breaking news New

Usung Tema ‘Cengka Salang’, IKAMAYA Gelar First Meet Dengan Mahasiswa Baru

Yogyakarta, Kabarnusantara.net – Sebanyak 53 mahasiswa baru Manggarai Raya Yogyakarta angkatan 2017 berpartisipasi dalam acara First Meet IKAMAYA (Ikatan Keluarga Manggarai Raya Yogyakarta) tahun 2017. Acara ini berlanngsung di Kampus STPMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarkat Desa) “APMD” Yogyakarta, Acara tersebut dihadiri oleh para orang tua Manggarai Raya yang ada di Yogyakarta dan mahasiswa angkatan 2016 dan 2015.

Kegiatan yang dirangkai dengan Sharing pengalaman dan gerakan mahasiswa ini berlangsung selama sehari dengan tema “Cengka Salang (Membuka Jalan)”.

Ketua Panitia, Ode menjelaskan makna Cengka Salang berarti sebagai upaya dari orang tua dan mahasiswa Manggarai Raya Yogyakarta untuk membuka jalan bagi teman-teman mahasiswa baru.

“Cengka Salang sebenarnya dimaknai sebagai upaya dari orang tua dan mahasiswa Manggarai Raya Yogyakarta untuk membuka jalan bagi teman-teman mahasiswa baru. dalam bentuk membagi pengalaman kuliah, memberi arahan tentang bagaimana kuliah dan kehidupan sosial masyarakat di Jogja”, ungkap Ode.

Sementara itu, Adolf Frederik sebagai Ketua IKAMAYA mengapresiasi panitia yang berhasil menyelenggarakan acara First Meet IKAMAYA dan peserta yang hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, dia menegaskan mengenai eksistensi IKAMAYA yang sesungguhnya. “IKAMAYA merupakan ikatan kekeluargaan. Relasi yang terjadi di dalamnya tidak hanya terbatas dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan budaya Manggarai Raya, bakti sosial atau pun turnamen untuk memeriahkan hari peringatan tertentu,” katanya.

Menurutnya, relasi yang terdapat di IKAMAYA ialah relasi feeling dan kekeluargaan.

“Sehingga banyak yang sudah dilakukan anggota IKAMAYA selama ini, antara lain; mendoakan keluarga yang meninggal, menjenguk anggota yang sakit, dan lain-lain”, ucapnya.

Dalam sesi acara sharing, salah satu perwakilan orangtua, Ben Senang Galus menyampaikan banyak orang Manggarai yang sudah melupakan budaya Manggarai.

“Saya 36 tahun hidup di Jogja, dan 10 tahun di luar negeri (Timor Leste). Saya hidup dan berbaur dengan kebudayaan serta kehidupan sosial masyarakat setempat. Namun, saya tetap ingat budaya dan bahasa manggarai sampai sekarang; saya duduk di depan adik-adik dan berbicara bahasa Manggarai. sebaliknya, saya memiliki pengalaman bertemu orang manggarai yang hanya dua bulan di luar negeri, tetapi dialek seoalah-olah bukan orang manggarai”, ceritanya sambil menggelengkan kepala dan mengundang tepuk tangan peserta.

Selain itu, Ben juga menjelaskan tentang beberapa benda dan upacara adat Manggarai mulai dari bayi dilahirkan sampai meninggal dunia, seperti mbaru gendang (rumah adat), compang (tempat untuk sesajian leluhur), natas (halaman kampung), wae teku (sumber mata air), loas (Melahirkan), cear cumpe (pemberian nama bayi), kawing (Perkawinan), pang olon ngaung musin (masyarakat kampung).

Hal itu disampaikannya untuk menanamkan kembali kepada peserta bahwa adat dan budaya Manggarai harus ditanam kuat dalam diri peserta, sehingga peserta tahu dan paham mengenai filosofi adat Manggarai.

“Penjelasan adat dan budaya memberikan manfaat yang besar bagi adik-adik. Semoga dengan penjelasan saya ini, adik-adik bisa mengetahui dan paham bahwa budaya harus menjadi pedoman dalam melakukan relasi dengan sesama maupun untuk disesuaikan dengan kebudayaan lain”, tegasnya.

Sharing juga disampaikan orangtua yang lain, Yohanes da Masenus Arus. Dia banyak menceritakan pengalamannya waktu menjalankan kuliah dan mengamati kenyataan mahasiswa Manggarai sekarang di Jogja.

“Saya kira tujuan kita semua berada di Jogja ialah untuk kuliah. Namun sejak angkatan saya tidak sedikit mahasiswa yang putus sekolah. Sejauh pengalaman saya berada di Jogja, hal itu disebabkan oleh munculnya kemalasan, sering berkumpul sesama manggarai untuk sekadar bernostalgia, sering judi, dan kurangnya keterlibatan mahasiswa Manggarai dalam organisasi kampus”, ungkapnya.

“Sebagai bentuk refleksi dari itu, adik-adik dihadapkan dua pilihan, apakah datang untuk menjadi baik atau buruk. Maka dari itu, kita perlu menanamkan komitmen untuk mengisi kepala kita dengan pengetahuan. Kita memiliki cara untuk mencapai teknostruktur dengan membaca dan memanfaatkan wadah internet untuk mengembangkan kepribadian dan pengetahuan dalam artian kita memiliki banyak pegangan”, katanya menutup sharing.

Sharing terakhir disampaikan oleh bapak Rian Juru. Ia menegaskan kembali tentang pentingnya menjaga adat dan budaya serta meminta Mahasiwa baru untuk fokus pada tujuannya datang ke Yogyakarta.

Peserta mengaku banyak mendapatkan motivasi setelah mengikuti kegiatan First Meet IKAMAYA sebagaimana yang disampaikan.

“Saya mendapatkan banyak masukan dan mencoba untuk menjadikan masukan dan sharing hari ini sebagai pedoman dan pertimbangan untuk menjalani kuliah di Jogja sebagaimana amanah orangtua dan komitmen saya sendiri ketika ingin ke Jogja. Saya juga banyak mengenal teman-teman seangkatan dari Manggarai”, kata Leonardus Nakat ketika ditanyakan kesan setelah kegiatan First Meet IKAMAYA selesai.

Acara First Meet IKAMAYA ditutup dengan game dan rekreasi bersama. (Rivon Edon/KbN)

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password