breaking news New

Gerakan Feminisme Versus Human Trafficking (Membaca Budaya Ketidakadilan Gender, Kerentanan Perempuan dan Jawabannya terhadap Realitas)



Oleh: Frano Kleden*


Akhir-akhir ini, persoalan human trafficking (perdagangan manusia) sudah menjadi isu umum bagi seluruh umat manusia. Dalam persoalan tersebut, topik perempuan selalu menarik dan aktual untuk dikaji, sebab perempuan selalu dipandang sebagai objek yang dapat diperlakukan sewenang-wenang dan bukannya sebagai subjek atau pribadi yang bermartabat dan otonom. Di sisi lain, laki-laki menjadi pemeran utama terjadinya ketidakadilan tersebut dengan menjadi ‘penguasa’ yang mendominasi, mensubordinasikan dan mendiskriminasikan kaum perempuan.

Dalam ruang negara ini, menganalisis persoalan human trafficking yang melibatkan perempuan berarti menyingkapkan adanya ketidakadilan gender. Sebab ketidakadilan genderlah yang menurut hemat saya menjadi satu dari sekian banyak akar di balik kerentanan perempuan terhadap bahaya human trafficking. Kita tentu menyaksikan sendiri betapa konsep gender dalam banyak kebudayaan kita cenderung melihat posisi perempuan lebih rendah (inferior) dari laki-laki.

Seorang istri (perempuan) yang setiap hari memasak di dapur adalah sebuah potret hidup yang biasa. Dalam setiap budaya yang dijaga, mindset (pola pikir) kita sudah diatur sedemikian rupa sehingga melahirkan pola tindak yang statis. Memasak bagi istri (perempuan) sudah menjadi semacam kewajiban warisan, budaya milik perempuan semata; sedangkan bagi suami/laki-laki (kendati tidak semua), memasak dilihat sebagai satu pekerjaan yang ‘aneh’. Bukan mustahil kalau konsep seperti ini sudah terkonstruksi rapi dalam batok kepala manusia.

Minimnya semangat keadilan terhadap gender dalam pola pikir dan pola tindak seperti ini telah menjadi sebab terdalam yang menghasut manusia untuk memperdagangkan sesamanya. Realitas inilah yang membuat perempuan lebih mudah untuk dimanipulasi, diinstrumentalisasi dan dieksploitasi oleh laki-laki untuk tujuan-tujuan tertentu.

Di tengah realitas ‘pembelengguan’ kaum perempuan seperti ini, peran dan keterlibatan aktif dari kaum perempuan harus segera ditunjukkan. Kaum perempuan sendiri harus memberikan penolakan yang tegas kepada mereka yang melakukan tindakan-tindakan tersebut. Di sini, gerakan ‘feminisme’ sebagai sebuah gerakan kesadaran kaum perempuan untuk mengkritik konstruksi budaya yang menindas serentak merendahkan martabat kaum perempuan harus berani ‘unjuk gigi’.

Sebelum itu, pertama-tama kita perlu memahami feminisme terlebih dahulu. Secara etimologis, kata ‘feminisme’ berasal dari kata bahasa Latin femina yang berarti perempuan dan dipadukan dengan sufiks –isme yang berarti aliran, ajaran. Jadi, feminisme berarti aliran atau gerakan emansipasi perempuan yang menuntut kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Lebih jauh lagi, feminisme merupakan gerakan kesadaran kaum perempuan untuk mengkritisi konstruksi budaya yang menindas dan serentak merendahkan martabat kaum perempuan. Gerakan ini pada satu sisi bersinggungan langsung dengan kehidupan publik dimana ada dominasi kaum laki-laki dalam kehidupan bersama. Di sisi lain, gerakan ini lahir dari pengalaman ketertinggalan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Bernard Raho dalam bukunya Sosiologi Sebuah Pengantar, menyatakan beberapa hal yang diperjuangkan oleh feminisme yakni, pertama, feminisme berusaha untuk melihat kembali nilai-nilai tradisional dan coba menyadari secara baru nilai atau praktik-praktik yang kelihatannya diterima begitu saja dari waktu ke waktu. Feminisme menentang nilai-nilai tradisional menyangkut kedua jenis seks, khusus nilai-nilai maskulin dan kekuasaan pria dalam masyarakat patriarkat. Feminisme juga menolak ide yang menghubungkan kaum perempuan dengan altruisme (berkorban demi kepentingan orang lain, khususnya laki-laki) dan mengatakan bahwa hanya melalui penilaian kritis terhadap nilai-nilai, ide-ide dan praktik-praktik di dalam masyarakat, kaum perempuan bisa berharap untuk mendapat persamaan hak dengan laki-laki.

