breaking news New

Minim Politisi Berkualitas, KPK-Satunama Siapkan Generasi Baru Politik

Yogyakarta, Kabarnusantara.net – Pentingkah keberadaan generasi muda dalam kancah politik? Pertanyaan ini seringkali hanya menjadi pertanyaan atau paling jauh akan dijawab penting. Namun seberapa penting? itulah yang masih perlu mendapat perhatian. Partisipasi politik anak muda sejauh ini hanya ramai kala pergelaran-pergelaran pemilihan umum berlangsung. Sebuah penelitian oleh Morissan yang diterbitkan dalam Jurnal Visi Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta tahun 2016 menyebutkan bahwa pemilih pemula merupakan salah satu kelompok penting pada setiap pemilu. Mereka adalah para generasi muda yang berusia antara 17 hingga 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 73,2 persen respoden memberikan suara pada Pemilu legislatif 2014 lalu.

Ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi politik di kalangan anak muda cukup tinggi. Namun dalam penelitian tersebut juga disebutkan bahwa bentuk minat dan partisipasi politik tersebut hanya berwujud sebatas mengobrolkan isu politik dengan teman. Puncak tertingginya terletak pada partisipasi sebagai pemilih dalam pemilu. Sementara bentuk minat dan partisipasi yang lebih spesifik seperti membantu kampanye parpol, memberikan kontribusi sumber daya kepada partai politik, menjadi pengurus partai politik hingga mencoba maju dalam kancah pemilihan umum dalam usia yang masih relatiif muda, bukanlah opsi yang marak di kalangan anak muda.

Kajian lain menguatkan kondisi tersebut. Dalam tataran kursi legislatif DPR RI, jumlah politisi muda (usia 20-40 tahun) yang berkecimpung di sana juga tidak terlalu besar. Dalam kajian yang dilakukan oleh Formappi pada 2014 lalu ditemukan bahwa dari 560 anggota DPR RI terpilih periode 2014-2019, hanya ada 96 orang (17,2%) yang berusia antara 20-40 tahun. Dan dari 96 orang tersebut hanya ada 15 orang (2,7%) yang berusia 20-30 tahun. Sementara sisanya 81 orang (14,5%) berusia 30-40 tahun.

Data-data tersebut cukup memberikan gambaran bahwa keberadaan politisi belia dalam kancah politik Indonesia masih minim. Padahal keberadaan politisi belia bukan saja sekadar menjadi titik awal proses regenerasi aktor politik. Namun lebih jauh lagi, khususnya bagi partai politik, adalah tantangan untuk mempersiapkan generasi politik baru di masa depan yang lebih baik.

Masih Bernuansa Kekerabatan.

Mempersiapkan generasi baru politik yang berkualitas tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Dari sejumlah politisi muda yang ada di Indonesia, sebagian dari mereka yang berhasil menduduki kursi atau jabatan tertentu cenderung tidak bisa dilepaskan dari faktor kekerabatan dengan figur elit yang merupakan orang tua, saudaranya atau keluarganya.

Tim Program Politik Cerdas Berintegritas (PCB) Yayasan SATUNAMA melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap hasil kajian Formappi, khususnya terhadap 96 politisi yang ketika terpilih sebagai anggota DPR RI 2014-2019 berada dalam rentang usia 20-40 tahun. Tim menemukan bahwa 29 orang (30,3%) di antaranya merupakan kerabat dekat tokoh atau figur politik yang tengah atau pernah berkuasa, termasuk ada juga yang merupakan kerabat dari kalangan pengusaha yang dekat dengan lingkar elit.

