breaking news New

BAYANGAN

BUKANKAH baik dan buruk akan selalu ada? Lalu di manakah letak sebelumnya diri ini ketika mengambil keputusan yang ada? Apa kita berada di posisi buruk yang didalamnya terdapat pilihan baik dan buruk juga, apakah ada buruk di dalam keburukan atau bahkan kebaikan di dalam keputusan yang buruk? Selalu ada kebaikan yang bisa dilakukan dari sebuah perbuatan yang buruk.

Apa yang terjadi jika bintang – bintang marah karena mereka dikatakan hanya sekumpulan titik cahaya kecil di angkasa yang sesungguhnya kita tahu bahwa mereka begitu tinggi dan jauh dari jangkauan. Bintang – bintang itu tidak pernah merasa besar dan di ketinggiannya ia selalu berusaha memberi segenap cahaya pada kita semua yang suka terjebak di gelapnya malam hari, walau kadang kita lebih suka cahaya dari kendaraan dan bangunan serta tiang – tiang lampu jalanan yang wujudnya dapat ditangkap dan digambarkan oleh indrawi manusia, adakah dari kita yang dapat menggambarkan bintang? Jika yang terlihat hanyalah cahaya, seperti apa bentuknya? Apa ia memiliki sisi? Rangka? Apakah ada ruang disana? Atau hanya ada putih dan yang di tangkap oleh mata manusia adalah sinar terang yang mencoba menjamah hati manusia, lalu memberi cahaya seperti mercusuar yang mengantar kita kembali pada lintasan, apa bisa kita mengandaikan perwujudannya? Angkasa yang sedemikian terlihat gelap dan dingin seperti hati manusia, disana selalu ada bintang kecil yang mencoba memberi segenap cahaya pada sisi gelap hati manusia yang tak terjamah cahaya.

Selalu ada dua sisi berlawanan dan itu adalah pilihan ketika seseorang ingin mengambil tindakan dalam menjalani kehidupan. Itulah dua ekor srigala yang sedang bertarung hebat didalam jiwa manusia.

***

Sejauh ini dikehidupanku hanya ada ikan koi yang hidup di dalam aquarium yang kadang kupindahkan ke dalam kantung plastik saat aku butuh teman ketika ingin keluar kamar. Aku jarang membawa ikan itu keluar kamar, karena aku punya teman yang selalu menemani dan mengikutiku saat pergi dari kamarku, Ketika siang hari dia adalah bayanganku dan ketika malam hari dia adalah aku, kita berdua adalah satu ketika gelap menelanku maka aku menjadi bayangan atau mungkin bayangan itulah yang menyelimuti jiwaku. Dialah bayanganku setia kepadaku, adalah aku sendiri. adalah temanku, ialah sisi gelapku. Kemarin ikan itu berbicara kepadaku ketika ia merasa lapar dan menginginkan agar aquariumnya dikuras dan diganti dengan air yang baru. Tidak seperti bayangan dia tidak pernah sedikitpun berkata apapun kepadaku tetapi yang unik dari bayanganku dia suka mengendalikan diriku untuk melakukan hal – hal yang tidak baik. Ia dapat mengambil alih tubuhku untuk bertindak.

Tadi pagi saat aku berjemur di teras dan ada salah satu orang yang meledek dengan menertawakan bajuku yang terlihat seperti pakaian seorang pasien yang sedang sakit, dan lantas bayanganku dengan sigap mengendalikan diriku untuk mencekik dan memukul orang yang mengunakan mulutnya untuk mengucilkanku. Dan ketika aku kembali ke kamarku ikan koi itu berkata bahwa apa yang kulakukan pada pencemooh itu bukanlah sebuah perbuatan yang baik karena aku telah menyakiti dan membahayakan orang tersebut. Dan aku berkata pada ikan itu, “Bukan aku yang lakukan itu semua. Bayanganku yang mengendalikanku saat aku marah dan membuat perbuatan buruk itu terjadi”

“Tidak bisakah kamu melawan bayanganmu itu? Dia hanya si gelap” jawab si ikan.

“Tidak, bayangan itu adalah bagian dari diriku. Kita berdua adalah kesatuan.”

Ikan itu berkata, “Jika benar kalian berdua adalah satu maka pastilah bisa kamu kendalikan si gelap itu sebab ia hanya menumpang pada tubuhmu itu”.

Ikan itu memang selalu rewel ketika ada sesuatu hal yang tidak baik aku lakukan kepada diriku maupun orang lain. Dia selalu menasehatiku dan selalu memintaku agar dapat mengendalikan bayanganku itu. Jika dipikir – pikir aku dan bayangan adalah sebuah kesatuan tetapi di antara aku dan bayangan tentulah aku yang memiliki tubuh dan jiwa ini tetapi bayangan suka mengambil alih tubuh dan jiwaku untuk bertindak, yang seharusnya akulah yang memiliki kendali penuh atas segala keputusan untuk setiap tindakan.

