breaking news New

Mencintai dan Membenci Pemimpin

Ilustrasi cinta dan benci.

Tri mengibaratkan cinta dan benci sebagai gas dan rem mobil. Mencintai diibaratkan dengan gas sedangkan membenci diibaratkan dengan rem.

Oleh : Jimmy Y. Hyronimus*


Kata mencintai dan membenci  adalah dua term yang saling berlawanan. Mencintai adalah sebuah aktivitas yang mengarah pada sebuah konsep positif terhadap sesuatu. Sedangkan membenci sendiri merupakan sebuah sikap yang akan menghantar orang pada konsep negatif tentang sesuatu. Dengan mencintai entah itu pekerjaan, pasangan, benda-benda dan sebagainya akan menimbulkan suatu gairah positif  terhadap hal yang kita cintai tersebut. Ambil misal ketika kita mencintai seseorang, maka apapun yang dikatakan orang tersebut dianggap baik, karena ada konsep positif dalam diri kita tentang orang tersebut.

Berbanding terbalik dengan mencintai, sikap membenci cenderung mendatangkan paradigma negatif tentang sesuatu. Sikap membenci akan menjauhkan seseorang dari obyek yang dicintai. Misalnya ketika kita membenci  seseorang, maka hampir pasti setiap kata atau tindakan yang dilakukan orang tersebut dianggap tidak baik.

Akan tetapi apakah kita sadar bahwa sejatinya dibutuhkan suatu keseimbangan akan sikap mencintai dan sikap membenci? Taufik Pasiak, seorang ahli neurosains mengatakan bahwa cinta menghasilkan kekuatan, sedangkan benci menghasilkan ketidakberdayaan. Akan tetapi kendati mencintai identik dengan konsep positif dan membenci identik dengan konsep negatif, bukan berarti sikap mencintai dan membenci tidak dapat berjalan secara bersama. Tri Swasono Hadi seorang psikolog klinis menjelaskan bahwa cinta dibutuhkan untuk mencapai tujuan positif. Adapun benci diperlukan untuk menghindari hal-hal negatif yang bisa menghalangi pencapaian tujuan. Meski fungsi keduanya konfrontatif, cinta dan benci saling dibutuhkan dan melengkapi. Sikap mencintai yang berlebihan akan menghipnotis kita sehingga terjebak dalam lingkaran nihil kekritisan. Kewaspadaan menjadi kendor. Segala yang dicinta dianggap sebagai sempurna tanpa celah. Begitu pula dengan sikap benci yang berlebihan akan menimbulkan stres, menguras energi, hingga menumpulkan nalar. Segala yang diberhadapkan dengan kita semuanya tidak baik. Yang ada hanyalah keburukan.

Tri mengibaratkan cinta dan benci sebagai gas dan rem mobil. Mencintai diibaratkan dengan gas sedangkan membenci diibaratkan dengan rem. Ketika seseorang terlalu menekan gas secara berlebihan dibutuhkan rem agar mengendalikan laju mobil. Bila tidak besar kemungkinan seseorang akan mengalami kecelakaan. Demikian pula dengan mencintai dan membenci. Ketika seseorang memiliki sikap mencintai yang berlebihan terhadap sebuah obyek, maka akan muncul sebuah sikap nihil kekritisan. Yang ada dalam benak kita bahwa hal dicintai tersebut tidak memiliki celah sedikitpun. Begitu pula dengan sikap membenci yang berlebihan akan menutup mata kita dari sisi positif obyek yang dibenci. Pokoknya tidak ada sedikitpun sisi positif dari obyek yang dibenci.

Guna mencapai keseimbangan, harus ada keseimbangan di antara keduanya. Di saat cinta menutup ruang kritik, maka perasaan benci akan membuka kembali ruang tersebut. Demikian halnya ketika perasaan benci telah menutup ruang positif dari obyek yang dibenci, rasa cinta dapat menyadarkan kita akan kekeliruan tersebut.

Mencintai dan Membenci Pemimpin

Tahun depan adalah saat bagi masyarkat NTT memilih nakhoda mereka yang baru. Pesta demokrasi akbar tersebut sebentar lagi akan dihelat. Adalah sebuah fakta yang sulit untuk dielakkan bahwa selama masa kampanye nanti hingga masa pemilihan akan ada polarisasi massa. Terjadi pengkotak-kotakan di antara massa pemilih. Biasanya pendukung calon tertentu akan mati-matian mendukung paslon pilihannya dan sedapat mungkin mengabaikan bahkan membenci paslon lain. Hal ini akan semakin buruk ketika massa dihasut kepentingan tertentu untuk menyerang pasangan lain. Pada intinya kata-kata paslon yang didukung ibarat suara Tuhan dan mutlak benar. Begitu pun sebaliknya kata-kata paslon yang tidak didukung tidak layak untuk diikuti.

Perasaan cinta dan benci terhadap calon tertentu ini kemudian terus berlarut hingga terpilihnya paslon secara definitif sebagai pemimpin. Massa yang paslonnya kalah cenderung akan membenci paslon terpilih. Begitu pula massa pendukung paslon yang menang, biasanya akan terus mendukung dan mengelu-elukan paslon pilihan mereka tersebut.  Terhadap situasi ini, kita sejatinya telah diberhadapkan dengan sikap mencintai dan membenci yang berlebihan.

Perasaan benci yang berlebihan membuat orang memandang bahwa apapun program yang dijalankan paslon terpilih kelak adalah sesuatu yang tidak berguna. Bagi mereka tidak ada sedikitpun aspek positif dalam program tersebut. Akibatnya pemerintahan akan berjalan pincang, karena tidak didukung masyarakat. Demikian halnya dengan massa yang mencintai paslon terpilih secara berlebihan. Karena rasa cinta yang berlebihan, masyarakat akan kehilangan daya kritis di dalam dirinya.

Dampaknya jelas pemerintah dapat menjadi pemerintahan yang sewenang-wenang. Belum lagi bila ada “suplai gizi” dari orang yang didukung. Tentunya hal ini adalah sesuatu yang kurang baik untuk terus dikembangkan, mengingat masyarakat memiliki fungsi kontrol terhadap jalannya suatu pemerintahan.
Untuk itu, guna mengatasi hal tersebut diperlukan sebuah keseimbangan antara cinta dan benci. Masyarakat diharapkan harus dapat move on dari euforia kampanye yang telah berakhir. Bagi massa yang paslonnya menang, diharapkan untuk tidak bersikap tak kritis. Diperlukan kekritisan untuk menjalankan roda pemerintahan. Begitu pula bagi massa yang paslonnya kalah, diharapkan tidak boleh terlalu apatis dan membenci pemerintahan yang sah. Program-program tidak bisa dijalankan bila tidak didukung oleh setiap elemen masyarkat.

Di akhir tulisan ini, penulis ingin sampaikan bahwa kita tidak boleh terlarut dalam rasa cinta dan benci yang berlebihan. Kita semua harus keluar dari kungkungan emosional kita.  Kita harus mampu membangkitkan daya kritis dalam diri. Sehingga dengan demikian pemerintahan yang terpilih kelak dapat menjalankan pemerintahan sebaik mungkin demi kesejahteraan bersama. Salam!

*Mahasiswa STFK Ledalero

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password