breaking news New
Reginaldus Erson, Mahasiswa STFK Ledalero Maumere.

BELAJAR DARI MILITANSI SOE HOK GIE


Dalam diri Soe Hok Gie ada suatu tekad untuk menjadikan moral di atas segalanya


Oleh: Reginaldus Erson*


Sosok Soe Hok Gie menginspirasi semua gerakan kemahasiswaan dari dekade 60-an sampai sekarang. Sikap dan daya pikirnya sangat kritis menghadapi rezim Orde Lama. Bahkan Soe Hok Gie terlibat dalam pelbagai demonstrasi untuk melawan kekuasaan Orde Lama yang sarat dengan KKN. Dia mengotaki semacam Long March ( istilah sendiri) untuk gerak jalan yang menuntut penurunan harga bensin, penurunan harga karcis bis kota. Dia juga, ketika berhadapan dengan tentara yang masih setia membela Soekarno dengan panser-panser, yang mengambil tindakan nekad merebahkan diri di depan panser, sehingga panser-panser dipaksa menghentikan geraknya.

Soe Hok Gie dikenal kritis terhadap rezim yang berkuasa bahkan tidak takut mencemooh para pejabat secara pribadi. Idealisme dan perjuangannya tidak luntur walaupum seringkali diancam. Dalam diri Soe Hok Gie ada suatu tekad untuk menjadikan moral di atas segalanya. Maka dia tidak ragu-ragu mengeritik para penjabat yang imoral. Sikap kritis dalam dirinya dibentuk sejak kecil sampai akhir hanyatnya.

Sayangnya Soe Hok Gie meninggal dalam usia muda (usia 27 tahun). Dia meninggal di gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969 karena terjebak dalam gas beracun.

Menurut penulis ada dua hal unik yang dilakukan oleh Soe Hok Gie dalam melakukan aksinya.

Pertama, format informasi. Aksi ini tampak dalam jiwa cendikiawan yang melekat dalam dirinya yang sudah ditumbuh kembangkan sejak kecil. Hal ini dapat dilihat dari sepak terjangnya dalam menulis opini di pelbagai media massa. Melalui tulisannya, Gie secara tajam mengkritisi dan membongkar perbuatan bobrok para pejabat yang tidak memerhatikan rakyat kecil.

Kedua, format massa. Sosok Soe Hok Gie sangat aktif menggerakan para mahasiswa untuk melakukan aksi demonstrasi. Aksi ini dapat menyadarkan rezim yang berkuasa pada waktu itu. Setidaknya dengan aksi Tritura, para menteri Gestapu diganti dan harga diturunkan. Semua aksi ini tidak terlepas dari kerja keras Soe Hok Gie.

Dalam catatan harian tanggal 7 Januari 1966, nampak jelas peran Soe Hok Gie dalam demonstrasi yang terjadi. Kegiatan demonstrasi ini ditulis secara detail, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan sampai pada evaluasi bersama. Semangatnya untuk menurunkan rezim yang berkuasa pada waktu itu sangatlah gigih.

Hal ini jelas sebagaimana ditulis dalam buku hariaannya:
Ribuan mahasiswa kemudian berkumpul di Deparlu. Sepuluh wakil mahasiswa (termasuk aku) dan dengan baik Haakim menceritakan apa sebabnya mereka menemui Soebandrio. Dalam resolusi yang dibacakan, mahasiswa-mahasiswa menuntut agar Soebandrio mencabut ucapnnya. Dari Deparlu rombongan menuju ke jalan Merdeka Selatan ke Kantor wempa 1. Rombongan sastra (yang aku pimpin) berjalan paling depan.”

Peran Soe Hok Gie sangatlah besar dalam seluruh sepak terjang gerakan mahasiswa tahun 1960-an yang berusaha menurunkan Rezim Soekarno. Dalam diri Gie, ada militansi yang begitu tinggi. Sikap militansi ini tentunya tidak terlepas dari pendirian dan idealismenya yang tidak mudah hilang walaupun diancam, ditantang oleh sejumlah pejabat pemerintah yang gerah akan kritiknya. Sosok Gie merupakan panutan untuk siapa saja yang berani menyuarakan kebenaran.

