breaking news New

Menggugat Fondasi Berpikir Pemuda (Refleksi Menjelang Sumpah Pemuda)


“Kehancuran suatu Negara selalu berawal dari kehancuran pondasi berpikir para pemudanya yang tidak mampu memahami dan mengejewantahkan nilai – nilai dasar dan tujuan bernegara secara utuh dalam setiap gerak pembangunan”

Oleh: Dominikus Dhima, S.Sos, 
Pengurus Pusat PMKRI Periode 2016-2018


Dalam catatan panjang sejarah peradaban bangsa Indonesia, peran pemuda dalam panggung perjuangan nasib bangsa bukanlah sebuah mitos yang tidak mempunyai kausalitas sosial. Masih terukir dalam ingatan kita tentang pahit manisnya sejarah pergerakan bangsa ini untuk merebut kemerdekaan dengan perubahan ekstrim fluktuatif yang terus dilakukan oleh para pemuda. Berbagai corak dan bentuk pergerakan telah dikecap tetapi pergerakan pemuda mencapai pada titik emasnya pada saat adanya pengaruh gagasan – gagasan modern yang menghinggapi pikiran pemuda kala itu, dimana mereka menyadari bahwa perjuangan untuk memajukan bangsa Indonesia harus dilakukan dengan suatu gerakan berbentuk organisasi modern, baik pendidikan, perjuangan politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Gagasan – gagasan tersebut direalisasikan oleh para pemuda dengan membentuk organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, dan lain-lain. Dari pertumbuhan dan perkembangan organisasi tersebut tampak bahwa proses pendewasaan konsep nasionalisme kultural, berkembang menjadi sosio ekonomis, dan memuncak menjadi nasionalisme politik yang merupakan aspek multidimensional. Setelah didirikannya Budi Utomo, pemuda Indonesia mulai bangkit meskipun masih dalam suasana kesukuan/ kedaerahan hingga tercetuslah suatu fenomena sejarah yang merupakan momentum sangat penting dalam proses penguatan konsep wawasan kebangsaan Indonesia yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 yaitu Sumpah Pemuda.

Essensialisme Sumpah Pemuda

Sejak peristiwa tahun 1928 itu, dunia dikejutkan oleh kemampuan dan kesanggupan bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam kemajuan. Tercetusnya Sumpah Pemuda menjadi suatu kehormatan besar bagi pemuda sebagai eksponen perjuangan nasional dan perjuangan pemuda sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan bangsa secara keseluruhan. Peran pemuda pada masa – masa itu sangat sentral sebagai agen utama perubahan karena pemuda akan selalu menjadi lokomotif sejarah dan masa depan baik sebagai konseptor maupun eksekutor handal. Eksistensi mereka menjadi sangat diakui dan dihormati dalam panggung sejarah. Kepiawaian dalam menekan arogansi Belanda dan memainkan dinamika saat pendudukan Jepang untuk menarik perhatian masyarakat internasional dengan dilandasi dimensi moral telah menarik simpati berbagai kalangan sehingga dukungan masyarakat pun secara spontan termanifestasi dalam setiap gerakan yang mereka bawakan. Ketiadaan menuntut materi dan popularitas, melainkan jujur sebagai sebuah perjuangan tulus ikhlas untuk kemaslahatan bangsanya, diikat dibawah satu sumpah, “Sumpah Pemuda”.

Semangat Sumpah Pemuda adalah semangat konvergen, datang dan bersatu karena terbentuknya suatu pondasi berpikir bahwa keberadaan para pemuda di tanah air yang berbeda, di satu titik menemukan kesamaan, sebagai bangsa yang sama dan berkomunikasi dengan bahasa yang sama pula. Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran alam pikiran pemuda akan keragaman dan keyakinan dari kekuatan harmoni. Sumpah Pemuda dijadikan sebagai titik kulminasi perjuangan nasional sebagai syarat mutlak berhasilnya perjuangan bangsa dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Sumpah Pemuda dikerangkai oleh gagasan dan niat untuk menjadikan Indonesia Satu yang tak dimulai dengan kekuasaan, tapi rasa ke-satu-an yang diliputi cinta, yaitu cinta tanah air, cinta bangsa dan cinta bahasa.

