Pengamat : Reformasi Indonesia Bukan Gagal Namun Dilukai

Azmi Syahputra, Dosen Hukum Pidana Universitas Bung Karno.

JAKARTA, Kastra.co – Usia Reformasi Indonesia sudah menginjak 20 tahun.  Reformasi sebagai tonggak sejarah perjalanan bangsa telah dimulai Mei 1998 -Mei 2018.

Azmi Syahputra, Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia( Alpha) menilai perjuangan reformasi di Indonesia dilukai.

“Reformasi di Indonesia bukan gagal namun reformasi bangsa ini dilukai. Harus diakui dari enam cita reformasi saat itu, ada hal-hal yang tercapai dan berubah. Dari yang sebelumnya tidak ada sekarang menjadi ada, termasuk kemerdekaan menyampaikan pendapat saat ini? suka atau tidak suka adalah buah dari reformasi,” kata Azmi.

Menurut Azmi, semangat reformasi bangsa dilukai melalui oknum penyelenggara negara yang tidak menjalanakan kewajibannya hanya merebut hak bahkan mengambil hak orang lain.

“Inilah yang mengakibatkan sampai saat ini benturan kepentingan ekonomi dan kepentingan politik dalam memperebutkan kekuasaan, basis sumber energi, sumber daya alam dan mènyangkut produksi yang dijadikan aset bisnis atas nama oknum penyelenggara negara” dan atau kekayaan bangsa ini dijadikan “bancakan” bagi oknum penyelenggara negara,” ujarnya.

Ia menambahkan, benturan dan gesekan inilah yang akhirnya membuat reformasi terluka akibat saling rebut dan ributnya anak-anak bangsa yang menjadi oknum penyelenggara negara. Mereka lari dari tujuan bangsa ini sebagaimana maksud alinea ke 4 pembukaan UUD 45.

“Ini ditandai dengan masih maraknya kegaduhan politik, politik uang, tingginya pejabat yang OTT dan reformasi birokrasi yang masih belum maksimal dalam pelaksanaannya dan masih ada kelompok masyarakat yang melakukan protes atas hak-hak yang semestinya didapatkannya,” kata Dosen Pidana Universitas Bung Karno ini.

Di sisi lain, kata dia, tongkat estafet regenerasi reformasi belum siap. “Sayangnya oknum penyelenggara negara ini adalah orang-orang yang berkuasa, punya kewenangan sehingga begitu orang-orang ini tidak menjalankan amanah sumpah jabatannya sangat menciderai rasa keadilan masyarakat, maka semakin bertambah lukalah perjalanan reformasi tersebut yang akhirnya semakin tidak sembuh walaupun sudah 20 Tahun”.

Menurut Azmi, agar luka reformasi ini dapat sembuh maka harus kembali ke filosofi grondslag, Pancasila harus menjadi auto regulatornya. “Ini yang hilang, kita sibuk mencari studi banding keluar negeri padahal kunci solusi bangsa ini ada sudah hanya kita perlu kembali pada Pancasila guna membangun kesadaran kembali sesuai yang dikehendaki pendiri bangsa, karenanya perlu gerakan reformasi yang terus hidup, mahasiswa dan civil society harus jadi lokomotifnya guna mengontrol kinerja fungsi pemerintah,” terangnya. (CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here