Kemudian bagaimana dengan kondisi gerakan kemahasiswaan sekarang. Namun sebelumnya, penulis akan merunut pada peristiwa sejarah tentang munculnya investasi gerakan mahasiswa di Indonesia.

Munculnya Gerakan Mahasiswa

Menurut pengamat politik Denny J. A, investasi perjuangan mahasiswa (kaum muda) sudah terjadi sejak dekade dua puluhan. Kaum muda menjadi kekuatan politik pribumi melawan kolonialisme. Organisasi tersebut meliputi Budi Utomo, PNI, Perhimpunan Indonesia dan lain sebagainya. Kemudian dalam dekade empat puluhan, posisi politik gerakan mahasiswa bergeser. Mereka cenderung menjadi pendukung kekuatan politik primer. Dalam dekade enam puluhan, gerakan mahasiswa tetap mengambil peran sebagai pendukung kekuatan politik primer. Format gerakan kaum muda pada dekade ini turut berpartisipasi dalam political struggle membangun sebuah orde kekuasaan baru (Orde Baru). Dekade delapan puluhan, posisi kaum muda lebih berdikari dan mengusung isu lokal. Dekade sembilan puluhan peran kaum muda sangat nampak. Mereka mengambil posisi kontra pemerintah. Pada akhirnya mereka dapat menggulingkan kediktatoran Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto. Kemudian dalam era reformasi peran mahasiswa sebagai pressure group acapkali dilakukan.

Intensi fundamental pembentukan gerakan mahasiswa berawal dari kekecewaan terhadap parpol. Awalnya rakyat masih percaya peran parpol sebagai penyalur aspirasi, tetapi sejak tahun 1956 fungsi ini mengalami degradasi. Parpol lebih mementingkan format politik elit dan melupakan rakyat kecil.

Di tenggah carut-marut problematika multi partai, eksistensi gerakan mahasiswa semakin dibutuhkan. Peranan integral dari gerakan ini adalah menjadi pressure group terhadap kekuatan politik primer.

Fluktuasi Gerakan Mahasiswa

Menilik realitas partisipasi politik gerakan mahasiswa sepanjang sejarah Indonesia acapkali mengalami fluktuasi. Terkadang organisasi mahasiswa kehilangan idealisme dalam menghadapi pelbagai problematika masif bangsa Indonesia. Fenomena fluktuatif ini terjadi dalam beberapa dekade. Apalagi masa sekarang ini, para mahasiswa gerakan mahasiswa masih melempem dalam menara daging kampus. Selain itu ada sejumlah kasus yang memperlihatkan dekadensi peran mahasiswa, seperti pertawuran, narkoba, plagiat, ijazah palsu dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan lemahnya konsistensi gerakan mahasiswa dalam mengaktualisasikan idealisme gerakan.

Menurut penulis, fenomena fluktuatif partisipasi gerakan mahasiswa disebabkan beberapa faktor.

Pertama, melemahnya posisi mahasiswa. Gerakan mahasiswa sekarang cenderung menjadi patron dari partai politik tertentu dan menihilkan kritisme sebagai basis idealisme. Fenomena ini tercermin dalam praktik patner politik yang dilakukan gerakan mahasiswa dengan partai politik tertentu. Relasi afilasi inilah yang menyebabkan suara kritis konstruktif mahasiswa terkadang disenyapkan. Misalnya hampir semua gerakan mahasiswa tidak menunjukkan sikap terhadap keadaan resesi ekonomi Indonesia yang anjlok dan prilaku non etis beberapa anggota DPR yang sering terlibat korupsi. Bahkan sudah mengubah Senyanan menjadi ladang korupsi. Ironinya ada eksponen aktivis mahasiswa yang duduk di parlemen memilih bungkam. Dua situasi negatif yang terjadi sebenarnya ditanggapi dengan melakukan aksi massa dan informasi. Penyatuan dua format aksi inilah yang menentukan suara kritis gerakan mahasiswa.

Kedua, pelemahan efek politik. Menurut Pengamat Politk Deny J. A, pada dekade dua puluhan, empat puluhan, enam puluhan dan sembilan puluhan, aktivitas gerakan mahasiswa mampu menjadi katalisator perubahan sosial. Sedangkan dalam dekade selanjutnya efek politik gerakan mahasiswa melemah bahkan tidak mampu menciptakan dinamika politik nasional. Pelemahan efek sosial ini niscaya diakibatkan oleh perkembangan sosial.