Sumpah Pemuda sebagai produk aktor intelektual “drama nasionalisme” Indonesia, mencakup tiga pengertian yaitu kesatuan yang merupakan pengertian wilayah, bangsa yang merupakan pengertian massa dan bahasa sebagai alat komunikasi yang homogen. Nilai dasar yang terkandung dalam Sumpah Pemuda mencakup kebebasan, kemandirian, dan kebersamaan. Adanya kehendak bersama untuk bersatu itu akan mengatasi alasan – alasan seperti kedaerahan, kesukuan, keturunan, keagamaan, dan sejenisnya dengan tetap menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Sumpah ini harus dipegang teguh karena sekali semangat harmoni dalam keragaman itu retak, maka perlu perjuangan kembali untuk merekatkannya.

Otokritik Pemuda Kekinian

Otokritik pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk melakukan perubahan budaya dalam suatu komunitas masyarakat, keluarga, golongan, organisasi atau lembaga dengan melakukan kritik yang dilakukan oleh anggota dari dan untuk komunitas itu sendiri. Namun seringkali kita dihadapkan pada kondisi dimana terdapat suasana formalistik yang sangat kuat, sehingga kondisi tersebut mematikan sikap kritis anggota dalam suatu komunitas baik secara horizontal maupun secara vertikal.

Konteks perjuangan pemuda zaman dahulu dalam upaya mewujudkan sebuah perubahan tentu tidak akan tercipta dengan sendirinya melalui ruang kosong tanpa alasan. Mereka harus mendobrak seluruh suasana formalistik yang ada pada masa itu melalui gerakan – gerakan kepemudaan yang berkesinambungan baik secara damai maupun radikal karena segala hal pada umumnya pasti akan membutuhkan sebab-akibat dan memiliki alur prosesnya masing-masing, bahwa geliat perubahan terbentuk bukanlah dari suatu keadaan yang diperoleh secara reaksioner dan instan.
Keadaan semacam ini seharusnya penting dipahami generasi muda zaman kekinian dalam membangun kesadaran kritis tentang kondisi diri maupun keadaan masyarakat disekitar.

Kondisi Indonesia saat ini tidak sedang dalam proses memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajah asing tetapi lebih kepada merperjuangkan makna kemerdekaan untuk mencapai tujuan bernegara yang sesungguhnya. Para Founding Fathers kita mendirikan Negara Republik Indonesia tercinta ini untuk maksud dan tujuan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtstaat) berdasarkan Pancasila.

Hal inilah yang sangat penting untuk dipahami dan dijewantahkan oleh para pemuda kekinian, melalui perenungan secara mendalam setiap fenomena – fenomena yang mengancam perwujudan cita – cita negara serta mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia. Sehingga, dapat tergugah jiwanya untuk melakukan suatu gerak perubahan untuk meredam laju distorsi radikal dan memberi bentuk perubahan yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negaranya. Namun realitas empiris menunjukan bahwa banyak pemuda kekinian tidak merefleksikan keadaan sedemikian rupa. Para pemuda yang selalu digadang – gadang menjadi agent of change dan problem solver bangsa, justru bertindak bertolak belakang dengan menjadi sisi lain dari problem maker bangsa. Bahkan sebagian besar lain dari mereka juga telah melenggang wujud menjadi sekelompok apatis pemuja Eksistensialisme Semu. Hanya sedikit yang tergolong generasi sadar dalam menginisiasi gerak perubahan.

Ketika pada usia 25 tahun seorang Mohammad Hatta telah berprestasi memimpin rapat anti kolonial di Brussel Belgia yang menjadi pijakan dasar penolakan penjajahan asing terhadap suatu bangsa, seorang Dwi Hartanto sedang terjajah oleh alam pikirannya sehingga mampu menipu seluruh negeri dengan segudang prestasi palsu hanya untuk memuaskan dahaganya akan suatu pengakuan dan popularitas di Delft, Belanda. Dwi Hartanto hanyalah contoh satu dari ribuan bahkan jutaan pemuda yang terjajah oleh alam pikirannya sendiri. Begitu banyak pemuda kita berlomba – lomba untuk memanipulasi data dan nilai untuk mempercantik CV dan profil, bahkan tidak segan memberikan suap untuk bisa diterima diinstansi pemerintahan tertentu, disisi lain bermunculan BuzzerBuzzer politik yang tidak peduli dengan efek domino dari pernyataan – pernyataan adu domba pemecah persatuan yang mereka lontarkan. Bagi para problem maker dan kelompok apatis ini yang terpenting adalah uang, kedudukan dan popularitas. Tak lain dan tak bukan semua itu hanya untuk membuktikan eksistensinya di mata masyarakat yang secara sadar telah berkontribusi dalam penghancuran negara ini secara sistematis dan terstruktur.

