breaking news New

Eksploitasi Penyakit Novanto Langgar Prinsip Rahasia Medik dan Hambat Pendidikan KPK

Jakarta, Kabarnusantara.net – Banyak pihak beramai-ramai mengobral semua jenis dan kadar penyakit yang diderita oleh Setya Novanto ke publik, tanpa memperhatikan rahasia pasien, rahasia jabatan dokter atau yang disebut rahasia medik.

Demikian disampaikan oleh Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus di Jakarta.

Ia menuturkan, Ilmu Kedokteran mengenal Rekam Medis dan Rahasia Medis yang digunakan untuk keperluan diagnosa si pasien dan menjadi rahasia dokter dan pasiennya.

“Lalu mengapa sejumlah orang antara lain Deisti Astriani Tagor (Istri Setya Novanto), Idrus Marham (Sekjen Partai Golkar), Nurul Arifin (Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar) dan Setyo Lelono (Kakak Kandung Setya Novanto) sering bicara ke media tentang jumlah, jenis bahkan kadar penyakit berikut peluang kesembuhan,” ujar Petrus.

Padahal, kata dia, ini adalah Rahasia Medik yang hanya dibuka secara sangat terbatas termasuk untuk kepentingan penegakan hukum.

“Ini pengeksploitasian yang luar biasa terhadap penyakit Setya Novanto untuk suatu tujuan yang belum jelas, namun nyaris menutupi upaya keras KPK melakukan penindakan terhadap Setya Novanto,” kata dia.

Ia menambahkan, Partai Golkar dan pihak Keluarga seakan-akan hendak menciptakan opini bahwa sakitnya Setya Novanto karena KPK menjadiknnya tersangka, padahal bukan info tentang penyakit Setya Novanto dan kapan sembuhnya yang ditunggu publik, akan tetapi yang ditunggu publik adalah kapan Setya Novanto secara kesatria mempertanggung jawabkan semua sangkaan tentang korupsi e-KTP sebesar Rp. 2,4 triliun.

“Soal dia sakit, berapa jumlah penyakit yang diderita dan kapan sembuh, meskipun kita mendoakan agar lekas sembuh, tetapi itu bukan urusan publik melainkan itu urusan pribadi yang menjadi rahasia medik dan tidak boleh diumbar ke ruang publik,” tegas Petrus.

Menurut Advisor Asal NTT ini, sejumlah pihak telah mengeksploitasi sedemikian rupa penyakit yang diderita Setya Novanto, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dibalik eksploitasi itu terdapat keanehan yang muncul yaitu jumlah penyakitnya begitu banyak, baru dimunculkan saat dirinya hendak diperiksa sebagai tersangka korupsi dan tiap hari jumlah penyakitnya bertambah.

“Apakah dengan kehidupan yang glamore dan serba ada, Setya Novanto abai atau lupa terhadap masalah kesehatannya?. Padahal untuk menjadi Caleg dan Jabatan Publik lainnya Setya Novanto telah menyertakan keterangan sehat dari dokter pada Rumah Sakit yang ditunjuk Pemerintah, termasuk saat hendak dilantik sebagai Ketua DPR RI,” tuturnya heran.

Karena itu, Petrus menilai, sangat tidak masuk akal seorang Setya Novanto membiarkan dirinya dikeroyok begitu banyak penyakit, membiarkan begitu banyak penyakit menimbun dalam tubuhnya secara bersama-sama (gula, vertigo, jantung, sinusitis, ginjal dll) bahkan akan bertambah terus setiap hari, lantas dipublikasikan secara ramai-ramai.

“Pengungkapan jumlah dan jenis serta kadar penyakit yang diderita Setya Novanto secara berlebihan memberi kesan seolah-olah penyakit bagi segelintir orang bisa ditimbun untuk digunakan pada suatu waktu tertentu, untuk tujuan tertentu pula termasuk untuk menangkal pelaksanaan tugas KPK dalam perkara korupsi,” kata dia.

Lebih lanjut dikatakan Petrus, jika benar sakit dan penyakit yang diderita Setya Novanto, baru diketahui atau ditemukan oleh dokter RS yang merawatnya beberapa saat menjelang waktu pemeriksaan KPK, maka Partai Golkar dan Setya Novanto seharusnya berterima kasih kepada KPK, lantaran karena hendak diperiksa sebagai tersangka oleh KPK, semua penyakit yang bertumpuk dan menimbun dalam tubuh Setya Novanto susul menyusul muncul dan berhasil didiagnosa oleh dokter.

Dengan demikian, lanjutnya, sebetulnya dunia kedokteran kita masih mengalami kemunduran karena terhadap sejumlah orang tertentu penyakitnya itu hanya bisa didiagnosa ketika berurusan dengan KPK.

“Tanpa KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap Setya Novanto sebagai tersangka, mungkinkah penyakit yang diidap begitu banyak dapat dideteksi atau apakah penyakit itu tidak akan muncul atau tidak akan dapat didiagnosis dan diumbar ke publik?”

Padahal yang ditunggu publik saat ini bukan proses medik dan proses praperadilan melainkan proses hukum di KPK untuk membuktikan apakah terjadi korupsi atau tidak. (Hipatios/KbN)

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password