Ikan itu memang suka mengajariku agar aku berbuat baik yang di mana aku dapat menerima segala hinaan dan kebencian orang – orang kepada diriku. Ikan itu meminta agar aku memiliki keluasan hati dan memberi ruang yang besar di hati untuk mereka orang – orang yang jahat kepadaku.

Sekali waktu aku pernah membawa ikan itu keluar kamar. Aku membawa ikan itu di dalam seikat kantung plastik yang ku isi air dari aquarium. Di teras itu lagi – lagi ada orang yang kembali meledek dirku dengan perkataan yang mengucilkanku, ia mengatakan bahwa aku tidak punya teman selain ikan dan suka berbicara pada sendiri, orang itu berkata lagi bahwa aku adalah mahluk paling kesepian. Memang cuaca saat itu sedang banyak angin yang bertiup kencang dan langit terlihat gelap di susul dengan suara gemuruh geledek yang seolah menandakan ingin turun hujan. Mendengar perkataan orang itu bayanganku mulai muncul meski hanya nampak buram dan ia mulai mengerakan tanganku untuk mengepal.

“Ayolah kawanku. Lawan bayang itu, dia mencoba mengendalikan dirimu lagi untuk melakukan perbuatan yang tidak baik”, sahut ikan itu yang melihat aku mulai geram mendengar ledekan orang tersebut.

“Hhhhhhh……” aku hanya dapat menghela nafas dan kini wajahku tampak muram menerima perkataan yang meledekku, aku melawan amarahku dan mencoba mengendalikan diriku seperti yang ikan itu katakan. Bayangan itu gagal mengendalikan diriku untuk memukul orang tersebut. Kali ini aku mengalahkan amarahku dan bayangan itu pergi kembali kedalam kamarku yang sunyi dan sepi.

“Bagus sekali. Kamu memang lelaki yang kuat. Teruslah seperti itu. Kendalikan amarahmu, perluaslah lautan kesabaranmu dan perbanyaklah ruang untuk setiap orang yang benci kepadamu. Jadilah manusia yang tangguh”, sahut ikan itu dari dalam kantung plastik.

“Tidakkah memuakan dunia ini? Orang lain selalu berusaha menjatuhkan diriku. Orang – orang selalu menatapku dengan mata kebencian mereka, lalu dapat berkata sesuka mereka. semua orang selalu suka menghina, kekurangan diri bagai godaan yang menanti untuk di hina. Apa yang dapat kuperbuat selain menghela nafas untuk kalahkan amarahku?”

“Mudah saja. Kamu dapat menangis. Dan semoga langit yang mendung ini dapat memberi hujan kepada bumi, sebab nantinya akan ada pelangi yang membuatmu tersenyum kembali”, jawab si ikan.

Pada saat itu turunlah tetes air hujan pertama di hari yang gelap itu, yang bersamaan dengan tetes pertama air mataku yang diciptakan dari mendung di hatiku. Saat itu aku sadar bahwa memang sebenarnya aku ini hanya berteman pada ikan dan bayangan itu saja.

Kamarku adalah tempat yang penuh dengan kesunyian dan pintu keluar adalah jalan yang mengantarku pada dunia luar, yang dengan segala macam keramaian orang – orang yang berusaha mengodaku untuk berteman walau aku tahu nantinya mereka hanya akan menghina dan membeciku saja. Ketika di dalam kamarku aku tidak melakukan hal – hal buruk pada orang lain sebab di sana hanyalah sepi, ruangan itu adalah sunyi, pikiranku tenang, tidak ada apa dan siapa selain ikan dan aku yang termaksud bayanganku juga. Segala penyesalan barulah aku dapat rasakan di sana sebab di sana tidak ada orang lain untuk di salahkan.

“Ikan bolehkan aku bertanya” ikan itu sedang mondar – mandir berputar di dalam aquarium yang sangat tidak cukup luas dibanding tempatnya berasal.

“Tentu saja, aku ini hanya seekor ikan, dan yang berbicara mewakiliku adalah pikiranmu sendiri”

“Di mana aku bisa melemparkan segala amarah dan kebencianku ini?”

“Tentulah kamu akan temukan jawaban itu pada kesendirian yang kamu alami”

“Aku merasa tenang berada di kamarku. Sebab disini tidak ada orang lain selain aku, tetapi aku tidak bisa selamanya merasakan kesepian ini”

“Ya, memang seperti itu manusia. Kamu akan mengurai segala amarah dan kebencianmu pada kesadaran diri yang akan kamu alami saat meratapi diri, dan merasakan keterasingan saat menerima semua kebencian dan amarah orang – orang terhadapmu”, sahut ikan.

“Apa aku boleh menangis saat merasa diasingkan dari orang – orang?”

“Mungkin sebaiknya kamu tertawa dan bahagialah saat merasa diasingkan, lalu menangislah saat kamu berada di kesendirian”, jawab ikan.

