breaking news New

Ritual Jamasan Kereta, Air Bekas Cucian Diperebutkan Warga

Kabarnusantara.net – Air jeruk nipis bekas cucian kereta Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Manik Retno menjadi rebutan masyarakat yang sengaja menunggu proses jamasan pusaka di Museum Kereta, Kota Jogja kemarin (17/10). Hujan gerimis tidak menyurutkan warga yang datang dari berbagai wilayah DIJ dan sekitarnya. Tak tanggung-tanggung, demi mendapatkan bekas air siraman kereta pada Selasa Kliwon itu, tak sedikit pengunjung membawa jeriken.

“Remen (suka), bisa untuk obat,” ujar Rohyadi, warga Ambarawa, Jawa Tengah.

Saking percayanya akan kemujaraban air bekas siraman kereta itu Rohadi sengaja datang ke tempat itu sejak Senin (16/10) malam dan menginap di sekitar Museum Kereta. Itu bukan hari pertama Rohyadi mendatangi ritual tersebut. Tapi sejak 30 tahun lalu dia rutin ngalap berkah bekas air cucian kereta keramat itu. Bahkan dia tak jijik atau khawatir sakit perut saat minum air yang bercampur debu dan kotoran kereta. “Kalau kembung, minum air ini langsung waras,” ucapnya meyakinkan.

Rohyadi bukan satu-satunya orang yang mengincar air bekas cucian kereta yang dulu sering dipakai Raja Keraton Jogjakarta Hamengku Buwono (HB) I dan HB IV itu. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini warga tidak bisa menampung langsung air bekas cucian kereta tersebut karena ada pagar pembatas. Kini warga hanya bisa berebut air tersebut dari petugas keamanan.

Penghageng Tepas Tandha Yekti Keraton Jogja GKR Hayu mengatakan, hal itu terpaksa dilakukan karena tradisi itu merupakan bagian hajat Keraton Jogjakarta. Sehingga tak sembarangan orang boleh menyentuh kereta.

Pada ritual pencucian kereta sebelumnya Hayu sering melihat warga yang berebut air bekas cucian sampai terbentur bagian kereta. “Di hari-hari biasa kan juga tidak boleh seperti itu (menyentuh kereta),” ungkapnya.

Ikhwal tradisi tersebut menjadi pengalaman pertama putri keempat HB X itu. ”Ini (kereta) peninggalan leluhur yang harus dijaga. Intinya begitu,” lanjutnya.

Abdi Dalem Koncoroto Pedono Rono Wiratmo yang melakukan jamasan kereta menjelaskan, ritual itu sebenarnya perawatan rutin agar benda-benda warisan keraton yang berumur ratusan tahun tidak rusak. “Supaya tidak karatan atau lapuk karena usia. Dibersihkan setahun sekali,” jelasnya. (RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password