breaking news New

Paus dan Tudingan Sesat: Pembacaan Historis

Tidak terasa tahun ini sudah menginjak tahun kelima Paus Fransiskus bertahta. Tahun 2013 beliau dipilih menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri. Paus asal Argentina yang bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini mencatat sejumlah rekor: Paus pertama Jesuit dan Paus pertama dari luar Eropa. Lepas dari itu, gaya kepemimpinan Paus Fransiskus mengingatkan kita pada banyak kenangan jauh ke belakang, yakni potongan sejarah Konsili Vatikan II yang fenomenal dan monumental.

Ia terpilih di usia yang tak lagi muda, persis ketika Angelo Roncalli (Paus Yohanes XXIII) terpilih menjadi Paus pada tahun 1958, menggantikan Paus Pius XII yang kharismatik. Tak banyak yang berharap pada Paus Yohanes XXIII, selain sekadar Paus transisi yang akan mengantar Gereja mendapatkan pemimpin yang lebih muda dan segar. Namun semua anggapan itu jungkir balik oleh keputusan tiba-tiba Paus untuk mengadakan konsili. Konsili yang dimaksudkan untuk membuka jendela Gereja agar semilir hawa segar perubahan berhembus.

Pada akhirnya Konsili Vatikan II digelar antara tahun 1962-1965. Keputusan Angelo Roncalli memilih nama Yohanes agaknya sarat makna. Yohanes adalah orang yang datang menyiapkan sang Terang sejati hadir. Ia sadar sepenuhnya akan perannya. Konsili yang tak hendak merumuskan ajaran baru, namun ingin membarui spirit Gereja agar selaras dengan perkembangan zaman (aggiornamento) melalui upaya menimba pengetahuan dan kebijaksanaan dari harta karun Gereja di masa lampau (ressourcement). Konsili, yang oleh Kardinal Joseph Ratzinger disebut sebagai “upaya mencari kebaruan dalam kesinambungan”.

Paus Yohanes XXIII mangkat di tengah Konsili dan digantikan Kardinal Giovanni Montini, mantan Uskup Agung Milan, yang mengambil nama Paulus VI. Paulus adalah rasul Kristus yang mengalami kisah pertobatan yang luar biasa – dari pembenci menjadi pengikut sejati Yesus Kristus. Di tangan Pauluslah ajaran Kristen menjadi bercorak ‘katolik’ (umum/universal) dan menjangkau sudut dunia di luar tradisi Yudaisme. Paus Paulus VI menuntaskan Konsili dan mengantar Gereja yang ‘bersemangat baru’ memasuki dunia modern. Ketika Konsili berakhir, Yves Congar, salah seorang ahli (peritus) eklesiologi berujar, bahwa babak baru dari sebuah konsili yang tak tuntas sedang dimulai. Ya, kita maklum, Konsili dimulai dan diakhiri dengan banyak ketidaksetujuan dan merupakan medan kontestasi dua paham teologi besar yang akan terus menjadi bayang-bayang.

Semangat anti-modernisme yang lebih gemar mengurung diri dalam mentalitas steril dan higienis, dan menemukan puncaknya pada sosok Paus Pius X di awal abad ke-20, tetap menjadi ekspresi dominan. Konservatisme yang berwatak kaku, teguh pada keketatan rumusan ajaran, menampik perubahan dan pembaruan demi kemurnian, dan berjarak pada realitas duniawi. Sungguh berbeda dengan pendirian kubu lain yang lebih terbuka, membuka ruang perubahan, dan mengedepankan corak pastoral yang lebih merangkul. Warna teologi neo-skolastik yang spekulatif dan menonjolkan hal-hal adikodrati tetap memiliki daya pesona dan kerap dijadikan rujukan bagi kekokohan sebuah pandangan.

Paus Yohanes Paulus II yang kharismatik, kuat, dan mempesona adalah penampakan dari berbagai pertarungan warna teologis di dalam Gereja. Sikap dan pendirian Paus yang tercermin dalam berbagai ensikliknya jelas menunjukkan warna pertarungan ini. Antara kelompok liberal yang ingin Gereja bertolak dari spirit Vatikan II yang progresif, dan kelompok konservatif yang lebih menyukai selera pra-Vatikan II karena menonjolkan sentralitas Paus, pemusatan kekuasaan, dan pendekatan formalistik dalam berteologi. Jalan ketiga atau jalan tengah toh tidak mustahil menjadi pilihan. Gereja tetap menghidupi dinamika itu dengan semangat persatuan yang tinggi, mendayung biduk mengarungi samudera perubahan yang tak mudah. Kardinal Joseph Ratzinger atau Paus Benediktus XVI adalah benteng iman yang kokoh, namun tetap terlampau baik untuk menghukum para koleganya yang korup dan menyimpang.

