breaking news New
Petrus Selestinus (Baju Hitam), Ketua terpilih KBM JAYA.

Petrus Selestinus Siap Jalani Tanggung Jawab Sosial di KBM JAYA

Jakarta, Kabarnusantara.net – Pada 6 Oktober 2017, Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM JAYA) mengadakan rapat dengan agenda tunggal serah terima Kepengurusan KBM JAYA dari periode Kepengurusan 1978-2017.

Kepengurusan dalam rentang waktu yang lama itu dipimpin oleh Blasius Bapa sebagai Ketua Umum kepada Petrus Selestinus, sebagai Ketua Umum KBM JAYA terpilih untuk periode 2017-2020.

Ketua Umum KBM JAYA Blasius Bapa dalam pembukaan rapat serah terima menyampaikan beberapa hal tentang perjalanan panjang KBM JAYA, sejak 1978 atau selama 41 tahun sejak didirikan atas prakarsa dari alm. Frans Seda, Laurensius Say, Ben Mang Reng Say, VB da’Costa, Blasius Bapa, Kria Sinner Key Timu dll.

Sejak pertama didirikan, KBM JAYA dengan Ketua Umumnya Blasius Bapa, langsung memfokuskan misinya sebagai sebuah wadah sosial karitatif yang bertujuan membantu warga Maumere di Jakarta dan di Sikka atau di tempat lain ketika menghadapi persoalan sosial yang pelik dan membutuhkan uluran tangan.

Sejumlah karya karitatif selama 41 tahun berjalan, khususnya kegiatan bantuan sosial sejak awal pendiriannya tahun 1978 dan seterusnya sangat fenomenal, karena mampu menggerakan partisipasi publik yang luar biasa ketika Sikka dan sekitarnya ditimpa musibah bencana.

“Sejumlah karya karitatif yang fenomenal itu antara lain menggalang bantuan untuk korban banjir bandang di Lekebai,Tsunami Sikka, peristiwa kelaparan Wolofeo, pembuatan Patung Kristus Raja saat kunjungan Paus Paulus di Maumere dan sejumlah kegiatan advokasi kepada warga Maumere di Jakarta yang menghadapi persoalan hukum untuk dibela oleh para Advokat KBM JAYA yang waktu itu jumlahnya sangat sedikit”.

Blasius Bapa menegaskan bahwa tidak mudah menggerakan orang untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang tidak memberikan profit secara materil, namun pengalaman selama KBM JAYA pada masa lampau, hal itu mudah dilakukan berkat relasi sosial dari para tokoh penggagas KBM JAYA pada waktu itu yang rata-rata masih punya cantelan kekuasaan di eksekutif, legislatif dan di pihak swasta.

Petrus Selestinus, sebagai Ketua KBM JAYA terpilih periode 2017-2020, dalam komentarnya menyatakan bahwa seluruh pengurus KBM JAYA, siap menerima beban dan tanganggung jawab sosial KBM JAYA untuk ke depan, karena tantangan KBM ke depan sudah sangat jauh berbeda dengan tantangan KBM JAYA pada era 20 tahun yang lalu.

“Karena ketika itu keadaan ekonomi masyarakat sangat sulit, namun beberapa tokoh nasional asal Sikka Maumere di Jakarta mau berperan langsung, ketika sebuah bencana sosial terjadi dan memerlukan uluran tangan,” kata dia.

Dikatakannya, Ini tentu tidak lepas dari kemampuan lobby dan berkat kepiawaian Ketua KBM JAYA Bpk. Blasius Bapa dalam membangun relasi sosial yang sangat baik dengan Gubernur DKI Jakarta dan sejumlah tokoh nasional lainnya.

Petrus Selestinus, menegaskan bahwa sebagai Organisasi sosial kemasyarakatan yang bersifat karitatif, KBM JAYA dalam usianya yang ke 41 tahun ke depan harus secara progresif mengubah secara total model pendekatan karitatif dalam mewujudkan tujuan sosialnya di masyarakat.

“Sudah saatnya KBM JAYA mengubah secara progresif model pendekatan yang bersifat karitatif yaitu membantu dan melayani warga KBM JAYA di perantauan khususnya di Jabodetabek dan juga di Maumere, ketika menghadapi persoalan sosial ke pendekatan yang bersifat pemberdayaan sosial warga KBM JAYA agar mampu keluar dari persoalan sosial dan menjadi mitra dalam pembangunan daerah dan bangsa,” tegasnya.

Menurut Petrus, pendekatan karitatif KBM JAYA pada 20 tahun yang lalu sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan pada kondisi warga KBM JAYA pada saat ini.

“Karena model pendekatan karitatif selain bersifat tradisional dan kasuistis, juga tidak membuat pihak yang menerima bantuan menjadi lebih baik dan kuat untuk menghadapi tantangan hidup pada masa berikutnya. Kondisi warga KBM JAYA di perantauan (Jakarta) pada saat sekarang sudah jauh lebih maju dari kondisi warga KBM JAYA pada era 20 tahun kebelakang ( 1978-1998),” ucapnya.

Perbedaanya, kata Petrus, terletak pada kondisi sosial ekonomi yang lebih baik dengan segala dampak positifnya terutama di bidang pendidikan dan lapangan kerja, sudah banyak intelektual muda asal Maumere di Jabodetabek yang lahir sebagai akibat dari kondisi sosial ekonomi yang sudah baik.

Namun, ia menambahkan, dibalik dampak positif yang ditimbulkan itu, melahirkan pula dampak negatif yaitu munculnya perilaku egois dan individulistis di kalangan warga KBM JAYA sehingga solidaritas warga KBM JAYA yang semula sangat mekanik, kini berubah menjadi solidaritas organik yang berpengaruh kepada sulitnya mewujudkan peran sosial karitatif KBM JAYA.

Karena itu, Ia berharap KBM JAYA bisa mewujudkan impian membawa Maumere lebih baik.

“Semoga KBM JAYA dapat mewujudkan mimpi besarnya dalam karya karitatif untuk Maumere yang lebih baik,” tutupnya. (Wirawan/KbN)

<

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password