breaking news New

Inilah 6 Kepala Daerah yang Jadi “Pasien” KPK Sepanjang 2017

Kabarnusantara.net – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menangkap tangan kepala daerah yang ‘nakal’. Kali ini dalam operasi senyap yang digelar di Jawa Timur, tim Satgas Penindakan KPK berhasil membekuk Wali Kota Batu, Malang, Jatim, berinisial ER.

Dilansir JawaPos.com, ER ditangkap karena kedapatan melakukan transaksi suap menyuap untuk meloloskan proyek bernilai miliaran rupiah. Selain ER, tim juga berhasil menangkap sejumlah pihak lain yang diduga sebagai pihak penyuap.

Dengan begitu, ER menambah panjang deretan kepala daerah yang menjadi pasien KPK pada 2017. Setidaknya, ada lima kepala daerah lainnya yang ditangkap tim Satgas Penindakan KPK. Berikut daftarnya:

1. Bupati Buton nonaktif Samsu Umar Abdul Samiun.

Dia ditangkap tim Satgas Penindakan KPK di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Rabu, 25 Januari 2017. Samsu Umar ditangkap setelah melakukan perjalanan dari Kendari- Makassar-Jakarta sekitar pukul 17.30 WIB.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebelumnya menolak gugatan praperadilan yang diajukan Samsu Umar atas statusnya sebagai tersangka kasus dugaan suap sengketa Pilkada Buton di Mahkamah Konstitusi (MK).

KPK menetapkan Samsu Umar sebagai tersangka pemberi suap terkait sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2011. Saat ini, Samsu Umar masih menjalani sidang sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta. JPU KPK mendakwa Samsu Umar telah menyuap mantan Ketua MK, M Akil Mochtar sebesar Rp 1 miliar.

2. Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti

Tak lama setelah sang isteri dicokok oleh Tim Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sebuah OTT (Operasi Tangkap Tangan), giliran Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti juga dikabarkan diamankan petugas KPK di Mapolda Bengkulu pada Selasa (20/6/2017).

Bersama Ridwan Mukti dan isterinya, Lily Martiani Maddari, juga diamankan bersama keduanya beberapa orang kontraktor lokal.

Mereka kedapatan melakukan transaksi suap menyuap terkait fee proyek di wilayah tersebut. Atas perbuatannya, Ridwan, Lily Martiani Maddari dan Rico Dian Sari (bendahara DPD Partai Golkar Bengkulu) sebagai tersangka penerima suap. Selain itu penyidik juga menetapkan satu pihak lain sebagai pihak pemberi suap, yakni Jhoni Wijaya selaku direktur PT SMS.

3. Bupati Pamekasan Achmad Syafii

Dia ditangkap bersama Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan Rudy Indra Prasetya. Mereka dijadikan tersangka suap dalam kasus penyelewengan pengelolaan dana Desa Dasok. Besarnya Rp 250 juta.

Kasus berawal dari dugaan penyelewengan pengelolaan dana desa oleh Kades Dasok Agus Mulyadi. Kejari mengumpulkan bukti dan keterangan. Karena takut masuk penjara, Agus melapor ke Inspektur Inspektorat Pamekasan Sutjipto. Akhirnya, dengan restu Bupati Ahmad Syafii, mereka menyuap Kajari Rudy Indra Prasetya.

4. Wali Kota Tegal Siti Masitha

Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno diamankan tim Satgas Penindakan KPK pada 29 Agustus 2017 di Tegal. Selain Siti Masitha, KPK mencokok pengusaha Amir Mirza Hutagalung dan Wakil Direktur RSUD Kardinah Tegal Cahyo Supriadi.

Selain itu, mereka yang turut ditangkap adalah mantan Kasubag Pendapatan dan Belanja RSUD Kardinah, Tegal, Agus Jaya, Kepala Bagian Keuangan RSUD Kardinah Tegal Umi, sopir Amir Mirza bernama Monez dan Imam Mahrodi. Kemudian ajudan Amir yaitu Akhbari Chintya Berlian.

Dalam kasus ini, Siti Mashita dan Amir diduga sebagai penerima suap, sementara Cahyo diduga selaku pemberi suap.

5. Bupati Batubara OK Arya Zulkarnain

Dia juga diringkus KPK dan telah ditetapkan sebagai tersangka pada 14 September 2017. Tak sendiri, empat orang lainnya yakni Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dinas Batubara Helman Hendardi (HH), Sujendi Tarsono (STR) selaku pihak swasta, kontraktor proyek Syaiful Azhar (SAZ) dan Maringan Situmorang (MAS) juga ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam kasus ini, OK Arya, Sujendi, dan Hendardi diduga sebagai penerima suap terkait sejumlah proyek di wilayah tersebut. Kemudian Maringan dan Syaiful yang notabene kontraktor diduga sebagai pemberi suap.

OK Arya disinyalir dijanjikan fee dalam tiga proyek infrastruktur senilai Rp 4,4 miliar oleh Syaiful dan Maringan. Diketahui Maringan menjanjikan fee sebesar Rp 4 miliar untuk pembangunan Jembatan Sentang dengan total proyek Rp 32 miliar yang dimenangkan oleh PT GMJ dan proyek pembangunan Jembatan Sei Magung senilai Rp 12 miliar yang dimenangkan PT T.

Sementara itu, Syaiful menjanjikan fee sebesar Rp 400 juta atas proyek betonisasi jalan Kecamatan Talawi senilai Rp 3,2 miliar. “Total KPK amankan uang tunai total 346 juta. Uang tersebut diduga bagian dari fee proyek senilai total 4,4 miliar,” ungkap Komisioner KPK Alexander Marwata saat menggelar konferensi pers beberapa waktu lalu. (RR/KbN)

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password