“Di mana letak kesendiran itu? Di mana aku akan menangis?”

“Di dalam hatimu, di sana tidak ada orang lain yang melihatmu menangis. Di sana kamu bisa sadar dan tahu bahwa hanya dirimu sendirilah yang pantas dibenci”, jawab ikan.

Ketika malam hari datang bersama bintang dan bulan, ia bawakan juga padaku hembusan angin yang dingin dan menusuk kulitku. Di dalam hembusan yang dingin itu terdapat rasa kesepian yang membuatku merenung. Dari sudut tergelap sebuah bayangan muncul dan aku tahu bahwa dia adalah bagian diriku di mana bayangan itu adalah sisi gelap di dalam hatiku yang berusaha mengendalikanku. Ia selalu berusaha memenangkan amarahku.

Aku yang diasingkan dan dipenuhi kebencian yang dapat membahayakan orang lain kala bayangan itu berhasil mengendalikan diriku untuk meledakkan segala amarahku kepada orang lain, aku sadar itu bukanlah perbuatan yang baik ketika orang lain menerima perbuatan burukku itu tentunya hanya akan memperkeruh pandangan orang – orang kepada diriku yang semakin kelam dibawa oleh bayangan.

Ikan itu selalu memberiku nasihat baik dan mengajariku untuk melawan amarah ketika bayanganku muncul dari sisi tergelap hatiku. Ikan itu adalah sepucuk cahaya yang segala kelakuannya tidaklah masuk akal ketika aku dapat mendengar dan melihat bahwa seekor ikan bisa berbicara.

***

Bayangan itu muncul kembali dengan bentuk yang utuh sebagaimana bentuk perwujudan diriku. Seketika ia dapat memunculkan bentangan sayap yang gelap dan lebar bagaikan sebuah cakar yang sagat menakutkan dan begitu mengerikan bagi mereka yang melihatnya. Sayap itu menutupi cahaya bulan yang menjamah seluruh isi kamarku, jendela tertutupi, bahkan seluruh kamarku adalah bayangan itu. Kini hanya ada gelap dan dimana cahaya itu. Aku ketakutan. Aku menangis. Di mana ikan itu.

Hanya ada suara bisik yang mengiang di telingaku. Bisikan – bisikan yang pelan namun meyakinkanku dan memberiku segenap keberanian.

Bisikan yang pelan itu berkata sesuatu kepadaku, “Aku selalu bersamamu. Aku selalu menjadi cahaya yang maha menerangi di dalam hatimu. Aku selalu menjagamu dari tangisku, dari ketakutanku pada kegelapan yang berusaha menelanku”.

Suara itu mendobrak hatiku yang membawaku pada keberanian untuk menerima segala kebencian orang lain kepadaku, hati yang sadar akan segala kekurangan diri. Hati yang diberi ruang kesabaran maha luas. Kini aku bangkit.

“Bayangan itu bukanlah diriku, hati yang kelam itu ambilah dan bawa saja segala amarahku sebab aku akan meninggalkan sisi gelap yang nantinya tidak ada ruang bagi dirimu.”

Aku berkata pada bayanganku yang memang aku terlihat seperti berbicara sendiri. Bayangan itu lenyap seperti asap dan habis dibawa oleh angin.

Suasana kamarku kembali seperti biasa dan ketenangan dapat kembali kurasakan.

Inilah keputusanku untuk meninggalkan bayangan. Hanya ikan dan cahaya itulah teman sejatiku, mereka adalah penuntun jalanku kembali dari bayangan yang telah merangkulku dalam bekapnya selama ini, yang dikendalikan oleh sisi gelap diriku.

Baik dan buruk, gelap dan terang dua sisi yang akan selalu bertarung dan selalu hadir dalam diri manusia. Itu semua adalah pilihan agar hidup akan terus berjalan

***

Jatung yang berdetak cepat dan keringat yang membasahi tubuhku membuat aku terbangun dari tidurku. Dan ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi. Dan aku masih di dalam kamar bersama ikan koi itu. Cahaya matahari mulai mendobrak masuk kekamarku dan membelai lembut punggungku dengan kehangatan.

“hhhh……… Kini saatnya aku minum obat, sebelum kegilaan mulai merasukiku lagi, lalu aku mulai kembali berbicara sendiri atau mengoceh pada ikan koi itu”

Ada suara dari aquarium yang berkata, “Bagus bagus….. kamu memang lelaki yang kuat. Teruslah menjadi pemberani kala bayangan itu mencoba menyelimutimu”.

“Ikan?”, tanyaku.

“…………….” tidak ada jawab ataupun suara balasan dan hanya hening.

“Apa aku benar – benar sudah gila”?

“Tidak ada apa dan siapa yang gila. Hanya akulah si ikan dan bayanganmu yang benar-benar ada”.

 

Oleh: Reksa Bayu.

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Nasional Jakarta.

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password