Generasi Pemuda kekinian Indonesia sedang mengalami turbulensi intelektual dan minim prestasi karena pengetahuan dan skill yang sangat rendah, kematian pikir yang dialami para pemuda ini akhirnya memaksa mereka melakukan segala cara untuk menunjukkan eksistensinya di masyarakat. Alam pikiran pemuda dicekoki dengan suatu kenikmatan eksistensialisme semu, “Materi, Popularitas dan Kekuasaan” tiga tujuan hidup utama yang diperjuangkan oleh para pemuda kekinian dengan tak segan – segan mengorbankan saudara, keluarga, bangsa dan negaranya. Para pemuda kekinian dengan sadarnya masuk kedalam suatu Social Engineering yang dirancang sedemikian rupa, sistematis dan terstruktur untuk menghancurkan pondasi berpikir para pemuda penerus bangsa yang bertujuan hanya satu yaitu untuk menghancurkan Indonesia.

Kehancuran suatu negara sangat erat hubungannya dengan kehancuran pondasi berpikir para pemudanya. Hal ini dikarenakan Pemuda merupakan penerus tongkat estafet kepemimpinan negara, materi pembentuk pemuda saat ini akan sangat mempengaruhi kualitas berpikir dan bertindak dalam menentukan masa depan bangsa ini kedepannya. Apabila di suatu negara, pondasi berpikir pemudanya telah hancur maka akan sangat mudah bagi pihak penghancur memasukkan berbagai propaganda – propaganda yang memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia. Bahkan para pemuda ini turut serta mengambil peran sebagai pihak penghancur hanya demi materi, popularitas dan kekuasaan. Sehingga sangat mudah bagi mereka untuk melakukan dikotomi didalam suasana kebangsaannya sendiri, hal ini diperparah dengan ketidakmampuan kelompok pemuda lainnya karena kurangnya pemahaman akan nilai dasar negara dan tujuan negara sebagai alat untuk menelaah tindak perilaku dan agenda terselubung yang selalu dimainkan oleh para problem maker tersebut.

Bagi pemuda yang miskin akal sumbu pendek akan menjadi bola liar yang menghancurkan bangsanya dengan menelan bulat – bulat propaganda yang jelas – jelas sedang mengkotak – kotakkan dirinya dengan saudara sebangsanya yang berbeda daerah, suku maupun agama. Dalam alam pikiran kelompok pemuda ini, mereka sedang membela kepentingan kelompoknya sehingga mereka mudah masuk menjadi pion dalam skema social engineering yang dirancang kelompok problem maker. Skema paling terbaru yang sedang dimainkan saat ini adalah propaganda pribumi dan non pribumi ditambah dengan bumbu manis “pribumi muslim” sehingga tidak hanya “saudara berketurunan asing” dan “saudara daerah asli” saling menyerang tetapi juga “saudara daerah asli yang berlainan agama”. Skema ini selalu mutakhir digunakan di Indonesia sejak zaman kolonial, yang dikenal dengan “Divide et Impera”. Bagi pemuda yang panjang akal tapi miskin nasionalisme, mereka akan memilih diam dan bersembunyi sambil menghitung hari penyelamatan harta dan kedudukan mereka, menghitung hari untuk lari menyelamatkan diri dan tinggal mengubah kewarganegaraan.

Begitu banyak polemik terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini, tak terhitung propaganda – propaganda yang dimainkan untuk melunturkan sumpah para pemuda untuk cinta satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Para problem maker sedang berusaha membuka paksa kunci pererat persatuan dan kesatuan Indonesia ini karena sekali luntur rasa kebersamaan dan harmoni maka akan sangat sulit untuk direkatkan kembali, sehingga menjadi sangat mudah untuk menguasai Indonesia. Oleh karenanya sangat dibutuhkan suatu pondasi berpikir yang kuat, mentalitas dan moralitas didalam diri para pemuda sebagai agen perubahan dan pengontrol perubahan. Peran pemuda sebagai ujung tombak peradaban senantiasa harus terus diasah serta dipersiapkan secara matang. Pemuda harus mampu bangkit mengkondisikan diri menjadi garda terdepan sebagai generasi yang melek intelektual dan keadaan sosial yang berkembang disekitarnya. Pemuda juga harus siap berdiri tegap menjadi generasi pembeda yang kuat mengemban amanat  dengan progress melampaui semangat para pendahulunya. Hingga pada akhirnya, dapat terpatri mental tank sebagai penguat pondasi berpikir mereka untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan jaya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password