breaking news New

Petrus Selestinus : Sikap Pengacara Novanto Seperti Bola Liar

Pengacara Setya Novanto Fredrick Yunadi.

Jakarta – Tidak ada pilihan sikap yang tepat untuk menilai sikap Fredrick Yanuadi, kecuali “sangat menyesalkan” cara-cara dan argumentasi yang konyol yang dipilih Penasehat Hukum Setya Novanto, yaitu Fredrick Yunani.

Hal itu disampaikan oleh Koordinator TPDI Petrus Selestinus kepada kabarnusantara.net, Senin (13/11) di Jakarta.

Menurut Petrus, Sikap pengacara Setya Novanto itu menyerupai bola liar yang lari ke sana ke mari tanpa arah yang jelas.

“Sebagai seorang Advokat yang mejadi Kuasa Hukum Setya Novanto, seharusnya Fredrick Yunadi tahu bagaimana tata cara menunda atau menolak pemeriksaan Penegak Hukum, Cq. KPK ketika telah memanggil sesorang untuk diperiksa sebagi saksi atau tersangka,” kata Petrus.

Ia menjelaskan, etikanya itu harus ada, caranya mudah, cukup dengan surat penundaan atau datang langsung ke KPK dan melakukan koordinasi untuk menunda atau menyampaikan keberatan.

“Fredrick Yunadi seakan-akan tidak paham atau memang tidak mau paham bahwa menjadi Saksi dalam perkara korupsi, adalah merupkan salah satu dari tujuh kewajiban seorang Penyelenggara Negara menurut UU No. 28 Tahun 1999,” jelas Advokat Peradi ini.

Karena itu, lanjutnya, ketika seseorang Penyelenggara Negara dipanggil untuk memberi keterangan sebagai Saksi dalam perkara KKN, maka hal itu menjadi Kewajiban yang asasi bagi setiap Penyelenggra Negara apapun jabatan dan pangkatnya, sesuai dengan amanat UU No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN.

Dikatakannya, langkah Fredrick Yunadi menyarankan SETYA NOVANTO untuk tidak memenuhi panggilan KPK guna memeriksa Setya Novanto sebagai Saksi pada tanggal 13 November 2017 sangat berlebihan.

Apalagi, hal itu disampaikan Fredrick secara terbuka ke media bahwa dirinya telah meminta Setya Novanto untuk tidak memenuhi panggilan KPK karena tidak ada ijin Presiden dan Melanggar UUD 1945, serta telah meminta perlindungan kepada Presiden Jokowi, TNI dan Polri untuk melindungi Setya Novanto karena KPK melakukan tindakan memecah belah bangsaa.

“Ini jelas-jelas mendewa-dewakan SETYA NOVANTO sebagai sosok yang memiliki kharisma pemersatu bangsa yang jika dipanggil KPK maka bangsa ini akan terpecah-belah

Menurut Petrus, tindakan pengacara Setya Novanto ini adalah sikap ngawur dan sungguh-sungguh di luar konteks pokok perkara yaitu pertanggungjawaban pidana yang dimintakan KPK terhadap Setya Novanto yang wajib dihadapi secara ksatria, wajib dipenuhi sebagai sebuah kewajiban asasi sebagai Penyelenggara Negara tanpa kecuali.

“Fredrick Yunadi seharusnya membangun komunikasi secara etik dan santun dengan KPK agar suasananya menjadi kondusif, bukan dengan cara-cara pengecut dan membabi-buta hingga membawa-bawa Presiden Jokowi dalam tindak pidana merintangi pemeriksaan penyidikan oleh KPK. Fredrick Yunadi tanpa tedeng aling-aling hendak menyeret banyak Institusi Negara untuk melindungi Setya Novanto, Presiden, TNI, POLRI dan bahkan perstuan bangsapun dipertaruhkan, eman siapa dia SETYA NOVANTO itu,” pungkasnya.

Fredrick Yunadi, kata Petrus, seperti telah kehilangan arah, disorientasi, karena ketika berada dalam posisi merintangi tugas KPK yang dikualifikasi sebagai kejahatan korupsi, lantas tidak malu-malu menarik Presiden Jokowi, TNI dan Polri untuk memberikan perlindungan hukum kepada Setya Novanto.

“Ini jelas langkah-langkah destruktif yang tidak hanya telah menjerumuskan Setya Novanto, tetapi juga menjerumuskan dirinya  dan juga profesinya sebagai Advokat, karena sikap dan perilakunya menolak panggilan KPK jelas dapat dikualifikasi sebagai kejahatan korupsi dan merendahkan profesi Advokat karena melanggar sumpah profesi Advokat yang dalam menjalankan profesinya selalu menjunjung tinggi hukum,” tutup pengacara senior ini.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password