpin penerobos seperti Ahok yang maju dalam pesta demokrasi di NTT tahun 2018 kita semua harus memilihnya. Oleh karena itu, masyrakat harus pintar menentukan kriteria calon yang dipilihnya. Jadikan Ahok sebagai parameter ideal untuk menentukan pilihan. Jangan memilih calon pemimpin yang sekadar mengumbar janji tanpa realisasi. Hindarkan juga memilih calon pemimpin dengan menghembuskan isu SARA.

Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero Maumere

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password