breaking news New

NTT Dalam Frame Budaya Toleransi


Dalam peradaban kehidupan masyarakat di NTT, budaya merupakan tonggak dasar untuk membangun relasi hidup bersama dan merawat kebersamaan. (Kardia Hasiman) 


Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi yang terletak di kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi ini berdiri pada 14 Desember 1958, dengan luas wilayah 48.718.10 km2, yang terbentang pada 8-12 LS dan 118-125 BT. Memiliki 21 kabupaten dan satu Kota yang masing-masing tersebar di beberapa pulau. Provinsi NTT juga memiliki kurang lebih 550 pulau kecil. Sebagian besar aktivitas masyarakat NTT yaitu bertani dan beternak.

Letak geografis dan pekerjaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat desa sangat mempengaruhi eksistensi suatu suku, budaya, agama dan ras yang ada di NTT. Dan keberagaman ini yang
melatar belakangi indahnya hidup di NTT.

Dalam peradaban kehidupan masyarakat di NTT, budaya merupakan tonggak dasar untuk membangun relasi hidup bersama dan merawat kebersamaan, agar semakin solid dan dapat menciptakan kehidupan masyarakat yang religius. Ini adalah suatu tradisi berperilaku yang secara sadar atau tidak sadar selalu dilakoni oleh setiap individu dalam setiap irama kehidupannya.

Seni yang muncul dan berkembang dalam kehidupan masyarakat NTT tercermin dalam nilai toleransi atau saling mengakui dan menghargai satu dengan yang lain. Dengan demikian semangat Bhineka Tunggal Ika dan semboyan Berbeda-beda tetapi satu jua bukan hanya sekedar kata pemanis bibir, melainkan sudah menjiwai kehidupan masyarakat NTT. Perilaku demikian yang bisa ditiru oleh masyarakat dari berbagai daerah lain di Indonesia.

Masyarakat NTT sangat kental dengan nuansa budaya, kemanapun kaki
kita berpijak baik itu di tanah Timor, Alor, Sumba, Sabu, Rote atau pun di Pulau Flores, kita akan menemukan perilaku masyarakat yang berbudaya. Salah satunya adalah kecakapan dalam hidup saling menghormati. Hal ini dapat kita lihat pada aktualisasi nilai-nilai budaya yang masih sangat asri.

Misalnya pada kebiasaan masyarakat NTT ketika menerima tamu yang hendak berkunjung ke rumah mereka. Sebagai tamu maka akan ada perilaku spesial bagi tamu tersebut, misalnya dia disambut dengan ramah dan dipersilahkan untuk masuk dan diberi minuman. Ada pula suatu pertunjukkan budaya toleransi, yang patut diberi apresiasi yaitu ketika Masjid Al-Muttaqin dibagun persis disamping Gereja HKBP Kota Baru Kupang, ada pula seorang Ibu muslim menghantarkan anaknya untuk ditabiskan menjadi seorang gembala dalam Gereja Katolik.

Ini merupakan potret hidup yang memiliki nilai estetika sekaligus memiliki makna saling menghargai dalam kebinekaan dan juga menunjukkan hidup dalam rasa
persaudaraan yang tinggi. Sehingga sangatlah pantas Nusa Tenggara Timur
dijuluki Nusa Toleransi Terindah. Bagi masyarakat NTT saling menghargai itu tidak memiliki tapal batas, karena hidup saling berdampingan ditengah kemajemukan adalah suatu
perwujudan dari keberadaban manusia. Suatu aklak yang luhur untuk membangun dan menjaga keutuhan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Masyarakat NTT pada era kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya pernah memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat melalui Mendagri
atas toleransi yang ada di NTT pada tahun 2015 lalu. Ini adalah suatu penghargaan yang menurut hemat saya: harus dijaga dan ditumbuhkembangkan dalam kehidupan masyarakat NTT. Karena toleransi merupakan tombak utama untuk menangkal segala bentuk radikalisme, kekerasan dan perpecahan di tengah masyarakat sekaligus merupakan suatu sumur kemakmuran yang ada sejak nenek moyang hidup dan mendiami wilayah NTT. Itu semua adalah tentang indahnya hidup dalam rasa persaudaraan sejati.

Sebagai generasi yang lahir di NTT, tentu saja saya dan generasi yang lain dari NTT dituntut dan didesak untuk bertanggung jawab dalam upaya menjaga dan mempertahankan nilai toleransi sebagai karakteristik yang melekat dalam kehidupan masyarakat NTT. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah jika tidak dilatih dari keluarga tentang hidup saling menghargai. Karena keluarga adalah miniatur kehidupan masyarakat.

Memilih untuk saling menghargai zaman modernisasi ini tentu bukanlah suatu hal yang mudah, seperti halnya kita membalikkan telapak tangan, namun harus melalui perjuangan. Perjuangan tersebut dapat dibuktikan dengan memiliki rasa kebersamaan, mementingkan hak bersama dan yang paling utama yaitu harus memiliki kemampuan dalam menguasai diri sendiri, dalam artian bisa
melampaui keegoisan diri.

Penulis : Kardia Hasiman, Generasi Muda NTT

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password