Hampir semua politisi yang berada di rentang usia 20-40 tahun tersebut tidak memiliki catatan yang mampu menjelaskan latar belakang pendidikan politik yang dimilikinya.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa rekrutmen dan kaderisasi di dalam partai politik masih belum dilaksanakan sesuai dasar kapasitas dan kapabilitas seorang calon politisi. Belum benar-benar nampak kemunculan seorang kader muda politik yang berangkat dari bekal dan kemampuan dasar pengetahuan, nilai dan praktik berpolitik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

Korupsi Mendekati Anak Muda

Hal lain yang juga layak diletakkan sebagai tantangan adalah persoalan korupsi yang tidak mustahil menjerat politisi generasi muda. Sebuah kondisi yang perlu dicarikan tindakan preventif dan solusinya mengingat persepsi masyarakat terhadap korupsi masih menunjukkan angka toleran korupsi yang patut menjadi perhatian.

Survey yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 2016 menemukan bahwa dari 3900 responden di seluruh Indonesia, generasi muda usia 20-40 tahun yang toleran terhadap korupsi adalah sebesar 12,8% atau sekitar 499 orang. Dimana 4% atau 156 orang di antaranya berusia 19-30 tahun.

Jumlah ini memang tidak sebesar mereka yang berusia di atas 60 tahun yang mencapai 33% atau 1287 orang. Namun mengingat politisi juga berasal dari masyarakat dan jika persepsi masyarakat terhadap korupsi masih cukup toleran, bukan tidak mungkin budaya korupsi akan terbawa ketika seseorang menduduki jabatan tertentu dalam ranah politik.

KPK membeberkan data terkait hal tersebut melalui kanal Anti-Corruption Clearing House (ACCH). Sepanjang 2004 hingga Maret 2017 terdapat 643 orang yang tertangkap oleh KPK karena kasus tindak pidana korupsi. Mereka yang berprofesi sebagai politisi dan tersangkut kasus korupsi mencapai angka 31,8% atau 204 orang. Sebanyak 19,8% atau 127 orang merupakan anggota DPR dan DPRD. Sementara di level kepala daerah seperti gubernur, walikota dan bupati/wakil bupati terdapat 12% atau 77 orang.

Jumlah generasi muda yang cenderung toleran terhadap korupsi memang tidak sebesar mereka yang berusia lebih tua. Namun paparan data di atas semestinya tidak bisa dianggap enteng. Jika tindakan preventif untuk mencegah korupsi tidak dilakukan sejak dini dan kanal pendidikan politik bagi para calon politisi tidak segera dibangun dengan baik, bukan mustahil praktik-praktik politik yang tidak bersumber pada keadilan dan tindakan korupsi dengan berbagai bentuknya akan tetap menjadi persoalan besar yang melilit Indonesia.

Pendidikan Politik Generasi Muda dan Politisi Muda.

Pendidikan politik dirasakan semakin menjadi elemen yang penting saat ini. Karena selain minat politik yang menjadi pendorong untuk berkiprah, kematangan seorang politisi juga harus diawali dengan pendidikan tentang politik. Pendidikan politik yang diberikan harus jelas dari tingkat pengetahuan, nilai hingga praktikal sebagai dasar mengenali dan menjawab situasi. Harapannya dengan pendidikan politik peserta memiliki kesadaran atas kondisi politik saat ini, dan menyiapkan perbaikan untuk menjadikan politik sebagai jalan untuk mengelola berbagai kepentingan bagi kebaikan bersama.

Pendidikan politik adalah bekal pengetahuan dasar generasi muda yang menunjukkan minat kuat terhadap politik untuk menjalani tugasnya sebagai politisi kelak. Sehingga diharapkan jika kelak terpilih menduduki sebuah jabatan atau kursi perwakilan rakyat telah siap dengan bekal kiprah politik yang mumpuni dan memiliki kesadaran untuk tidak terlibat korupsi. Artinya minat, kognisi, nilai dan kemampuan bekerja sebagai politisi yang berintegritas harus terinjeksi sejak awal di dalam seorang anak muda yang ingin berkarir sebagai politisi.

Kekeringan sarana pendidikan politik di Indonesia mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Yayasan SATUNAMA bekerjasama menyelenggarakan Kelas Politik Cerdas Berintregritas (PCB) yang bertujuan untuk mencetak para politisi yang jujur, berintegritas dan tidak terlibat korupsi di masa mendatang.

