KPK Diminta Ambil Alih Penyidikan Kasus Korupsi Cessie Bank Bali untuk Setnov

Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI)

Jakarta, Kabarnusantara.net – KPK perlu segera mengambil-alih penyidikan kasus dugaan korupsi atas klaim PT. BANK BALI Tbk. Kepada Pemerintah atas kewajiban PT. BDNI dalam transaksi SWAP dan MONEY MARKET senilai Rp. 904.642.428.369., atau lebih populer disebut Cessie Bank Bali yang selama 17 tahun tidak tersentuh bahkan masih menyisahkan sejumlah orang penting, mantan petinggi Partai Golkar dan pengusaha.

Demikian disampaikan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus kepada Kabarnusantara.net, Jumat 15 September 2017 di Jakarta.

Para petinggi dan pengusaha yang dimaksud Petrus antara lain Sdr. SETYA NOVANTO, TANRI ABENG BAMBANG SUBIYANTO, RUDY RAMLI dkk., yang meskipun sudah ditetapkan sebagai Tsesangka korupsi, tetapi kasusnya sejak tahun 2000 hingga sekarang masih mangkrak di Kejaksaan Agung RI bahkan khusus SETYA NOVANTO penyidikannya dihentikan dan RUDY RAMLI, Cs. penuntutannya dihentikan, tanpa alasan hukum yang sah.

Menurut Petrus, dasar pengambialihan Penyidikan dan Penuntutan kasus korupsi Cessie Bank Bali ini karena terjadi praktek tebang pilih dalam penyidikan dan penuntutan oleh Kejaksaan Agung pada awal tahun 2000-2003 hingga tahun 2009 untuk melindungi pelaku korupsi yang sesunghuhnya.

“Bahkan pada tahun 2015 GAK (Gerakan Anti Korupsi) dialog dengan Jaksa Agung H.M Prasetyo meminta agar kasus SETYA MOVANTO dkk. dibuka kembali, namun Jaksa Agung berdalih bahwa kasus ini telah atau akan daluarsa dan kepada GAK dianjurkan supaya mengajukan upaya praperadilan terhadap Kejaksaan kalau mau dibuka lagi kasusnya,” ungkap Petrus.

Padahal, kata Petrus Selestinus, berdasarkan putusan kasasi Mahkamah Agung RI a/n. Terdakwa Pande Nasorahona Lubis (dua tahun penjara), Kejaksaan Agung mem-PK putusan bebas tingkat kasasi Mahkamah Agung atas Terdakwa Joko S. Chandra dan Syahril Sabirin, sementara khusus terhadap Setya Novanto dan Rudy Ramli, Kejaksaan Agung memilih meng-SP3-kan dan menghentikan Penuntutannya.

Ia menambahkan, sejak awal memang perkara korupsi Cessie Bank Bali a/n. Tedakwa Djoko S. Tjandra sudah dirancang untuk diputus bebas oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sebagai dasar untuk meng-SP3 status tersangka SETYA NOVANTO.

“Mengapa dirancang, karena dengan putusan bebas Terdakwa Joko S. Chandra itu Jaksa Penuntut Umum serta merta meng-SP3 penyidikan terhadap SETYA NOVANTO tetapi tetap mengajukan kasasi, atas putusan bebas Joko S. Chandra,” jelas Petrus.

Dengan demikian, kata dia, sikap Kejaksaan meng-SP3-kan SETYA NOVANTO menjadi tidak logis dan patut dicurigai sebagai sebuah konspirasi besar untuk menyelamatkan beberapa pejabat Golkar yang terlibat pada waktu itu.

“Apalagi di dalam putusan perkara korupsi a/n. Terdakwa Pande Nasorahona Lubis, Syahril Sabirin dan Djoko S. Tjandra, Mahkamah Agung dalam putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, menyatakan bahwa: Terdakwa Pande Nasorahona Lubis, Syahril Sabirin, Djoko S. Tjandra terbukti secara sah dan meyakinkan bersama-sama SETYA NOVANTO, TANRI ABENG, BAMBANG SUBIYANTO dkk. melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut. Pertanyannya mengapa SP3 kasus SETYA NOVANTO tidak dibuka kembali Kejaksaan Agung bersamaan dengan sikap Kejaksaan mem-PK putusan bebas Joko S. Chandra ke Mahkamah Agung RI pada tahun 2009,” Petrus menegaskan.

Namun, menurut Petrus, yang aneh dari sikap Kejaksaan Agung adalah, dalam perkara a/n. Terdakwa Joko S. Chandra, Syahril Sabirin dan Pande Lubis, Kejaksaan terus mengejar hingga memenjarakan pejabat tinggi pada pemerintahan Presiden B.J. Habibie tersebut, masing-masing dengan pidana penjara dua tahun, karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi Cessie Bank Bali.

“Akan tetapi terhadap Setya Novanto penyidikannya dihentikan dan Rudy Ramli penuntutannya dihentikan atau tidak diajukan kembali ke persidangan (karena Surat Dakwaan Jaksa dinyatakan kabur dan tidak dapat diterima), karenanya Kejaksaan Agung seharusnya memperbaiki Surat Dakwaan dan berkasnya diajukan kembali, namun itupun tidak pernah dilakukan,” tutupnya. (Wirawan/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password