breaking news New

Generasi Z dan Semangat Sumpah Pemuda

Alfred R. Januar Nabal, Sekjen Demisioner PMKRI Yogyakarta

Oleh: Alfred R. Januar Nabal

Kabarnusantara.net – Manusia dan sejarah merupakan dua hal yang saling berkaitan. Manusia lahir dalam rentang sejarah yang berbeda, namun saling mempengaruhi.

Mannheim dalam teorinya tentang generasi meyakini, manusia yang lahir dalam rentang waktu yang sama akan memiliki karakter yang paling kurang sama karena mereka melewati masa sosio-sejarah yang sama. Semakin jauh jarak antara satu generasi dengan generasi lain, perbedaan karakter akan semakin mencolok dan daya pengaruh satu sama lainnya akan semakin berkurang.

Sosio-sejarah Sumpah Pemuda
Sumpah pemuda, sebagai momentum bersejarah bangkitnya semangat nasionalisme dan patriotisme kaum muda Indonesia, lahir dari generasi sebelum perang dunia II (Mannheim menyebutnya sebagai generasi depresi). Dari perspektif teori generasi Mannheim, Sumpah Pemuda dipandang sebagai produk nilai dari manusia (baca: kaum muda) yang terlibat dalam rentang sejarah pada masa itu.

Sumpah pemuda merupakan kristalisasi karakter kaum muda Indonesia yang dipengaruhi oleh sosio-sejarah yang sama. Generasi yang merumuskan sumpah pemuda mengalami secara langsung situasi sosial penjajahan. Pengekangan atas hak-hak individu dan kelompok oleh Penjajah mendorong kaum muda untuk merumuskan nilai-nilai perjuangan. Karakter perlawanan dan perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan kelompok (baca: bangsa Indonesia) menjadi ciri khas manusia yang lahir di era Sumpah Pemuda.

Sebagai sebuah nilai, sumpah pemuda terlahir dari pola pikir dan karakteristik manusia yang dipengaruhi oleh situasi sosial pada masa itu. Nilai ini turun temurun terus diwariskan dari generasi ke generasi, melewati dekade demi dekade, akan tetapi sosio-sejarah yang melatarbelakangi kelahiran sumpah pemuda tidak terwariskan.

Karakteristik dan Partisipasi Publik Generasi Z

Hampir sembilan dekade sejak Sumpah Pemuda lahir, berbagai generasi terus mengisi rentang sejarah dengan pengalaman sosialnya masing-masing. Karakter-karakter manusia yang hadir dalam setiap generasinya pun berbeda satu dengan yang lainnya. Generasi yang paling terakhir muncul, yaitu generasi Z memiliki karakter yang sangat berbeda dengan generasi yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Generasi Z merupakan kelompok manusia yang lahir antara tahun 1995 – 2010. Generasi ini lahir pada saat globalisasi menjadi tajuk utama peradaban manusia. Globalisme mewacanakan budaya global yang mengabaikan sekat-sekat. Segala aspek kehidupan manusia diarahkan pada budaya global ini. Nasionalisme yang menjadi nilai substansial sebuah negara mendapatkan tantangan serius di era ini. Generasi Z menjadi subjek penting dimana globalisme dan nasionalisme berusaha merebut pengaruhnya.

Generasi Z lahir ketika Internet begitu masif menghiasi ruang sosial. Pola interaksi sosial generasi Z menggunakan internet sebagai instrumen yang menghubungkan antara satu dengan yang lainnya. Internet menjadi pusat segala informasi yang dibutuhkan generasi ini dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Atau pun, internet bisa menjadi faktor penentu gaya hidup generasi Z. Sehingga, generasi Z dikenal juga sebagai generasi Internet.

Media sosial menjadi instrumen utama generasi Z untuk terlibat dalam diskursus publik. Partisipasi generasi Z di ruang publik cenderung berbeda dari generasi sebelumnya. Jika generasi sebelumnya menjadikan organisasi sebagai instrumen kolektif untuk terlibat dalam wacana publik, generasi Z melalui media-media sosial melakukan aksinya secara personal.

Beberapa contoh: kampanye sosial melalui kitabisa.com bisa dilakukan secara personal, melakukan petisi online melalui change.org kepada pejabat publik, menulis banyak wacana melalui media-media online, membuat meme atas kejadian-kejadian tertentu, dan banyak hal lainnya.

Internalisasi Nilai

Telaah sosio-sejarah generasi sumpah Pemuda dan generasi Z dimaksudkan untuk mengidentifikasi beragam tantangan dalam upaya menjiwai dan mewarisi Sumpah Pemuda sebagai sebuah nilai. Nilai tidak terkekang hanya pada konteks sosio-sejarah tertentu dimana ia dirumuskan, melainkan melampaui batas-batas waktu dan sejarah yang ada.

Sumpah Pemuda tidak hanya sebagai produk karakter generasi tertentu yang berlaku sesaat, tetapi menjelma menjadi suatu nilai yang berlaku universal. Perspektif inilah yang menjadi landasan penting dalam melihat Sumpah Pemuda sebagai nilai yang mesti dijiwai pada masa generasi Z dengan segala dinamika sosial yang melingkupinya.
Secara normatif, Sumpah Pemuda memang harus dijiwai dan diwariskan di setiap generasinya.

Tetapi, sosio-sejarah yang berbeda merupakan tantangan riil dalam menginternalisasikan nilai-nilai sumpah pemuda. Setiap generasi dengan sejumlah tantangan pada masanya merupakan kenyataan masa lampau dan keniscayaan masa mendatang. Situasi sosial yang sedemikian dinamis pada akhirnya akan mereduksi nilai-nilai yang ada. Saat ini, nilai Sumpah Pemuda memasuki tahap tersebut.

Generasi Z dengan coraknya yang lebih individual melihat nasionalisme sebagai hal yang terlampau abstrak dan bahkan cenderung absurd. Pola pikir generasi Z lebih praktis, dinamis, dan tidak menyukai hal-hal yang rumit dan abstrak. Karakteristik generasi Z seperti ini bertentangan dengan nilai nasionalisme Sumpah Pemuda yang abstrak dan terkesan statis.

Internalisasi nilai Sumpah Pemuda pada setiap generasi tentu menjadi hal yang terus dilakukan. Warisan luhur ini tidak bisa hanya berhenti pada generasi sebelumnya. Pilar utama berdirinya suatu negara adalah rasa nasionalisme yang harus melekat pada setiap generasi. Nilai pada hakikatnya abstrak dan statis. Namun, internalisasi nilai pada setiap generasi haruslah praktis dan dinamis mengikuti corak sosio-sejarahnya masing-masing.

Semangat sumpah pemuda haruslah mampu diterjemahkan ke dalam karakter generasi yang sedang eksis. Generasi Z sebagai generasi masa depan Indonesia perlu memiliki bekal nilai nasionalisme.

Dengan demikian, partisipasi publik generasi Z melalui media sosial tidak semata berdasarkan preferensi personal yang pragmatis, melainkan dikemas secara ideologis dalam bingkai semangat nasionalisme.

Ketika internet menjadi instrumen generasi Z untuk terlibat dalam diskursus publik, instrumen yang sama pula dapat digunakan dalam menginternalisasikan nilai sumpah pemuda pada generasi ini. Tentu dengan cara yang praktis dan dinamis.

Penulis Adalah Sekretaris Jendral Demisioner PMKRI Cabang Yogyakarta Santo Thomas Aquinas

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password