breaking news New

Kampanye dan Psikologi Massa


Oleh : Jimmy Y. Hyronimus*


Memasuki medio tahun 2017, cita rasa politik di NTT kian terasa. Partai-partai politik mulai bergerak secara massif untuk berkonsolidasi. Ada juga yang sudah mulai menjaring bakal calon yang akan diikutsertakan dalam Pilgub di tahun 2018 nanti. Geliat politik tersebut juga nampak dalam aktivitas-aktivitas blusukan para bakal calon gubernur NTT pada pilgub mendatang. Banyak hal yang dilakukan oleh para bakal calon gubernur demi meningkatkan elektabilitasnya masing-masing. Ada yang memulai dengan pendekatan terhadap kaum muda melalui perlombaan-perlombaan untuk kaum muda, ada juga yang mulai bersosialisasi dengan masyarakat akademik di kampus-kampus, serta ada pula yang mencoba membuat sebuah “gembar-gembor’’ upaya strategis menuntaskan permasalahan yang ada di NTT. Praktisnya segala usaha yang dilakukan bermotif untuk menarik dukungan dari parpol-parpol dan juga memobilisasi pilihan massa.

Memang menarik jika membahas tentang politik terutama menjelang pemilihan umum. Di sana kita akan menemukan banyak trik dan akting layaknya para aktor film. Yang pasti semua itu dilakukan dengan suatu tujuan yakni menjadi pemenang. Bukannya hendak mengeneralisasi, tetapi ada satu hal yang menarik untuk dicermati dalam setiap even pemilihan umum yakni hadirnya para politisi demagog. Dengan topeng pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat orang-orang ini berusaha membelotkan hati nurani rakyat. Tanpa basa-basi janji-janji manispun dikumandangkan dengan sebuah intensi agar pilihan rakyat dapat dipikat.

Momen kampanye adalah saat yang tepat untuk menjalankan taktik bulus tersebut. Masa kampanye yang semula bertujuan sebagai ajang adu gagasan bergeser fungsinya sebagai ajang jual beli harga diri. Mengkambinghitamkan orang lain lalu mengangkat diri sendiri ke tempat yang derajadnya lebih sempurnya adalah pemandangan biasa. Ditambah lagi masa kampanye semakin raib fungsinya tatkala janji-janji manis bertebaran di mana-mana. Janji-janji yang secara epistemis disadari oleh para pengobral janji tidak dapat direalisasikan, entah terpaksa atau tidak terpaksa dikumandangkan. Semuanya dengan satu target, menjadi pemenang. Tapi pertanyaannya apakah politik hanya soal kalah dan menang?

Peristiwa tersebut di atas kiranya tidak terlepas dari problematika psikologi massa. Hemat penulis ada dua subjek yang mesti dikaji, pertama, para calon dalam pemilu. Menarik untuk mencermati psikologi massa dari para calon Gubernur kita nanti. Fenomena yang layak untuk dicermati adalah terkait motif disegani atau disenangi. Meminjam istilah Heidegger, yang terjadi di sana adalah impersonalitas. Impersonalitas merupakan sebuah eksistensi diri yang hanya berisi tentang harapan-harapan sosial; diri yang tidak senyatanya, namun yang seharusnya. Di sana yang terjadi adalah sebuah aktualisasi diri yang dilandaskan pada motif-motif disenangi oleh orang lain. Ada sebuah distorsi dari orisinalitas diri. Senada dengan itu Ernest Schachtel menjelaskan sebuah konsep self emptyness yang dinyatakannya sebagai diri yang dikendalikan oleh orang lain. Seseorang hanya melakukan sesuatu atas dasar motif untuk “diamini” oleh yang lain.

Kiranya hal demikianlah yang dialami para kompetitor dalam sebuah pemilihan umum. Mereka tidak segan-segan melucutkan orisinalitas dirinya, demi memobilisasi suara massa. Harga martabat menjadi murah oleh sebuah kertas suara. Bisa jadi ini merupakan pengejawantahan dari slogan “politik itu kotor”. Pertanyaannya adalah politik itu memang kotor atau politik itu dikotori oleh para politisi?