Kedua, feminisme menentang anggapan bahwa sifat-sifat maskulin lebih penting daripada sifat-sifat feminin, sebaliknya mereka menekankan bahwa sifat-sifat maskulin dan sifat-sifat feminin dapat dikembangkan oleh siapa saja dan tidak harus menjadi monopoli satu seks. Oleh karena itu, feminisme berniat untuk membuat resosialisasi masyarakat di mana setiap orang diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengungkapkan semua potensi yang ada tanpa harus terikat kepada jenis kelamin. Artinya, wanita diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagai orang yang berani, kompetitif, profesional dan laki-laki diberi kesempatan untuk belajar menjadi lemah lembut, kasih sayang dan peka terhadap kebutuhan orang lain.

Ketiga, feminisme juga mengeritik stratifikasi sosial berdasarkan gender. Kaum feminis mengeritik kenyataan bahwa kaum perempuan tidak mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh pendidikan, penghasilan, kesempatan kerja atau tidak diberikan kesempatan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar. Artinya, keputusan menyangkut nasib perempuan tidak boleh dibuat hanya oleh laki-laki. Kaum perempuan berhak menentukan nasibnya sendiri.

Sejalan dengan perjuangan tersebut, gerakan feminisme mesti lahir di tengah pengalaman ketertinggalan kaum perempuan seperti ini. Saya mendambakan sebuah gerakan feminisme yang memungkinkan kelompok-kelompok perempuan berkumpul untuk saling membagi pengalaman, membahas segala bentuk perendahan serta mencari solusi langsung terhadap persoalan mereka sebab segala bentuk perendahan terhadap perempuan bukanlah semata-mata salah kaum perempuan.

Kita berharap khusus bahwa kapan dan di mana saja, perempuan dapat menempati posisi yang dimuliakan. Kegelapan yang menimpa kaum perempuan harus ‘diangkat’ menuju terang cahaya. Memang, hidup di tengah budaya patriarkat sudah menjadi kekhasan kita. Namun budaya patriarkat yang menindas dan melahirkan hal-hal yang tidak adil sejatinya perlu kita tinjau kembali. Di sini, reformasi diri menjadi jalan yang paling utama. Artinya segala suasana budaya patriarkat yang negatif perlu dicairkan dengan mengubah diri (pola pikir) individu (laki-laki dan perempuan) tanpa harus merombak budaya sebab merombak budaya adalah sebuah kemustahilan. Kita perlu memberi perlakuan yang sama kepada laki-laki dan perempuan serta menghilangkan faktor-faktor tertentu dalam masyarakat yang mendukung terjadinya ketidakadilan. Segala sinyal yang berbau stereotip gender juga harus dihindari.

Akhir kata, berhadapan dengan ketidakadilan gender, gerakan feminisme sebagai sebuah gerakan dari, oleh dan untuk perempuan harus menjadi bagian dari solidaritas manusia dalam menghentikan pergerakan kasus human trafficking. Cara langsung dalam menumpas ketidakadilan gender ialah dengan menegakkan keadilan gender. Keadilan gender dapat menjadi sarana peminimalisasian bahkan penghilangan persoalan human trafficking di negara tercinta ini karena di sana, laki-laki dan perempuan sudah memiliki kesamaan dalam kesempatan dan hak-hak sebagai manusia. Kesamaan itu harus termanifestasi dalam peran dan partisipasinya dalam pelbagai kegiatan politik, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan dalam proses pembangunan.

*Mahasiswa Filsafat Semester VII di STFK Ledalero, Maumere, NTT.

<

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password