breaking news New
Petrus Selestinus (Foto: Kabarnusantara.net)

Pengamat: Pergantian Ketua MA Tidak Menjamin Lahirkan Hakim Berintegritas

Jakarta, Kabarnusantara.net  – Pengamat yang juga Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mendukung usul Hakim Agung Prof. Dr. Gayus Lumbuun, SH agar Ketua Mahkamah Agung Hata Ali dan jajarannya yang korup mengundurkan diri dari Jabatan Ketua Mahkamah Agung RI dan jabatan struktur lainnya.

Menurutnya, Petrus Selestinus, desakan tersebut beralasan karena Ketua MA telah gagal menjaga harkat dan martabat Lembaga Peradilan di Indonesia yang berpuncak pada Mahkamah Agung RI.

Petrus menyampaikan, Ketua MA gagal karena masih maraknya praktek suap di kalangan Hakim-Hakim dan Panitera di hampir seluruh Pengadilan Tinggi, Pengadilan Negeri, PTUN bahkan Hakim-Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI.

“Sebagaimana terbukti dari masih seringnya sejumlah Hakim dan Panitera terjaring OTT KPK, karena upaya suap untuk memenangkan perkara bahkan perkara yang sudah diijonkan,” jelasnya.

Petrus menambahkan, sebetulnya bukan hanya Hata Ali yang harus mundur dari jabatan Ketua Mahkamah Agung RI, akan tetapi sejumlah pejabat struktur di Mahkamah Agung RI juga harus mundur, Ketua Pengadilan Tinggi di sejumlah wilayah Provinsi yang basah juga harus mundur termasuk sejumlah Ketua Pengadilan Negeri kelas I di berbagai tempat.

“Karena pada posisi jabatan dan tempat domisili Pengadilan yang subur dan strategis, maka subur pula KKN dalam berbagai bentuk, baik melalui putusan hakim maupun dalam pola rekrutmen penempatan sejumlah Ketua Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri serta jabatan struktur lainnya dinMahkamah Agung,” jelas Advokat Peradi ini.

Menurutnya, upaya bersih-bersih di lembaga Peradilan harus dilakukan secara menyeluruh terhadap mereka yang berhubungan langsung dengan penentuan, promosi dan mutasi Hakim.

“Jika ingin menciptakan hakim-hakim yang bersih maka bersihkan dahulu para pejabat yang menentukan seseorang menjadi hakim, bersihkan dahulu pejabat yang menentukan promosi jabatan, mutasi jabatan di lingkungan Mahkamah Agung yang selama ini disebut-sebut menjadi industri atau komoditas yang menghasilkan banyak uang,” tegasnya.

Ia menuturkan, regenerasi Hakim-Hakim yang bermental korup berlangsung terus menerus, sehingga jika hanya memundurkan Hata Ali seorang diri, maka itu bukan solusinya karena calon-calon bermental serupa sudah beranak pinak dan bereregenerasi di Mahkamah Agung.

“Putuskan matarantai jaringan mafia peradilan, tinjau kembali putusan Pengadilan Negeri hingga Mahkamah Agung yang aneh-aneh yang selama ini lolos dari pantauan dan reaksi publik dengan berlindung di balik asas kemandirian peradilan dan kebebasan hakim,” pesannya.

Ia melanjutkan, penggunaan asas kemandirian badan peradilan dan asas kebebasan hakim tanpa kontrol memadai, sudah sering memakan korban jutaan pencari keadilan dari kalangan rakyat miskin.

“Pengadilan justru berubah menjadi pintu masuk melakukan kajahatan merampis milik orang lain dengan kemasan putusan Pengadilan yang berkekuatan yang tetap. Korbannya bukan hanya rakyat kecil tetapi sekarang negarapun sering dikalahkan dalam perkara-perkara perdata karena melawan kekuatan uang dari pihak lawan perkaranya yang kebetulan orang kuat, berkat kerja sama dengan oknum-oknum hakim nakal yang secara terstruktur telah dipelihara di berbagai tempat. Ini semacam sebuah industri yang sangat menjanjikan,” tutupnya. (Wirawan/KbN)

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password