Kedua, massa pendukung. Kembali pada konteks kampanye, kehadiran massa di sini menjadi kunci. Akting para politisi demagog justru baru terealisasi dengan hadirnya “manusia massa”. Mengutip Budi Hardiman, kata massa di sini mempunya arti elementer, yaitu sesuatu yang terkait dengan kuantitas, mengacu pada jumlah yang sangat besar. Lebih lanjud Budi Hardiman memahami massa sebagai kumpulan manusia yang malampaui batas-batas intitusional, yaitu kumpulan manusia yang secara umum bertindak dan melabrak norma-norma sosial. Artinya di sini “manusia massa” adalah manusia yang tenggelam dalam lautan kebersamaan, cenderung irasional karena ia tidak memaksimalkan potensi rasionalitas yang dimilikinya. Hal demikian pula yang terjadi pada pendukung dari individu tertentu pada masa kampanye. Perilaku massa di sini akan cenderung kehilangan kepribadiannya yang personal, rasional dan sadar. Mereka terhanyut di dalam kebersamaan yang secara tak sadar malah membangkitkan sikap irasionalitas mereka. Preferensi pemimpin yang mumpuni tidak dilihat dari rekam jejak maupun kapabilitas sang calon melainkan hanya pada sisi emosional belaka. Semuanya semakin kuat dengan trik demagogik para demagog yang hadir secara laten dalam janji-janji manis semata maupun “black campaign”.

Dalam konteks NTT, pemilihan umum kita akan menuai buah yang buruk manakala psikologi masa para calon ini melebur bersama dengan kehadiran massa kampanye. Seperti apakah NTT kita ini yang dominan “tertinggal”, bila pemimpin kita hanya merupakan hasil kesepakatan emosional belaka?

Kita semua tentunya tidak mengharapkan peristiwa tersebut terjadi pada pesta demokrasi mendatang. Tahun 2018 mendatang akan menjadi momen ujian yang determinan terhadap kesungguhan komitmen kita untuk menjadi pemilih yang rasional dan cerdas, yang tidak mudah terprovokasi atau termobilisasi oleh hasutan-hasutan yang tidak sehat. Pilihan kita akan menjadi penentu masa depan daerah kita ke depan.

Untuk itu entah sebagai pemilih maupun yang akan dipilih harus memiliki sebuah keprihatinan yang sama terhadap kemajuan NTT. Kiranya ada beberapa catatan yang patut diperhatikan. Pertama, catatan khusus bagi para calon pemimpin. Rakyat NTT tentunya tidak mengharapkan pemimpin yang hanya pandai mengobral janji dan pandai memecah belah masyarakat demi kepentingan pribadi. Kami sebagai rakyat sudah bosan melihat pemimpin yang seperti demikian. Jangan menjadikan factor “manusia massa” sebagai momen untuk mempropagandakan penipuan. Masyarakat NTT sudah cukup susah dengan situasi yang ada, jangan lagi diperparah oleh penipuan-penipuan berkedok demi rakyat. Untuk itu, diharapkan sedini mungkin para calon Gubernur kelak, menyusun rencana-rencana strategis yang rasional dan dapat direalisasiakan. Bukan rencana-rencana “sulap” yang dibuat hanya demi menghasut rakyat semata. Sebagai Putra NTT, kalian adalah tonggak bagi masa depan NTT yang cerah.

Kedua, catatan bagi sesama masyarakat NTT. Sebuah harapan agar kita tidak terlelap dalam lautan emosional belaka. Kita harus membangkitkan sikap kritis di dalam diri kita, karena satu kertas suara dari kita adalah nasib NTT dalam kurun waktu 5 tahun. Kita harus berpikir kritis-refelktif. Artinya kita harus mampu berpikir secara jernih dan menelaah setiap keputusan yang akan kita berikan. Pertimbangan-pertimbangan rasional harus diletakkan pada garda terdepan diri kita dalam memilih calon pemimpin. Hanya dengan demikian maka kita dapat “membentengi” diri dari psikologi massa yang menghanyutkan itu.

Pada akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat pesta demokrasi yang sebentar lagi akan diadakan. Semoga pilihan kita akan menghasilkan seorang pemimpin yang dapat membawa NTT ke tingkat yang lebih baik lagi.

*Mahasiswa STFK Ledalero

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password