Hingga akhirnya Paus Fransiskus bertahta. Ia mewarisi Gereja yang amat kompleks. Berayun di antara tegangan konservatisme dan liberalisme, tuntutan memperkuat sentralitas Kepausan versus desentralisasi, upaya membersihkan Gereja dari pelanggaran seksual dan kebutuhan menjaga wibawa Gereja, serta pacuan waktu untuk merevitalisasi spirit Vatikan II dan godaan untuk kembali memeluk ekslusivitas. Paus memilih kembali ke periode Vatikan II. Ia amat sadar Gereja telah menjadi monster yang kaku dan berhati beku, sebagaimana pernah dikhawatirkan Paus Pius XI. Gereja yang justru menjauh dari ciri dan praksis iman Yesus Kristus.

Maka fokus Paus Fransiskus adalah pastoral, bukan teologi. Ia tak mau dipusingkan oleh hukum dan rumusan, melainkan tindakan merangkul, memeluk, dan mengulurkan tangan. Melampaui aneka atribut tentang keserba-mahaan Allah, Ia adalah kasih. Dan tugas orang beriman adalah bertindak demi memastikan kasih itu bekerja dan kehadirannya dirasakan. Sebagaimana disarikan Kardinal Cormac Murphy-O’Connor –kolega dekatnya – Paus bertumpu pada tiga pilar: collegiality (Paus bersama para kardinal dan uskup dalam kesatuan sebagai pengajar dan gembala), synodality (uskup dan imam bersama awam saling mendengarkan dan berembug), serta subsidiarity (desentralisasi kewenangan dengan menyerahkan kuasa pada uskup dan Gereja lokal).

Semangat dan corak itu penting untuk membaca kebungkaman Paus terhadap setidaknya dua gugatan. Pertama adalah dubia yang diajukan empat kardinal dan terakhir filia correction yang dibuat sekitar 62 teolog dan akademisi, di antaranya Uskup Bernard Fellay, pimpinan komunitas konservatif Serikat Santo Pius X. Tak tanggung-tanggung, Paus dituduh mengajarkan kesesatan melalui Amoris Laetitia. Paus bak dijepit oleh para ahli Taurat dan orang Farisi yang ingin menguji sekaligus menjatuhkan Yesus. Paus bergeming, sedangkan mereka terus mendesak. Paus jelas bukan tidak paham Amoris Laetitia yang ditulisnya. Tapi ia ingin menekankan tiga pilar yang menjadi corak kepemimpinannya. Alih-alih meladeni perdebatan teologi yang bersifat spekulatif dan kadang menjadi ajang unjuk pemahaman konseptual ala kaum Sofis, Paus memilih untuk tetap menjawab keraguan itu dengan tindakan. Ia menekankan arti menjadi Katolik, yakni bertindak dan tindakan itu adalah kasih. Bukan dengan kegaduhan dan keributan.

Jika hendak dibenturkan, bukankah amat mudah menimbang mana yang lebih penting? Menghadirkan praksis dan tindakan Yesus atau membumbui dunia dengan rumusan dan perang kata-kata? Bukankah sekian ribu timbunan dokumen ajaran itu toh tak mempan membendung praktik korupsi dan pengeroposan Gereja dari bahaya puas diri dan merasa paling benar, hingga lupa menjadi saksi Injil Kristus? Dunia berubah, dan berubah amat cepat. Kardinal John Henry Newman yang amat dihormati suatu ketika berucap, bahwa ‘to live is to change….and to be perfect is to have changed often”. Paus Fransiskus adalah penjelmaan spirit Vatikan II, yang dihadirkan agar Gereja menjadi sempurna melalui perubahan. Lantas kenapa kita tak berubah? Apakah karena tak ingin sempurna dan berkutat pada hal-hal remeh temeh yang membelenggu? Paus Fransiskus tentu tak ingin menjawabnya, selain kembali mengatakan “siapakah saya ini sehingga menghakimi?” dan sambil tersenyum tulus berujar,”Allah adalah kasih!” Roh Kudus akan bertiup ke mana Ia mau, dan tugas umat Allah membuka hati pada panggilan ilahi.

Salam hangat
Yustinus Prastowo

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password