Program kelas ini telah dilakukan sejak tahun 2016 di 9 provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Papua Barat. Sebanyak total 433 anak muda tingkat SMA sederajat dan tingkat perguruan tinggi telah berpartisipasi aktif sebagai peserta dalam pelaksanaan Kelas PCB Tingkat Pratama tahun lalu. Seusai kelas pratama, mereka diminta untuk membuat aksi nyata yang menunjukkan dukungan dan komitmen mereka terhadap politik yang bersih, jujur dan anti korupsi.

Tahun ini Kelas PCB Tingkat Madya akan digulirkan sebagai kelanjutan dari Tingkat Pratama. Dengan tujuan besar mencetak politisi masa depan yang berintegritas, para peserta yang telah mengikuti tingkat pratama tahun lalu diseleksi kembali untuk menemukan mereka yang benar-benar memiliki minat untuk terjun ke kancah politik serta memiliki komitmen anti korupsi. Kedua hal tersebut dinilai dan dibuktikan melalui aksi nyata dan minat politik dari para peserta pasca Kelas PCB Pratama tahun lalu.

Sedikit berbeda dengan penyelenggaraan di Tingkat Pratama, pada Kelas PCB Tingkat Madya juga disertakan kelas untuk para politisi lintas partai yang telah bergabung dalam partai politik. Politisi yang menjadi peserta adalah mereka yang berusia 25-45 tahun dan memegang jabatan struktural dalam partai politik baik di level wilayah/daerah maupun pusat. Pengikutsertaan politisi dari partai politik dalam Kelas PCB dimaksudkan sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan keterampilan politik bagi para politisi agar mereka dapat bekerja secara jujur, berintegitas dan tidak terlibat korupsi.

Seperti Kelas PCB Pratama, Kelas PCB Madya juga akan dilaksanakan di 9 provinsi yang sama dan akan diselenggarakan dalam rentang bulan Juli-Oktober 2017. JIka pada kelas pratama lalu para peserta mendapatkan asupan kognitif berupa pengetahuan-pengetahuan dasar tentang integritas, demokrasi, politik, partai politik dan beberapa materi lain, pada tingkat madya selain materi yang bersifat pengetahuan, para peserta juga mendapatkan asupan pokok bahasan yang lebih bersifat aplikatif dan berorientasi pada keterampilan yang dibutuhkan bagi figur politisi.

Secara umum, Kelas PCB Madya bertujuan memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar bagi para generasi muda dan para politisi partai politik untuk menjadi politisi yang cerdas dan berintegritas. Program pembelajaran ini dirancang untuk mempersiapkan generasi baru politik bergabung dengan partai politik di masing-masing wilayah sekaligus memberikan penguatan kapasitas berupa pengetahuan politik, nilai-nilai integritas dan nirkorupsi serta keterampilan politik bagi para politisi yang tergabung dalam partai politik serta adanya kader-kader partai politik yang siap menjadi agen perubahan di internal partai politik.

Kelas PCB Madya juga akan memberikan pengalaman bagi para calon politisi muda untuk mengenal habitus partai politik yang ada di wilayah masing-masing. Menumbuhkan sikap dan kesadaran untuk membangun politik Indonesia yang cerdas dan berintegritas Para peserta juga akan didorong untuk membangun jejaring antar kader-kader politik muda di masing-masing wilayah.

Dengan adanya pendidikan politik melalui Kelas PCB, diharapkan akan muncul generasi politik baru dan para politisi lintas partai yang memiliki pola pikir, sikap dan perilaku yang benar-benar mencerminkan ideologi politik yang demokratis dan anti korupsi. Generasi baru inilah yang akan membangun atmosfir politik yang sehat dan pada akhirnya mewujudkan iklim politik dan demokrasi yang bermartabat di masa
mendatang. (Franz/MHN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password