breaking news New

Dijerat Kemiskinan, Ibu Ini Sukses Nafkahi 3 Orang Anak

RUTENG, Kabarnusantara.net – Hidup penuh keterbatasan tak membuat Ibu ini patah arang dalam menafkahi 3 orang anaknya.

Meski dijerat kemiskinan Dia tetap ingin eksis untuk menghidupi keluarganya terutama dalam hal menyekolahkan 3 orang anak.

Suasana di Rumah Reot itu tampak kurang stabil. Ibu Maria Nasarita kelahiran Karot Ruteng 8 Januari 1961 dan berdominsili di Kampung Nanga Banda Kecamatan Reok tampak berkaca – kaca dan tatapan matanya tergambar beban hidup yang begitu berat.

Dengan penuh ramah Ibu Ice sapaan akrab dari Pemilik nama lengkap Maria Nasarita ini menemui Kabarnusantara.net, Senin (6/11/2017), Pukul 18.00 Wita. Kepada Kabarnusantara.net Dia menyampaikan kisahnya yang diceritakan secara singkat.

Pada usia yang tak lagi muda Dia merupakan salah satu Warga Miskin yang mempunyai semangat baja dalam menafkahi 3 orang anak.

Suka menolong dan pantang menyerah untuk menyambung hidupnya, Dia hanya bekerja dengan orang jika dibutuhkan.

“Saya tidak punya apa – apa Nak. Saya hanya bekerja dengan orang untuk menafkahi 3 orang anak” ujarnya.

Sejak Suaminya sakit – sakitan, Ibu Ice sudah terbiasa menjadi Pekerja keras sampai Suaminya meninggal pada tahun 2009 silam karena terserang penyakit lever dan ginjal.

Mau tidak mau, suka tidak suka Ibu Ice dituntut keadaan menjadi tulang punggung keluarga. Dia harus menafkahi 3 orang anaknya yang ditinggal Ayah tercinta tanpa sebuah peninggalan harta.

Karena kebutuhan mendesak untuk membiayai Sekolah Anak Sulungnya ke tingkat Perguruan Tinggi Dia terpaksa menjual Sepeda Motor milik Suaminya yang menjadi satu – satunya harta bergerak yang ditinggalkan.

Di tengah kesibukan merawat Sang Suami yang lagi sakit, Ibu Ice masih sempat mengingat masa depan anaknya.

“Puji Tuhan saat ini Anak Sulung Saya sudah bekerja sehingga untuk sementara berkuranglah beban Saya” ujarnya lagi.

Namun Ibu Ice tidak pernah menganggap semua itu sebagai beban hidup tetapi sebuah amanah yang harus dijalankan. Dia menjalaninya dengan senyum meski menyimpan banyak beban hidup di balik senyumnya itu. Saat ini Dia tinggal bersama 2 orang Puteranya, sedangkan 1 orang Puterinya masih melanjutkan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Kupang yang kebutuhan kuliahnya dibiayai oleh Adik Kandungnya sendiri.

Dalam menafkahi anaknya, Ibu Ice sesekali berhenti di sebuah Pepohonan untuk menghilangkan rasa penatnya karena seharian harus berjalan jauh mencari kerja di orang, yakni bekerja di Kebun, bekerja sebagai Pembantu di sebuah Perusahan, bekerja sebagai tukang nyuci, dan lain – lain. Hasil kerjanya juga tidak seberapa buat mencukupi kehidupan sehari – hari.

Bahkan ketika jatuh sakit Ibu Ice terpaksa berobat sendiri tanpa bantuan orang dalam hal keuangan. Itupun jika Anak Sulungnya juga ikut membantu.

Dia pun mengaku bahwa dengan usianya yang semakin tua kondisi tubuhnya pun ikut menua. Dia tidak mampu lagi untuk bekerja siang dan malam seperti dulu karena tubuhnya sudah mulai terkuras energi.

Saat ditanya terkait bantuan yang pernah diterimanya dari Pemerintah Setempat, Ibu Ice dengan polos mengatakan tidak pernah.

“Saya hanya dapat Rastra, itupun harus masukin uang lagi terpaksa Saya pun harus mencari kerja lagi untuk mendapatkan uang” ungkapnya.

Anak Sulung dari Ibu Ice ini berprofesi sebagai seorang Wartawan di salah satu Media Online. Namun dari Pekerjaan anaknya Ibu Ice belum menganggap itu sebagai penghasilan tetap.

“Jujur Nak Saya sudah tidak mampu lagi bekerja. Tubuh Saya sudah lemah berhadapan dengan Pekerjaan yang terlalu berat sambil memikul tanggung jawab ini” tutupnya dengan mata berkaca – kaca pedih. (Berto Davids/KbN).

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password