Sistem sosial semakin tidak toleran dengan format politik yang bersifat massa dengan cara demonstrasi. Kemudian format aktivitas informasi kurang diminati. Hanya sedikit mahasiswa yang menyuarakan suara kritis melalui media massa. Para mahasiswa mengambil posisi nyaman dalam menara gading kampus.

Soe Hok Gie: Sosok Inspiratif

Menilik realitas di atas, kita sebagai mahasiswa harus retropeksi diri. Hal esensial yang dilakukan oleh semua gerakan mahasiswa adalah menyadari bahwa spirit gerakan sudah mengalami sedikit kemandegan dan cenderung mengalami degradasi. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus berani menentukan sikap dan orientasi gerakan. Para mahasiswa harus belajar dari Soe Hok Gie yang gigih mempertahankan idealismenya.

Satu ungkapannya yang begitu menarik dari buku Catatan Seorang Demostran yakni lebih baik diasingkan dari pada menyerah kepada kemunafikan. Soe Hok Gie teguh pada prinsip yang diyakininya. Dia bebas tanpa berafiliasi dengan kekuatan politik manapun. Kebebasan inilah yang menjernihkan pikirannya untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Oleh karena itu sosok Gie dapat menjadi inspirasi untuk membangkitkan kembali idealisme mahasiswa yang kian hari semakin redup.

Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa sekarang untuk membangkitkan kembali militansi serta idealisme gerakan mahasiswa.

Pertama, merekonstruksi fundamen dan spirit gerakan. Semua gerakan mahasiswa harus kembali ke fundamen dasar. Fundamen itu meliputi asas, idealisme, tujuan dan orientasi gerakan.

Kedua, turba ke tengah masyarakat. Pola relasi antara mahasiswa dan masyarakat adalah pola resiprokal. Ada hubungan timbal balik yang sangat erat antara keduanya. Mahasiswa menjadikan masyarakat sebagai medan inspiratif yang membangkitkan idealisme. Masyarakat adalah basis kultus bertindak benar, jujur dan integratif. Dari perspektif masyarakat, mahasiswa adalah patner pencerahan dan perubahan. Pola relasi inilah yang mengharuskan semua gerakan mahasiswa berbaur dengan masyarakat. Pembauran ini merupakan transfer nyata teori formal akademis menjadi praktik lapangan. Aktivitas turba (turun ke bawah) juga dapat mengencangkan suara kritis mahasiswa menyikapi problematika masif yang terjadi.

Ketiga, konsolidasi antar gerakan mahasiswa. Antara gerakan mahasiswa hendaknya ada kerjasama dalam membangun Indonesia yang diimpikan. Bentuk praktis dari kerjasama itu dapat dilakukan melalui dialog bersama tentang problematika bangsa. Dialog ini berbasis idealisme bersama tentang orientasi luhur gerakan yakni kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Idealisme itu harus dijadikan perekat dalam organisasi, sehingga suara kritis konstruktif organisasi mahasiswa ada gemanya. Konsolidasi antar gerakan mahasiswa urgen dilakukan, mengingat antara gerakan mahasiswa acapkali mengalami friksi (perpecahan). Bahkan dalam satu organisasi saja ada perbedaan paradigma yang berujung perpecahan orientasi gerakan.

Pada akhirnya gerakan mahasiswa dan orang muda pada dasarnya tidak pernah mengalami stagnasi akut. Gerakan ini selalu hidup dan berani menyuarakan suara kaum yang tak bersuara. Gerakan mahasiswa adalah suatu kekuatan dan pilar bangsa yang tidak berkontaminasi dengan kultur politik tertentu.

Independensi inilah yang menyebabkan gerakan mahasiswa menjadi harapan masyarakat untuk menyalurkan aspirasi. Bila berpegang teguh pada idealisme dan kebenaran maka gerakan mahasiswa akan berani menentang praktik jijik kolonialisme modern seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan kebobrokan lainnya. Ingat kita semua adalah penentu masa depan Republik Indonesia. Belajarlah terus dari sosok Soe Hok Gie yang terus menyuarakan kebenaran. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere

Editor: Hipatios 

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password